Selasa, 30 Desember 2014

2015 Wish List

2015 tinggal menunggu hitungan jam. 2014 akan segera berlalu, kalender pun tinggal menyisakan satu lembar. Berbagai macam rencana perayaan pergantian tahun baru pun telah tersusun. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya aku menyusun rencana untuk tahun depan. Tahun ini merupakan tahun yang ku jadikan salah satu milestone, mari aku ulas sedikit. Yang paling hingar bingar ialah Sidang Skripsi di bulan Januari, Wisuda bulan Maret. Seminggu kemudian kerja di salah satu bagian pemerintahan kota terbesar kedua di negeri ini. Di luar ekspektasi memang, namun semuanya terjadi begitu cepat dan bisa dibilang tepat. Syukur sudah pasti ku panjatkan dan wajib hukumnya. Hal yang paling menggembirakan yang lain ialah bak mendapat durian runtuh kemudian bisa terbang cuss ke Korea. Tanpa mimpi dan di waktu yang cepat pun tepat. Jadi bila dirangkum kaleidoskop tahun 2014 ini begitu penuh dengan kejutan. Pun demikian sebagai manusia yang lemah maafkan aku masih harus mengeluh. Yang paling membuatku penasaran ialah Kapan aku bisa berkarir di Jakarta? Silly banget yak, hahahahaha. Ya itu PR terbesarku.

Baiklah berikut wish list ku di tahun depan:

Skala prioritas:

- Pasang Behel

Jadi bukan rahasia lagi kalo aku punya tooth gap. Udah lama pengen banget masang, tapi ya karena masang kawat gigi gak semurah masang kawat anthena ya harus nabung dulu. Kemudian alasan lain ialah takut dan lebih ke malu sih kalo ke dokter gigi. Gigi ku ini bukan tumpuk-tumpuk tapi malah jarak antar spasi nya yang kelebihan. Mungkin make double space bukan 1,5 line. Semoga saja sebelum puasaan sudah bisa pasang. Karena bisa membayangkan betapa sakitnya pake kawat, dan kenapa sebelum puasa karena biar jadwal makan gak terganggu. Pengalaman cerita dari teman dan ini nyata bahwa setiap yang pasang behel satu sampe dua bulan kemudian bobot badannya turun drastis. Gegara behel!

- Liburan ke Malaysia or Singapore

Ini sih aslinya juga butuh tabungan yang lebih ya, tapi sudah ku tanamkan dalam-dalam setidaknya setaun sekali boleh lah mencoba suasana baru. Negara baru, mumpung passport belum hangus juga. Keliling ASEAN dulu lah minimal. Kan mau ada AEC (ASEAN Economic Community). Jadi ya sapa tau dapet rejeki lebih. *crossfinger

Investasi Jangka Panjang:

- Lebih Rajin Sholat, 3 S (Sabar, senyum dan semangat), Bisa Ngasih Lebih ke Orangtua.

Sudah sadar umur semakin bertambah, kalo yang diatas urusan duniawi marilah kita pikirkan urusan pasca dunia. Sholat tiang agama. Ya memang aku sendiri bukan sosok alim yang sampe item jidatnya. Tapi setidaknya memperbaiki sikap dan mendekatkan diri pada sang pencipta juga wajib toh. Biar semakin tau apa makna dan guna manusia diciptakan di dunia.

Skala nothing to lose:

-Punya Pacar

Nah kalo yang bagian ini iseng-iseng aja. Karena kapan hari si Ayah menanyakan siapa pacar anaknya ini. well, padahal aku bukan tipe anak yang punya pacar cuma diajak menye-menye. Tapi kan udah saatnya mempersiapkan ke jenjang yang lebih serius. Jadi ya harus dipersiapkan juga lah sedini mungkin. Dalam artian seleksi pendamping hidup yang memang sehati bukan hanya menuruti birahi.

-Dapet Kerja Penempatan di Luar Surabaya

Ini sih udah classic. Udah dri resolusi taun kemaren tapi belum kesampaian. Tapi tentu dalam hati ini sangat pengen punya pengalaman baru, teman baru, dan juga wilayah baru yang ingin di ekspansi.

Thats all. Wish nothing but the best, 2015 please make more surprise for me.

Kamis, 18 Desember 2014

Kapal Yang Berlabuh

Halo blog. Rasanya lumayan lama gak nulis-nulis disini. Padahal banyak sekali kejadian yang sudah ku alami. Seperti hari ini. Aku memberanikan diri untuk mengundurkan diri dari kantor yang dulu. Setelah melewati pergolakan batin yang berhari-hari. Semoga keputusan ku tidak gegabah. Pun kalau terjadi sesuatu aku sudah siap menanggung semuanya. Insyaallah. Bismillah, terhitung sejak Januari tahun depan aku ada di kantor baru, jenis pekerjaan baru, dan bertemu dengan rekan kerja baru. harus memulai semua dari nol. Harus kembali menjadi gelas kosong untuk ilmu dan pengalaman yang akan ku songsong. Aku membanting arah tujuan karir ke bidang swasta. Mungkin aku sudah lelah dengan jelimetnya birokrasi pemerintah. Yang paling mungkin aku sudah cukup menahan kesendirian mengelola sebuah rumah yang punya tujuan mulia dalam hal pembelajaran bahasa.

Dengan penuh derai air mata aku mengucapkan perpisahan pada para ibu-ibu dan bapak-bapak di bagian kerjasama. Aku sudah tau bahwa ini berat, aku yakin aku akan terisak mengenang semua kenangan dan kebaikan mereka. tapi keputusan sudah terambil. Aku menyerah oleh rasa lelah. Aku angkat tangan pada keadaan. Aku merasa pekerjaan yang sebelumnya memberiku dua rumah. Rumah yang satu yang dibangun dan dihiasi oleh keindahan kebersamaan dan canda tawa. Rumah kedua ialah sebuah rumah baru yang harus dibangun untuk kepentingan masyarakat banyak, msih sangat terbatas sumber dayanya dan saya sebagai arsitek harus merangkap dua tiga jobdesk untuk dapat menegakkan puing-puing rumah ini. Saya mengaku belum bisa membangun rumah kedua ini seperti yang diinginkan, dengan segala keterbatasan saya membutuhkan banyak bala bantuan. Tapi saya rasa sembilan bulan ini dengan segala cara saya sudah berusaha dengan semaksimal mungkin untuk membawa rumah ini bisa menjadi salah satu prestasi saya. Tapi saya menyerah dan baik batin maupun raga saya sudah merasa cukup untuk ini semua.

Tempat yang akan aku tuju berikutnya merupakan sebuah tempat baru. Bergerak dibidang jasa pelayaran. Benar, pelayaran dan kapal. Mungkin dua hal tersebut yang membuat saya tertarik terjun di dunia baru. Apalagi lingkupnya sudah export import. Ada apa dengan kapal? bukan Ada apa dengan Cinta? atau memang "cinta" saya terkait dengan "kapal". Terlalu silly untuk  menghubungkan semua itu. tapi kalaupun sekian persennya benar, berarti saya telah ingkar pada moto di LINE saya sendiri tentang "Chase dream, not People". Aku justru menyerah pada "Cinta" dan mengabaikan "cita-cita". Kalau boleh mengutip lagu Sherina Telah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku (Simfoni Hitam). 

Sudah banyak saya mendengarkan pertanyaan kenapa mau pindah. Banyak yang menyesalkan pula keputusan saya. namun selagi saya masih muda, saya ingin menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Saya ingin banyak belajar lagi dan terus belajar. Bersifat untuk lebih dewasa dan bijak dalam mengambil keputusan. Dan yang paling penting ialah apa yang sebenarnya ingin kejar di dunia ini. Karena dunia begitu luas, saya sudah keluar dari zona nyaman saya. Semoga bermanfaat dan doakan saya agar selalu sehat dan giat. Aku mengharapkan mendapatkan banyak pengalaman terutama dalam hal lingkungan dan etos kerja. Aku sudah sangat penasaran untuk membandingkan perbedaan di swasta yang terkenal profesional dengan di birokrasi yang terikat oleh hirarki.

Jumat, 21 November 2014

Loe Gue END

The day is finally come, the day to show what I feel. The day to decide where will we go. The day that finally I think enough is enough. November 19 2014, the remarkable day for me to end of all the story. To close the memoir with good memory. No look back, just go ahead. Thank you for the last eight years. Good luck for you!

Senin, 17 November 2014

Car Freak Day

Hello it's been a while ya. This article is only what I thought about "car free day" lately. Sorry to say about the provocative title, but just ignore it and close this blog if you feel bothered with it.

OK, actually I'm kinda person that usually comes to car free day every week. I usually going for bycicling with friends. Or maybe running with Indorunners Surabaya. But It's already three months I think I'm not joining this weekly events. I'm not very interesting with this kinda of events anymore. It more crowded, a lot of people coming and much of them are seller! I can say you would find a lot of various thing that sold over there. Fro beverages to t-shirt, from house furniture to pet's food. And omg that so uncomfortable for me. The main purpose of this idea actually to reduce the air pollution from hight concentration of motorcycle that used in our traffic. But lately, the person see more opportunity for their own business. It's kinda creative idea and valued their level of enterpreneurship skill. But I think they should considered about how big area it is and it should be more open space.

I do remember the accident from one of the biggest Ice Cream company in this country who want to share the Ice Cream FREE. But like it showed on the TV screen, the ignorance of the people made the plants and flower around Taman Bungkul was damage. They step on it! That make Mayor Tri Rismaharini very angry because Bungkul Park is one of the famous and best park in the city. And also claimed as one of the best in Asia. Actually I already predict that this car free day is more crowded than before because everyone want to have quality time in the weekend. To have more positive activity and also ignite the idea of healthy lifestyle. But I also wondering that some people only come the car free day because they are follower. They only joining with their community and want to get along with others. Because the events like fun running or color run also held for several times. This kind of running is not so serious with the competition, it's only provide the runners fun and jog.

With this condition the government have to open more the public area for car free day it self. They can use more street to used as the car free day area. Or maybe they have to strengthen the policy for seller to not sell in car free day area.  In this level I more realize that the boom of Indonesia population. More people growing in term of age, but the way they thinking in term of maturity I should say NO.

Senin, 03 November 2014

Speak Up!

Kemarin sempat ketemu dengan teman yang bisa meramal dengan Oracle. Baru tau pertama kali juga, setelah ada ramalan2 kartu biasa, palmistry, tarot, dan yang ini memang baru. Tapi intinya hampir sama sih menurutku, pilih beberapa kartu, pengen tau apa yang terjadi soal cinta, karir, atau kuliah. Cuman memang katanya kalo Oracle ini lebih main bahasa-bahasa yang diplomatis dan solutif (Katanya yang ngeramal). Beda dengan ramalan tarot karena lebih menggambarkan masa depan. Disini oracle lebih maen ke What's next? What should and what should not? Tapi dalam tulisan ini bukan bahas soal itu sih. Tapi lebih ke kata-kata pembaca oracle tentang apa yang pengen ku ketahuin. Lagi, ya tentang orang itulah. Yang sewindu selalu ada di pikiranku. Intinya pada waktu kemaren aku pengen tau kedepannya hubungan ini mau dibawa kemana? Secara kan emang tiga bulan ini sedang dingin dan emang aku yang tidak berusaha menghubungi dia atau menghindar.

Then, si pembaca oracle ini menyampaikan isi kartu yang ku pilih (lupa ada delapan). Yang bikin menohok pertama katanya si dia ini ternyata juga "care" sama aku. Kedua dari kita sama-sama nyaman dengan hubungan ini dan memang sama-sama sayang (sumpah ini kata doi yang membaca). Tapi emang hubungan ini jadi beban buat aku, padahal disatu sisi juga aku jadi tenang dekat doi. Terus ternyata masalahnya simple, karena selama ini aku yang cuman ngasih kode. Gak pengen bilang ke doinya. Jadi menurut si pembaca oracle ini aku harus ngomong ke dia. Tentang apa-apanya, terlebih masalah hati nih. Dalam hal komunikasi sesuatu yang kadang udah disampein aja sering mispersepsi, apalagi yang cuman dipendem doang. Nah, mirip plek sama yang dinasehatin sama angger kapan hari juga. Eeeeits, tapi kan tapi kan. kalo dari akunya udah nganggep dia udah tau dengan segala perhatian dan sikap aku ke dia selama ini. Terus aku juga gak ngarep lebih, karena masa depan kita masing-masing masih panjang. Toh juga aku gak suka hubungan yang menye-menye. Kalaupun mau langsung mengikat pun masih terlalu dini. Tapi kalau mau ngelepas juga yaudah. Ini yang memang lagi ku pertimbangin.

Rada stres kalau udah bahas soal dia. Yang salah ntar pasti akunya. Yawes, akhirnya semalem aku coba ngomong ke anaknya, eh malah dia katanya sibuk ngerjain laporan TA. Yawes aku gak tega, kapan-kapan aja deh. Nah kan, sampai sekarang akhirnya belom bisa ngomong. Pun kalo aku ngomong aku juga gak bisa jamin apa-apa buat ke depannya. Tapi at least aku bisa lega katanya. Biar gak jadi beban. Syukur kalau perasaan ini terbalas, ya pasti sakit juga kalau sebelah tangan. Tapi apapun hasilnya aku udah siap. Dan malah aku gak berharap apa-apa. Yang ada ya cuman pengen ngelepasin satu persatu beban biar lebih ringan menghadapi apapun yang di depan. OK? Expect less and prepare for the worst.

Kamis, 23 Oktober 2014

Selamat Ulang Tahun pada 22 Oktober

Sengaja telat posting emang.
Karena kemarin tanggal m22 Oktober anaknya ulang tahun, tepat usia 22 pula. Sudah mengucapkan selamat ulang tahun lewat sms dengan seminimalis mungkin. Pun juga telah dibalas dengan caranya sendiri. And then, gimana yaaaaa? Ya harusnya gak gimana-gimana, dibawa biasa aja. Tapi ada yang mengganjal, sekiranya aku sudah siap dengan oleh-oleh dari Korea untuk dia. Namun masih menimbang-nimbang mengirimnya seperti apa. Dan apakah perlu juga bertemu anaknya. Kalo kata teman untuk menjaga silaturahmi sih gakpapa, tapi akunya punya ego sendiri yang berusaha aku jaga. Jaga jarak saja, jangan berlebihan dan kepikiran.

"Something are better left unsaid"

Senin, 20 Oktober 2014

Cerita dari Busan (1): Kejutan Atasan

Siang itu akan menjadi salah satu siang yang akan selalu ku ingat dalam perjalanan hidup. Selasa sekitar jam 14.00 WIB ketika sedang santai setelah makan dan begejokan, salah seorang pimpinan masuk ke ruangan
Boss: "Angga punya passport ijo?"
Aku :  "Punya Pak"
Boss: "Masih idup?"
Aku : " Masih lah pak, baru tahun kemaren buatnya."
Boss: "Siap berangkat Korea?"
Aku : "Hah? Siap aja sih Pak"
Boss: "Oke...."
Seketika itu ruangan mendadak hening, aku plonga-plongo dan semuanya juga menunggu kejadian selanjutnya. Sentak aku tersadar kalau Pak Bos sudah pergi kembali ke ruangannya, aku kejar menanyakan kejelasan. Dia malah bilang "Yaudah, tanyakan aplikasi visanya saja"

Eeeeeeeeeeenggggggg.........
Perasaanku seketika campur aduk. Aku kembali ke ruangan untuk menanyakan syarat-syarat pengajuan visa Korea. Cukup mudah karena hanya membutuhkan fotocopy KK, KTP, Pasport, dan cetak Foto. Semuanya aku masih punya berkasnya di kosan. Seketika itu masih antara percaya gak percaya. Terus langsung cuss kosan ambil berkas dan cetak foto di Jonas. Balik lagi ke kantor dengan suasana hectic. Hari itu hari selasa, ngurus visa baru besoknya. Padahal kamis berangkat. Seketika itu selasa malam jadi harap-harap cemas, cuman nelpon Ayah untuk mengabarkan. Tapi dalam hati masih agak bimbang jadi berangkat atau gak. Rabu pagi dikantor semuanya masih abu-abu, tiket belum ada yang tercetak izin visa juga tak ada kabar. Rabu siang sambil makan siang di briefing ini itu untuk persiapan ke Korea. Padahal masih ngawang banget kalo misal jadi atau tidak berangkat. Rabu sore delegasi yang akan berangkat dikumpulkan. Oh tadi belom cerita, delegasi ini ialah empat orang krusil anak-anak SMP yang akan tampil menari di Acara Global Gathering 2014 di Busan tanggal 17 Oktober.

Jam 3 belum ada kabar tentang visa. Semuanya jadi lemas karena penari ini hanya didampingi seorang pelatih paruh baya yang baru pertama ke mancanegara. Kalau aku sih berangkat iya pasti, tapi jadwalnya menyusul nanti. Tugasku kurang lebih mendampingi mereka selama disana, dengan membantu urusan di bandara, hotel, tur pariwisata dan mengasuh mereka pun tidak lupa urusan administrasi kantor layaknya SPPD dan dokumentasi selama disana. Sore jam 4 baru diberi tau kalau visa sudah keluar, semua bersorak ALHAMDULILLAH. Bukan hanya aku yang bahagia, Bapak dan Ibuk anak-anak yang akan berangkat pun tersenyum lega. Akhirnya ada pendamping yang setidaknya bisa dipercaya. Tiket sudah dipesan, visa sudah keluar, dan aku pun akan Korea untuk pertama kalinya.

(Bersambung)

Jumat, 26 September 2014

I Hate

This post to express what I feel right now.
Random feeling about Congress Bill, Indonesian Badminton team in Asian Games, and also my result from Financial Ministry test. I know this is not the first time, I've been here several times. But, I think that today I have grown up and face the reality in this world with keeping my head held hight.

Firs coming into my mind is My result for Financial Ministry recruitment. I got the test on 25 September, and the result is so make me gloomy during this two days. I never imagine that one of the aspect for the test (Tes Wawasan Kebangsaan) that I usually proud of, but the fact that my score only in the edge of passing grade level. So what can i do then? This feeling when I'm feeling lost. Become the looser compare to other my close friend who became the winner (not as mention directly but, their grass is greener than mine). Obviously I'm so sad. So desperately wanted this position so much. Not to compare with another recruitments, but this is my first time to feel that I want this position so much, until I can feel my whole body is shaking and I'm almost cry whenever I said my little prayer that if i got this position it can make my parents proud of me even better not myself. So, what should I do then?

Then in the same day, this country also have another big moments with declaring the bill from congress. And again this is so SUCK! Why they only consider political problem for their sake of their life? Not even think about this whole nation. I'm so sick to know my beloved country devided into two groups that each one of them don't give a respect. We loosing so much energy to tackle our brother in one nation we never get the same vision to lead this nation for our better generation. It's too obvious that every single people in Indonesia so desperately don't trust the congress. But how can the one that we can't trust get so mmuch power to choose the governor or mayor? Come on, as one of the people of Indonesia I feel shame with their political manners.

I love badminton so much, and I'm always become number one fans(as same as another fans of Indonesia Badminton Teams). Our beloved teams now fighting in Asian Games Incheon Korea. Yes I do hope that every single player could do the best and got the gold medals. But again, as our people are educated by judging, mocking, and bullying others so easily so they will never appreciate every single swat that comes from our player. Why we always judging another so easily? despite knowing every single persons have their own struggle. Same with our player, I'm very sure that they fight for the pride of our nation. They give their one hundred even a thousands % of energy. They showing a lot of their spirit, capability and integrity. And we as the people who only can watch them from distant why we always not so supportive in term of sportmanship.

in the end I just wanna say that I hate my self who always complaining instead of prising.
I hate our congress the one that I never vote.
I hate all of the people who can easily judge every one instead of look at the mirror and think do you really perfect!

Selasa, 09 September 2014

Tak Kemana Mana

Gak sengaja nemu lagu ini sekitar dua hari lalu di Soundcloud. Padahal setelah ditelusuri lagu ini sudah ada sekitar empat bulan lau per pertama di upload oleh Tangga. Daaaan, saya sangat suka lagunya. Bercerita akan perpisahan, duh pas banget. Apalagi bagi saya yang melow dan gampang tersentuh. Berasa sedih sekaligus tersenyum bahagia. Dengan segala pertemuan dan jalinan pertemanan, saya merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan banyak orang dan mampu berbagi kisah dan pengalaman.

Terkait dengan lagu ini sendiri, liriknya memang minimalis tapi sangat manis. Kemudian saya juga baru tahu kalau ternyata Tangga akan vakum (tidak berani bilang bubar). Yah, pada akhirnya sama mungkin dengan setiap band ataupun group vocal yang ada di Indonesia, mereka tidak bisa dikatakan dapat bertahan lama. Untuk Tangga sendiri sudah 9 tahun bersama, dan berbagai macam hitsnya selalu menjadi deretan karaoke saya.  Sedih bingits.

Kalau membaca dari tumblr Kamga dan juga pengakuan mereka di Sarah Sechan, sedikit bisa memahami posisi mereka. Mungkin mereka sudah pada tahapan jenuh untuk berkarya, maaf bukan dalam menghasilkan karyanya tapi lebih kepada menghadapi pansa pasar musik Indonesia yang sedang lesu. Toh juga pembubaran ataupun sistem tambal sulam personel sudah sering terjadi di belantika musik tanah air. Kemudian juga sedikit lebih paham bagaimana berkarir di dunia musik itu gak bisa seenak udelnya untuk mengeluarkan hits yang benar-benar ngehits. Karena ada pihak lain yang akan sangat memikirkan konsumen. Kalau ingin mandiri ya berarti indie.

Nah dari gambaran diatas, jadi merasa bahwa seharusnya juga dari diri sendiri harusnya lebih mengapresiasi karya musik anak bangsa. Harusnya gak beli bajakan demi mereka yang juga cari makan. Dinamikanya memang membawa alur pada penjualan digital, namun bermuara pada pembajakan.

Pada akhirnya semoga apapun keputusan TANGGA memang yang terbaik bagi masing-masing dari mereka. Semoga mereka lekas menyembuhkan luka sehingga bisa kembali berkarya. Dan untuk itu di bawah ini lirik lagu terakhir mereka yang selalu saya putar di daftar MP3 saya.

Tak Kemana Mana

By Tangga

Awal cerita yang selalu bahagia
Adalah skenario yang ditawarkan cinta
Namun hanya Tuhan yang tau Kemana
Perjalanan ini kan bermuara nantinya…

Kita sedang bahagia
Jangan buang waktu menerka nerka akhir nya
Tenang aku disini selama kau disisi
Aku bejanji tak ke mana mana

Mungkin saja esok mungkin saja lusa
Mungkin saja dunia sekejab jadi berbeda
Perasaan dan segenap cinta yang kau
Dan yang aku punya

Kan tetap sama . . .

Masa depan yang aku inginkan
Adalah membahagiakanmu
Mulai hari ini…

Bagai bulan dan bintang kita takkan terpisahkan
Kita trus bersama warna kita selalu terang itu jadi pegangan
Janganlah pikirkan masa depan yang jauh
Tujuan masih jauh nikmatilah saat ini
Toh bah kita bersatu kan kupegang tanganmu serta pelukkanku
Cerita nanti biar nanti syukuri ini dulu

Kita sedang bahagia
Jangan buang waktu menerka nerka akhir nya
Tenang aku disini , selama kau disisi
Aku bejanji mulai hari ini hingga tua nanti

Tak kemana mana
Tak kemana mana

Kamis, 04 September 2014

Rumah Bahasa Surabaya

Yep! It's kinda little too late to write about Rumah Bahasa Surabaya. Pardon me, because it just personal reason. Well, let me begin this page to inform you about the background of Rumah Bahasa. Rumah Bahasa is the program from Surabaya City Government (lead by Mayor Tri Rismaharini) to face ASEAN Economic Community 2015. Here we provide self improvement in terms of language skills, computer, and also more knowledge about Labor, investment, trade and cooperation. Because next year we believe that more free flow labor, products, and service will come to Surabaya and other area in Indonesia and ASEAN countries. This is GREAT idea by Surabaya City Government to prepare the people to be ready and steady about next year condition. Plus, this program is totally FREE!

Rumah Bahasa held on 4th February 2014. After seven month from it opened we already have more than ten thousands participants. 250 volunteer and we have 8 different languages. As one of the staff of Surabaya City Government and also one of the person in charge at Rumah Bahasa, I feel blessed and fortunate because of everyday I meet new person, new friends, and also new problems (in term of bureaucracy). Well, I think that if we work in Government especially in Indonesia you will underestimate with what I called "Glembosi". And that was 100 % TRUE. But not for me, because I always manage my time to more useful and avoid that "glembosi". So I can mention that my Boss always said myself that I'm the manager of Rumah Bahasa. But for me, as new comer in this area of work I try to keep humble and don't want to mention this manager position. I prefer as "staff" in Rumah Bahasa. Though my duty in here is almost in all round area (looking for volunteer, participants, manage the operating stuffs). So I am always moving from one side to another side of job. But that problems make me so skillful and I fortunate that all problems finally finish.

Rumah Bahasa not only focus on language training or language mastering. But we also provide another information such as information about ASEAN, about trading and investments and also about cultural differences. Another positive side from Rumah Bahasa and we sholud proud with it is The Volunteer is not paid even only one sen. They dedicate their time to share about knowledge and also skill. We also have Teacher from native speaker. They usually foreign students who came in Indonesia to follow exchange program. We open from Monday till Sunday. Start from 9 am till 9 pm. So, if you really interest with this program and also want to give another contribution to elevate our knowledge I challenge you to joint this program. Let's share if you care.

Rumah Bahasa Address (Komplek Balai Pemuda, Jl Gubernur Suryo)
Find us on Facebook: Rumah Bahasa Surabaya

Kamis, 28 Agustus 2014

Fate (Inyeon) 인연

Like my usual post in this blog, I always share what I feel and what I going through about life. For this time I dedicate this writing for my beloved new friends from Dong Eui University. They are 27 students plus 2 lecturers who came to Surabaya for their Global Service program. As the officer of Surabaya City Government in the Cooperation Division so I have to accompanied them. To travel in Surabaya and also taking care them during their program. It was two week ago. And I never expect to fall too deep with this "short relationship". Because I already became LO for several time. So I think it's gonna be the same and easier for me to handle about everything. And actually I only meet them on weekend. So I truly never imagine that It was so hard to say goodbye with them. Yes I know I'm a melancholy person. Yes, I also understand that I always too easy to impressed by somebody. What I learn from them are they are hard worker, focus, intense, and all out to doing something. So it actually good opportunity for me also to meet them in this life.

The title of this page is similar with the original soundtrack of famous movie in Korea, King and Clown. I never knew it before. But after the performance of Dong Eui delegation at the farewell party and they also did the hand language, it was so blew me away. And now that song always repeated on my phone. Seems that I can't move on. Yes I still can't move on. One more thing, after I know the meaning of this song it's actually the same with my relation to Dong Eui University delegation. So here is the lyrics;

yaksok heyo i sungan i dajinago
dashi bogeh dwenoon kunal
modoon gol boligu kudeh gyoteh soso
namoon gilil gali lango

inyon ilago hajo gobuhal suga obcho
ne sangeh icholom aloom daun nal
toh dashi ool su isool kayo
godal poon salmeh kileh dangshinoon sonmulin gol
i salangi nogsulji anhdolog nul daka bichulkeyo

chwihan doo man nameun jalbatchiman
bijang yolo jali hejo
maji motandeto huhohaji ancho
yongwonhan gon obsunika

munyong ilago hajo kobuhal sugah obcho
ne sengeh ilcholom alumda unal
to dashi ool su isulkayo

hagopun mal man jiman dashinun ashil tejo
mon gil dola man nagedwenun nal
dashin notji malayo

i sengeh motan salang
i sengeh motan inyon
mon gil dola dashi mananun nal
nalul notji malayo

~~~~~~~Translation~~~~~~

Promise me that when this moment’s over and we meet again
That we can put everything in the past and stand by each other
This is what we call fate, it’s something we can’t deny

Will I ever experience another day as glorious as today?
You’re a gift upon this exhausting path of life

I’ll continuously wash and shine our love so it won’t rust away
Our meeting was short like a drunken affair, but it was real
Even though this cannot last, I won’t resent it because nothing is foever

This is what we call fate, it’s something we can’t deny
Will I ever experience another day as glorious as today?
There’s so much i want to say, but you probably already know
When we meet again some time in the future
Please don’t let go again

The love we couldn’t have in this life
The fate we couldn’t live in this life
When we meet again some time in the future
Please don’t let go of me

~~~~~~

So once again I just wanna say that this is the FATE that take me in the short relationship with new friends from Dong Eui University. This also remind me of My other friends also said that joining the exchange program or scholarship program is like the sweet dream. Sweet as we together during all of the program. But after the program is over, we have to face reality and then back to normal life. Just like we wake up and then the life must go on. So, my friends in Dong Eui University I hope that we could meet again one day. In this life or another life. But I am very fortune to meet you and having fun during all of the time that we spent together. Saranghae Dong Eui Dae. Anyeong~~

Rabu, 20 Agustus 2014

Enam Sembilan Indonesia Merdeka

Jadi memang ada niat khusus mengapa pada judul bab ini saya menuliskan angka enam sembilan dengan huruf bukan angka. Agar terkesan lebih sopan daripada dituliskan 69 (if you know what I means). 6 dan 9 menjadi simbol angka yang katanya kalo enam dibalik jadi sembilan, begitu juga sebaliknya. Sehingga banyak undian atau lotre yang menggunakan tanda garis bawah pada angka enam agar tidak tertukar dengan angka sembilan. Nah disini saya cerita sedikit bagaimana pengalaman tujuh belasan agustus saya tahun ini dan kenapa saya memilih simbol enam sembilan.

Jadi ceritanya tujuh belasan saya tahun ini, saya tidak ikut upacara bendera, pun tidak melihat pemuda-pemudi paskibraka di media, dan tidak pula berlomba makan kerupuk atau panjat pinang dengan hadiah utama sepeda. Tujuh belas agustus tahun ini saya sedang menemani delegasi Dong Eui University Korea yang sedang ada study banding di Surabaya. Pada hari minggu 17 Agustus 2014, agendanya ialah mengunjungi Surabaya International School. Jadi disana ceritanya ada perayaan sendiri dari seluruh warga Korea yang ada di Surabaya. Mereka berasal dari berbagai macam usia. Ada yang sekeluarga bawa asisten rumah tangganya pula. Ada nuna-nuna Korea yang pamer paha, ada pula oppa-oppa yang mahir bermain basket dan bermain bola. Nah, suasana yang sangat kontras, saya merasa terasing di sana. Benar-benar baru pertama kali merasa bahwa saya "terjajah" di negeri sendiri. Ternyata meskipun saya masih di Surabaya ternyata ada perasaan tersesat, tak ada kawan, terasing, dan menjadi yang paling hitam diantara segerombolan yang putih. Saya merasa menjadi pusat perhatian tiap geser tempat duduk. Menjadi alien ketika harus bercakap-cakap dengan orang yang merasa bukan bahasa ibunya. Miris dan rasanya teriris. Sungguh tidak pernah membayangkan bagaimana sakitnya menjadi asing di negeri sendiri. (Pun memang ini karena tempatnya di International School)

Jadi saya artikan bahwa ini pengalaman pahit sekaligus pembelajaran bagi saya. Bagaimana kalau dengan cara ini ternyata malah menimbulkan rasa kangen akan celotehan anak kecil, pisuhan bujang bujang, dan nyinyiran ibu-ibu di gang belakang. 69 saya artikan sebagai simbol jungkir balik. Jungkir balik untuk tetap bekerja keras. Kerja, kerja, kerja! Dan semakin kesini saya semakin sibuk (sombong dikit). Saya merasa lingkungan kerja yang sekarang memang menuntut saya untuk produktif. Apalagi Bos Abah, yang sepertinya mendidik saya untuk tidak terjebak ke dalam sistem atau lingkungan yang glembosi. Amin lah, saya juga ingin terus berkarya dan berlatih agar skilfull. Saya yakin bahwa semuanya sudah ada yang mengatur. Pun dengan ikhlas, imbalan yang diraih dalam pekerjaan bukan tebalnya isi kantong. Tapi bidadari cantik di surga layaknya yang dikatakan para pengebom. So, I'm very grateful for all of the events that happen to me. And I still believe that maybe one day, I will be in the right time, place, and also position.

Cheers!

Senin, 04 Agustus 2014

Yang Udik Yang Mudik

Sebelumnya saya ucapkan Minal Aidin Wal Faizin pada semua pembaca. Masih menyambut suasana Idul Fitri, postingan ini hadir untuk lagi-lagi bercerita tentang pengalaman pribadi saya dan dari sudut saya. Tanpa bermaksud untuk menyudutkan atau meremehkan pihak lain (Merasa terlalu provokatif dengan judul).

Jadi tahun ini saya mudik. Ke Rembang tentunya. Ini merupakan kedua kali saya merasakan menjadi salah seorang pemudik, dalam hal bukan sebagai mahasiswa. Jadi dalam pandangan saya, mudik itu harus ada membawa sesuatu untuk orang yang dirumah. Kalau mahasiswa kan statusnya pulang kampung dan belum bisa membawa apa-apa. Lumayan bangga juga sih, karena tahun kedua mampu memberikan sedikit kepada orangtua, adik, keponakan dan handai tolan. Bahkan lebih kerasa lagi mudiknya dengan memakai motor dan menempuh tiga jam perjalanan plus printilan yang harus dibawa. Mudik yang "udik" banget memang. Dengan membonceng Ibu, mengarungi jalanan Pantura dengan segenap buah tangan yang tak layak aslinya bila diabaikan. Sehingga mudik tahun ini memang lebih kerasa karena akhirnya saya sama seperti pemudik khususnya yang beroda dua yang membawa barang berbusa-busa dan menempuh jarak yang melunglaikan raga.

Yang unik menurut saya, pun dijaman kemajuan teknologi informasi sekarang ini ritual mudik masih dan bahkan harus tetap dijalankan oleh setiap perantauan. Kalau alasannya untuk menjalin silaturahmi, HP sudah cukup mewakili dengan setiap layanannya. Namun yang mejadi khas dari mudik ialah, menurut saya hal ini juga dilambangkan dengan kesuksesan. Sukses karir dan dari segala jerih payah yang mampu dibanggakan di kam pung halaman. Pun hal ini dimaksudkan positif bahwa dengan setahun bekerja keras setidaknya pencapaian yang telah diraih laik untuk dikabarkan kepada handai taulan di kampung. Pun menurut data statistik yang saya baca bahwa setiap tahun jumlah pemudik semakin bertambah. Ya, menunjukkan bahwa penduduk Indonesia yang terus bertambah, ya memang arus pertumbuhan urbanisasi semakin membara, ya bahkan bisa dikatakan kondisi ekonomi di Indonesia semakin memungkinkan masyarakatnya untuk bisa kembali ke rumah dengan segenap rejeki yang diraihnya. Sehingga semakin sedikit Bang Toyib yang tak pulang tiga kali puasa tiga kali lebaran. Karena Bang Toyib bisa pulang setahun sekali.

Selain mudik untuk menemui handai taulan, yang tidak kalah menarik ialah Reuni di setiap perayaan idul fitri. Memang mungkin ini bukan satu-satunya waktu yang bisa dijadikan alasan untuk berkumpul, namun memang kembali lagi momen lebaran merupakan yang paling ramai untuk berkumpul sejumlah kawan lawas. Bagi saya yang anaknya hiperaktif di segala bidang, idul fitri yang libur tujuh hari rasanya masih kurang untuk menemui setiap kawan. Hari pertama kedua saya manfaatkan untuk keluarga. Hari ketiga untuk teman sekelas saat SMA, hari keempat kembali untuk keluarga yang berkunjung ke rumah, hari kelima masih untuk teman SMA yang sisanya, hari keenam untuk sahabat terdekat, bahkan sampai hari ketujuh masih ada untuk teman-teman pramuka (disempetin karena bertemu mantan terindah). Pun saya masih belum bisa mengunjungi atau bertemu dengan teman SMP atau teman kos semasa SMA. Well, memang rasanya kurang terus. Saya sih bangga dengan pencapaian saya menjadi anak yang punya banyak teman, bersosialisasi disana-sini. Bahkan Ibu dan Ayah juga tak jarang geleng kepala anaknya malah jarang di rumah. Namun sekali lagi ini memang momen untuk kembali ke fitri, selain itu juga momen untuk memperkuat tali silaturahmi. Saya tipikal orang yang menjunjung tinggi nilai silaturahmi tersebut, namun pabila ada yang saya blacklist dari lingkaran kehidupan saya ya berarti orang tersebut memang sudah keterlaluan, saya sih masih berusaha menjadi manusia pemaaf. Ya mereka yang saya blacklist saya maafkan. Tapi untuk kembali dekat dengan saya rasanya masih mikir-mikir lagi.

Sekali lagi selamat hari raya, meskipun  libur sudah tiada mari kembali bekerja. Semangat untuk kesempatan-kesempatan berikutnya. Demi mudik yang lebih terdidik.

Senin, 21 Juli 2014

Sewindu VS Seminggu

Masih galau... iya
Masih nyesek... emang
Masih tertohok... he'eh
Masih sakiiiit... pastinya

Diiringi dengan lagu dari Tulus yang berjudul Sewindu, terus aku ngitung kalo ternyata ini juga jalan seminggu lebih keadaanku seperti prolog yang diatas. Berasa nge-blank aja sih dengan yang ada di sekitar. Pun rasanya hambar dan kasihan teman serta pekerjaan sekitar yang rasanya cuma numpang lalu lalang. Am I too desperate? yes maybe!

Pun dengan kegirangan perayaan usia dua tiga, rasanya masih hampa. Ada lubang di hati yang tak mampu menutupi. Bayangin orang yang selama ini selalu ada selama delapan tahun terakhir, selalu ada di tiap sms, wa, bbm, dan apapun jenis chat pasti dia yang teratas. Ataupun orang yang selalu ada nomer hp-nya di setiap HP saya yang berbeda setelah ibuk dan ayah.

Tetiba kapan hari dia yang bbm terlebih dahulu dan menanyakan kabar dan basa  basi babibu. Setelah membesarkan hati dan jiwa serta segenap perasaan yang ada akhirnya ku balas juga (Sebelumnya bbm dan sms dia tak ku balas, pun ucapan terimakasih atas ucapan selamat ultah). Masih agak stres melihat setiap kata yang ada di layar HP, masih miris kalo ternyata di PHP. Terus berakhir dengan perdebatan seperti sebelum-sebelumnya. Lagi, ku balas saja bahwa memang aku yang salah ataupun kalah.

Pengen move on, tapi idup masih gini-gini aja. Pengen hilang akal, tapi ditakut gila dan dan gak inget sama keluarga. Pengennya amnesia parsial cuma lupa sama doi yang selama ini ada di delapan tahun kehidupanku yang nyata. Pengen nge-del semua kontak dan social media dengan dia tapi gak boleh memutus silaturahmi kata Agama.

Terus aku kudu piye? Kudu piye?
Karena ini idup, bukan instagram yang cuma klik dua kali bisa ngasih hati.

asdfghjkl
qwertyuiop

Kalo cuma diem aja gak bakal menghapus masa lalu, yaudah aku pengennya lari. Lari mengejar cita-cita, demi ambisi dan mimpi. Demi menikmati idup yang lebih berseri!

Rabu, 16 Juli 2014

Happy Twenty Three!

Hello, this is my first post as twenty three years old buddy :)

Setelah gegap gempita selebrasi perayaan Ulang Tahun yang ada, terimakasih atas segala ucapan dan doa yang terkirim dengan segenap ketulusan jiwa para sahabat dan saudara.

23! menjadi angka yang agak sedikit sakral, karena pada tahun ini benar-benar terjadi transisi dari mahasiswa ke pekerja. Sungguh dibutuhkan perbaikan diri dan menata hati untuk menjadi pribadi yang tidak menye-menye lagi. Pada tahun ini pulalah seharusnya sudah bisa menempatkan diri sebagai manusia dewasa lagi.

Pun dengan selebrasi yang sederhana namun tetap akan sangat bermakna. Sedikit banyak para sahabat sejati tidak lagi berada dekat di sisi. Namun mereka masih menyempatkan untuk berfoto selfi dan mengirimkan ucapan selamat dengan teriringi doa dari sepenuh hati.

Di tahun dan usia yang baru ini, sekali lagi aku tidak mengahrap sesuatu yang berlebih. Hanya ingin menjadi pribadi yang lebih baik, lebih berkontribusi, kurangi keluhan dan keresahan. Semangat dan tetap optimis menyongsong masa depan.

Best Regards,
The 23 me!

Kamis, 10 Juli 2014

Sebatas Nyaman dan Teman

Akhirnya, perasaan yang hancur dan remuk redam itu kembali hadir. Mungkin hampir sama dengan perasaan patah hati seorang pendukung fanatik yang capresnya gagal menuju kursi RI 1. Tapi yang terjadi padaku ialah lebih pada curahan hati pribadi. Well, kenyataan memang pahit. dan sangat setuju dengan quote di bawah ini:

"Jangan bikin nyaman dan terbiasa, kalo pada akhirnya tak bisa bersama"

Hubungan ini, yang selalu aku dan mungkin kau pertahankan tanpa nalar yang jelas. Tanpa ikatan yang pasti. Hanya membuatku kembali pada setiap kau membuka kembali ruangan gravitasi. Antara gamang dan senang setiap kita kembali besua, bercengkerama, menghabiskan malam berdua, dan obrolan konyol yang selalu membuatk tertawa dan membawa komodo di perutku.

Pada nyatanya, tiga bulan kau sudah bersamanya. Membohongi ataupun menutupi segala celah yanga ada. Kau anggap aku apa? dengan segala perhatian yang ada, aku seolah samar oleh hubungan kalian berdua. Antara percaya dan tak percaya bahwa kau bersama dia, yang juga sahabat kita berdua.

Atau memang aku yang salah yang terlalu harap akan hubungan kita berdua.
Sekarang aku hanya berusaha tenang, bagaikan laut yang dalam.
Tapi kau tentu tahu bahwa selama ini perasaanku padamu terlalu menghanyutkan untuk kita arungi dan mencoba mengayuh ketepian.

Aku yang salah dan lagi dan lagi aku KALAH.

Sudah saatnya aku menyerah.
Untukmu yang membawa hubungan ini tak akan punya arah.

Senin, 12 Mei 2014

I Scream for ICE CREAM

Parah! Bete banget, iyaaa!
Jadi ceritanya kemaren 11 Mei 2014 rencananya saya akan bergabung dengan indorunner untuk lari pagi di hari minggu. Pun saya sudah sering bergabung dengan lari di malam hari, namun untuk lari pagi saya tidak pernah ikut alasan kerjaan, lebih milih sepedaan, dan juga bangun kesiangan. Namun inti dari cerita yang ingin saya share mungkin lebih ke kejadian bagi bagi es grim gratis kemaren. Sesungguhnya pun kalau gak ada acara ini Taman Bungkul saat CFD sudah sangat ramai. Berbagai lapak hadir malah disana. Nah, apalagi ini ada es cream gratis. Saya sudah membayangkan suasana akan sangat ramai luar biasa. Namun tidak menyangka aka lebih porak poranda.

Jadi saya berangkat dari kosan jam setengah enam pagi, dengan asumsi hadir di Taman Bungkul 15 menit kemudian. Namun ternyata lain cerita saudara-saudara. Saya mengambil jalan Darmokali biar bisa tembus belakang Taman Bungkul, ternyata suasana sudah penuh sesak bagi pengendara jalan. Pun yang beroda dua atau empat. Dan Dua jalur lawan arah yang tersedia justru mati atau lumpuh total karena dari dua arah berlawanan tersebut tumpuk pengguna jalannya. Sehingga ini tidak hanya macet, tapi berhenti total. Saya stag disana selama lebih dari satu jam. Ini kemacetan terparah yang saya alami sejauh ini. Sungguh penat. Singkat cerita mulai ada yang mengatur setelah satu jam stagnansi tersebut. Saya lantas parkir dadakan di gang perumahan warga. Rp 3000 (dan dalam hati saya sudah gerutu, kalau ini semua demi es cream mending beli di Indomaret yang paling cuman dua ribu sekian). Oke, saya sudah muak, lantas yang membuat saya mau mengarungi lautan manusia di Taman Bungkul ialah karena teman saya sudah menunggu di Kimia Farma. Sehingga saya harus menemui dia. Bungkul sudah lautan manusia dengan warna merah menyala dan ditambah emosi warga karena pembagian es cream yang terkesan semena-mena. Saya sempat mendengar MC yang berusaha menenangkan warga. Saur manuk teriakan warga yang merasa kecewa. Sehingga saya mengerti betul bahwa acara ini semakin "Gak Guna"

Oke saya bertemu dengan teman saya dan kami berdua stag tak tahu harus bagaimana. Kami haus, panas dan gerah. Jadi kami kudu piyeeee? keringat yang menetes pada akhirnya bukan karena kami lari, tapi gerah gegara desakan dari berbagai penjuru arah yang cuman demi es cream? See, ya itulah derita kami dan baru bisa pulang jam setengah sebelas. Intinya kami mau keluar dari Taman Bungkul pun gak bisa. semrawut lah pokoknya.

Nah saya sendiri yang berada disana merasa sangat gerah, sorenya semakin gerah lagi ternyata kegiatan tersebut merusak taman kota. Dan Bu Wali marah-marah! Parah ini mah. Sungguh ini emang tindakan yang keterlaluan. Salahnya siapa? Penyelenggara, iya. Orang-orang dengan mental gratisan apalagi. Tapi ini tentu menjadi sebuah pembelajaran. Setidaknya acara CFD itu seharusnya lebih bisa menyenangkan bukan umyekan seperti sekarang ini. Pihak penyelenggara lain kali jangan macam-macam lah sama taman-taman kota yang dirumat oleh Bu Walikota. Pun itu mau bagiin oli gratis kek, garem gratis kek. Sama-sama tahu kalau mentalitas kita semua gratisan. Jangan coba-coba lah. Jadi intinya juga dimanapun kita berada mesti taat aturan yang ada. Dimana bumi dipijak disitu langit dijinjing. Indonesia pasti bisa!

Senin, 05 Mei 2014

May (be)

Bulan Mei. Terhitung jalan dua bulan bergabung dengan kantor ini

Mungkin (May be) mulai bisa beradaptasi
Mungkin sudah mulai banyak bicara
Mungkin mulai banyak yang tahu latar belakangku
Mungkin orang disini mulai mengapresiasi kerjaku

Mungkin aku terlalu lelah
Mungkin aku masuk tiap hari karena banyak acara
Mungkin aku terlalu sibuk
Mungkin tidak mau merasakan capai fisik

Mungkin aku bersabar
Mungkin aku tak acuh
Mungkin aku bekerja keras
Mungkin aku berusaha ikhlas

Tapi aku tidak boleh berkata mungkin. Karena kata Bu Retha inilah pilihanku dan ku putuskan dengan akal sehat dan sadar. Harus dihilangkan segala mungkin. Karena ini tanggungjawabku. Inilah pilihanku.

May be this is the journey that I have to take to,

Senin, 21 April 2014

Mengabdi dengan Hati

Jalan minggu ketiga di kantor pemerintahan ini. Hampir putus asa dan sempat ingin pindah.
Bukan karena kerjanya, atau lingkungannya yang rata-rata sudah berkeluarga. Namun hanya masalah cita-cita dan idealisme pribadi serta warna hijau di rumput tetangga. Ya.. atau mungkin alasan ingin segera membalas budi orangtua. Pada intinya memang saya tidak pernah berfikir untuk berkarir disini. Terlalu muda bagi saya untuk pakem pada aturan disini. Masih banyak tempat di luar sana yang saya hinggapi.

Namun semua terasa perlu direnungkan kembali, Ketika kegagalan itu hadir kembali. Ketika harapan untuk mendapat pengalaman bekerja di ibukota denga gaya parlente dan gaji gedhe. Gagal pada tahap psikotest, lagi dan lagi. Setelah saya hitung mungkin ini yang keempat berturut-turut saya selalu gagal di tahap ini. Please don't make me down! Tapi mungkin otak saya ada yang salah, sehingga saya selalu gagal di tahap ini. Nothing to lose memang awalnya demikian, namun harapan yang sirna dan berkeping-keping tentu akan menyesakkan hati. Bayangan membahagiakan orangtua dengan mentransfer beberapa ribu rupiah pun sirna. Khayalan berjalan lantang di jalanan ibukota juga lenyap. Mungkin belum saatnya, atau malah bukan jalan saya.

Oleh karenanya sangat saya renungkan kembali untuk duduk dan hadir di kantor ini. Meredam sejenak segala ambisi. Saya mungkin termakan omongan saya sendiri bahwa disini saya ingin belajar mengabdi. Belum ada satu bulan, dan terima slip gaji tapi malah sudah kepikiran hengkang dari sini. Bismillah semoga saya sadar diri dan lebih bersyukur lagi. Bismillah... saya hanya ingin melayani dengan hati.

Yang jelas disini memang sudah cocok dengan ilmu saya. Dengan segala kemampuan yang telah diasah dan lebih "dihargai" bukan menuntut untuk disanjung-sanjungkan namun disini yang jelas lebih dimanusiakan. Alhamdulilah..

Senin, 14 April 2014

Senin Hening

Memasuki minggu ketiga saya bergabung sebagai staf di kantor pemerintahan ini. Rasanya ada yang menghambat ada juga yang ingin dicapai. Entah karena apa sepertinya berasa di persimpangan jalan. Masih bingung menentukan sikap harus menjalani ini seperti apa. Sekilas tentang kinerja saya disini, pekerjaan yang ada tidak terlalu berat, bahkan terbilang santai. Hanya rumpik saja untuk mengontrol Rumah Bahasa dan para tutornya. Selebihnya so far so good, tapi kadang bahkan sering ngantuk adanya. Bapak dan Ibuk disini sudah layaknya Ayah dan Ibuk saya bahkan seperti Om dan Tante saya. Rada gak nyambung dengan perbincangan urusan rumah tangga mereka atau persoalan yang saya sendiri tidak berani ikut campur. Kemudian saya juga masih menahan diri untuk beradaptasi lebih jauh.

Saya masih jaim, berucap hanya seperlunya saja. Menyapa mereka yang memang saya kenal saja. Saya tidak mau terlalu ramah atau terlalu sok dekat dengan mereka yang ada disini. Satu yang penting, saya terkesan takut dan menahan diri untuk jatuh hati pada kantor ini. Tapi saya yang salah. Keputusan bergabung dengan kantor ini hanya karena persoalan sialan di kantor lama yang hanya dengan orang-orang itu saja. Namun saya sudah tidak betah dan mau tak mau memang harus segera meninggalkan tempat yang dulu. Tapi yang membuat ragu justru ketika saya sudah bergabung disini, banyak tawaran dan penggambaran bahwa saya bisa lama kerja disini atau bahkan menjadi pekerja tetap. Tapi... saya merasa feel saya masih belum disini. Sebenarnya berapa bulan normalnya seseorang bisa beradaptasi dengan lingkungan kerjanya? Rasanay disini saya lempeng-lempeng saja. Tak ada hasrat lebih untuk mencapai karir yang mapan di kantor ini. Masih ada cita-cita lain yang ingin saya rengkuh dan saya disini malah terbilang angkuh.

Bersyukur adalah PR besar bagi saya untuk menghadapi semua ini. Saya terlalu menggerutu ingin ini itu tanpa pertimbangan bagaimana rasa syukur itu harusnya tumbuh. Tuhan selalu ada dan selalu mendengar umatnya. Maka maaf jika saya rempong minta ini itu. Tapi sungguh saya mungkin masih dalam masa transisi antara iya dan tidak untuk melanjutkan semua ini. Saya percaya pada doa Ibu yang selalu menyelimuti dan kerja keras Ayah yang selama ini menaungi. Bismillah, semuanya akan baik-baik saja. Saya hanya manusia biasa.

Jumat, 04 April 2014

MosaiKOREA

Acara MosaiKOREA diselenggarakan pada hari Rabu tanggal 2 April 2014 di Balai Budaya kompleks Balai Pemuda Surabaya. Lumayan bisa menghadiri acara yang bertajuk konser yang memadukan musik teradisional dan musik jazz dari para musisi handal Korea, pun dengan kolaborasi beberapa musisi dari Indonesia. Acara lumayan meriah dan tribun penonton pun bisa dikatakan penuh. Mungkin sebagian besar para hadirin khususnya K-Popers ingin mendengarkan musik-musik yang lebih terkesan "muda". Namun yang disajikan justru penampilan musik tradisional dari Korea. Namun yang cerdas adalah mereka memadukannya dengan musik Jazz sehingga lebih easy listening.

Well, rada miris juga aslinya pas kepikiran kenapa musik keroncong ataupun musik tradisional Indonesia lainnya tidak seberapa dihargai disini. Justru anak muda lebih cenderung menyukai musik tradisional dari negara lain. Katakanlah Korea, namun pembahasan ini terlalu klise memang. Dan saya rasa butuh kerja kerasa dari semuanya. Mungkin dengan adanya penampilan budaya dari luar negeri juga mampu memupuk rasa nasionalisme yang ada di diri mereka sendiri. Bukan berarti mereka berusaha melupkan atau meninggalkan budaya asli mereka. Mungkin pemuda Indonesia sedang pada tahap belajar dari budaya lain untuk mengembangkan budaya yang ada di negeri sendiri.

Rabu, 02 April 2014

Semoga Bukan April Mop

Terhitung sejak 1 April 2014 saya bergabung dengan Pemerintah Kota Surabaya sebagai outsourcing bagian kerjasama. Mungkin lebih spesifik dalam bagian kerjasama Luar Negeri dan untuk tugas utama saya difokuskan pada manejemen di Rumah Bahasa yang baru saja dibuka. Lumayan baru, meskipun kurang lebih pekerjaan yang lain saya sudah pernah mengalami di kantor lama saya. Saya cukup bangga dengan pekerjaan baru saya ini. Saya memang tidak berharap banyak (karena sejak awal tahun ini saya kehilangan passion saya). Saya rela tidak ikut ujian awal Paragon Cosmetik dan BTN. Saya juga rela melewati wawancara BII dan BNI. Apakah ini gegara pekerjaan ini? Mungkin.

Bila ditilik lagi, yang membuat saya bangga ialah karena saya hanya butuh waktu seminggu untuk mendapat pekerjaan. Ini diluar ekspektasi saya, tapi kembali lagi sejak awal tahun ini saya tidak memiliki ekspektasi apa-apa. Mungkin juga tekanan di tempat kerja lama membuat keinginan saya untuk hengkang lebih terasa. Bukan berarti saya tidak suka di tempat yang lama, namun kondisi di desk saya sungguh tidak sehat dengan adminnya yang tidak bisa diajak bekerjasama dengan akal yang rasional. (cukup! itu masa lalu)

Di tempat baru saya bertemu dengan orang baru. Beruntung ada sosok satu teman kenalan yang mampu membimbing saya masuk area dan ranah kerja disini. Seperti tenaga-tenaga PNS lainnya kalau boleh saya bilang mereka disini ya begitulah. Tidak punya hasrat dan ambisi yang terlalu besar. Mungkin selain cita-cita yang mereka punyai sendiri, yang saya tangkap dari mereka ialah mereka bekerja untuk negeri yang mereka anggap mengabdi. Sisi pengabdian dan kepolosan melihat kedepan inilah yang ingin saya pelajari dan dapatkan secara lebih.

Entah kenapa memang saya lebih passionless. Bukan berarti saya lelah dan menyerah untuk melangkah. Namun melihat realita kehidupan yang nyata saja saya sudah jengah. Saya hanya ingin melalui hidup ini dengan damai. Lupakan terlebih dahulu akan ambisi. Saya memang masih dalam proses mencari. Mencari apa yang memang menjadi kunci dari saya pribadi. Saya hanya ingin mengabdi dan balas budi. Mengabdi untuk negeri yang tengah goyah oleh para yang berambisi dan korupsi. Berbalas budi pada ayah dan ibuk yang kasih sayangnya tak berujung hingga nafas berhenti.

Rabu, 12 Februari 2014

Gagal Paham

Akhirnya rilis juga tulisan ini, setelah sempat mempertimbangkan segala sesuatunya. Tapi semoga dapat membantu meluapkan perasaan ini. Sorry to say. (Atau bahkan gak usah say sorry, secara rasional tetep akan ada pihak yang dirugikan)

Gagal Paham, pada diri sendiri yang entah melakukan apa untuk siapa dan kenapa ini semua dipertahankan
gagal paham, pada setiap nilai output yang ada dengan segala kerja keras yang hanya tiga hari saja
gagal paham, pada dia dan mereka yang dianggap biasa saja tapi nilai yang mereka terima lebih dari yang dinyana
gagal paham, pada beliau-beliau yang didambakan tapi ternyata diatas sana malah bersikut-sikut ria
gagal paham, dengan sanjungan buta arah pada diri yang jelas-jelas nilai itu dua terbawah dari rekan seangkatannya

Gagal paham, pada dia yang dengan pesona alim-nya namun justru mem-pehape orang seenak jidatnya
gagal paham, pada dia yang gegara banjir batal ke surabaya
dan tak membalas setiap tanya kabar yang tertuju padanya
gagal paham, pada dia sosok yang supel dan humble namun karena kejadian ini hanya tersisa perasaan mangkel
gagal paham, pada dia yang upload-an fotonya selalu ada di baris pertama namun untuk menanyakan kabarnya serasa sia-sia
gagal paham, pada dia yang tak jadi datang saat itu atau bahkan kapanpun juga yang tak mungkin untuk diharapkan

Gagal paham, pada dia dan dia yang yang selalu menjadi bahan curhatan para pabrikan
gagal paham, pada dia yang dengan santainya sambil makan siang menyuruh kami menghitung jumlah barang yang ratusan
gagal paham, pada dia dan dia yang bersuka cita bermain uno stacko sedangkan disini merana dengan segala tabel MoA MoU
gagal paham, pada dia dan dia yang selalu membawa kresek besar saat hajatan besar bulanan datang
gagal paham, pada dia dan dia yang selalu bersuka cita dengan running man atau apapun bentuk dari video korea

See? pada akhirnya setiap orang akan merasakan kegagalan. Namun yang digarisbawahi ialah bagaimana mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap kegagalan atau bahkan setiap peristiwa yanga ada di bumi ini.

Mungkin aku jadi belajar, bahwa tak seharusnya skripsi itu diabaikan. Harusnya lebih rajin bimbingan, lebih serius dalam pengerjaan, dan lebih sepenuh hati untuk mempersembahkan karya yang menjadi penutup manis di ujung masa studi.
Mungkin aku jadi belajar, bahwa tak terlalu berharap lebih pada seseorang yang memang selalu bisa berlaku baik pada semua orang. Tak ber-ekspektasi lebih pada orang yang memang standartnya jauh diatas rata-rata.
Mungkin aku belajar pula, bahwa perlu dada seluas samudera untuk menghadapi orang-orang yang batas rasionalnya tidak bisa dicerna. Belajar bahwa dalam setiap pekerjaan akan ada titik api dimana siap membakar setiap emosi yang ada. Belajar bahwa mungkin di bawah sini lebih berarti daripada diatas sana namun atas pencitraan dan cari muka saja.


Senin, 20 Januari 2014

Chase Dreams not People

Alhamdulillah sidang sudah. Meskipun hasilnya ya begitulah. Tapi tetap lapang dada dengan kenyataan bahwa para dosen penguji tahu kapabilitas saya. Sungguh melegakan melihat ekspresi kekesalan mereka karena tidak kepuasan terhadap kurang keseriusan saya dalam pengerjaan dan penyelesaiannya. Tapi apa mau dikata, terlalu dituntut oleh waktu. Tak mampu mengejar ego semu. Eniwei, kali ini bahasan tentang skripsi mari disudahi, ada hal-hal lain yang lebih penting untuk dikejar dan dikerjakan dengan ketekunan dan ketulusan hati. Sesuai judul diatas, saya hanya ingin kembali fokus pada cita-cita.

Mari lupakan sejenak tentang cinta. Apabila pernah membaca postingan saya sebelumnya, 2014 merupakan tahun ke delapan saya mengejar dia. Dia yang menjadi orang tersering yang menerima kabar dari saya meskipun tak bertanya. Dia yang selalu ada dalam sewindu terakhir, dengan segala keambiguan dan ketidak pastian yang kami alami. Hanya ingin tetap berada pada jalan saya untuk bisa meraih cita tanpa harus risau telah meninggalkannya. Karena bagaimanapun mimpi kami berbeda. Dan dia pasti punya seribu cara untuk mencapai impiannya. Dengan alasan apapun, tak pernah terbersit untuk memustuskan hubungan silaturahmi dengan dia. Tapi dengan jalinan yang ada justru menumbuhkan banyak harapan untuk bisa bersamanya meskipun itu tak mungkin.

Marilah kita kejar mimpi. Bukan orang di masa lalu yang selalu menjadi bayang semu. Bukan orang yang selalu membalas pertanyaan kita dengan kaku. Bukan orang yang lucu namun juga membuat hati kita sendu. Bukan orang yang selalu kita impikan namun dalam kenyataan jauh darijangkauan. Bukan berarti menyerah namun memang terkadang harus direlakan untuk kebaikan bersama. Untukmu dengan siapapun kau akan bersanding kelak, I wish you a very very happy life!

Kamis, 16 Januari 2014

Doa Untuk Skripsi

Bismillah...
17 januari 2014 pukul 13.00 semoga semesta berkonspirasi demi kelancaran sidang skripsi ini...
Doaku tidak muluk-muluk, karena nilai A di HI UA hanya bagi mereka mahasiswa-mahasiswa setengah dewa dan setengah nabi.
AB bagi mereka yang telah berusaha sekuat tenaga, berdoa tanpa cela, beimbingan dengan setia, jawaban yang masuk akal dan mudah dicerna, serta alasan-alasan keilmuan lain yang memang begitu baku adanya.
B bagi mereka yang benar, sedikit istimewa, runtut jalan pikirannya dan berwibawa dalam bertutur kata.
BC bagi yang telah berusaha, namun agak keliru di salah satu bagian skripsinya dan ke apesan untuk terus mengelus dada.
C untuk mereka yang gugur dalam pemikiran, RM tidak jelas dan kecenderungan atas unsur paksaan dosen pembimbing untuk meng-ACC skripsinya
D untuk mahasiswa yang sungguh istimewa dan selalu diingat keberadaannya.
E bagi mereka yang tidak selesai skripsinya.

Aku, hanya ingin mendapatkan nilai yang seperti mahasiswa lain yang biasa namun telah berusaha dalam pengerjaan skripsinya. Tidak ingin terlalu berharap atas apa yang telah diserahkan, namun jangan sampai menjadi nilai yang sangat sulit dicerna oleh hati nurani dan akal sehat. Hanya ingin dilapangkan dada apapun hasilnya, karena segalanya membutuhkan proses, bukan hasilnya.

Semoga dilapangkan dada ini dan Ya Alloh Gusti Pengeran berikanlah kekuatan untuk menghadapi ujian ini.Untuk jantung yang tak berhenti berdetak cepat, untuk nurani yang ingin segera pergi dari keadaan ini, untuk otak di kepala yang selalu berusaha keras menemukan jawaban yang nalar, untuk bibir yang tak letih berdoa memohon hasil terbaik dari sang Ilahi. Wish Me Luck.

Bismillah
(Harapan itu masih dan pasti ada)

Gratitude and Salute to 2009

Percayalah bahwa tulisan ini hadir untuk menghargai kalian yang telah rela menjadi ojek disaat jalanan jojoran dan sekitarnya becek. Menjadi teman bercanda yang bisa saling melepas tawa, menjadi tempat merenung dalam suasana hati yang bingung. Menjadi teman untuk segala sesuatunya baik itu yang menyenangkan maupun menyesakkan. Untuk semuanya yang telah ada dalam empat tahun empat bulan dua puluh sembilan hariku mengisi hari di Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Untuk menjaga intensitas dan keadilan akan peran kalian mungkin aku lebih bijak bila memuat lingkaran prioritas layaknya lingkaran politik luar negeri Indonesia. Antara lingkaran yang satu dengan yang lainnya memiliki nilai urgensi masing-masing yang layak untuk didahulukan keterdekatannya. (Siap-siap membaca nama kalian).

Pertama tentu aku sangat berterima kasih kepada anak kosan.  Sebagai salah satu teman terdekat baik dalam ukuran jarak kosan dan jarak ketergantungan untuk menitip beli makan. Faris, Tito, Alvin Kates, Rizal sebagai anak kosan tersisa. Serta Salman, Faisal, Yusa, Hafiz yang telah terlebih dahulu pindah. Terimakasih kepada kalian semua yang telah rela menjadi tukag ojek selama ini ketika kaki terasa manja  untuk pergi kuliah atau untuk sekedar makan di warung-warung favorit kita. Selain karena hal-hal urgent dan bersifat mencari "parasitisme" itu, tentu ada hal-hal lain dalam urusan pertalian pertemanan. Faris Hidayat yang menjadi teman  pulang ke gresik, teman ngobrol tentang masa depan, teman yang memberikan nasehat positif yang walaupun sederhana namun memang itu yang seharusnya ada pada realita dunia nyata. Salman Fauzi, dengan segala kerendahan hati dan sosok pria yang bertanggung jawab yang mampu menjadi benteng terkuat dalam urusan angkatan, asmara, dan amarah.Fatrachul Yusa yang eksentrik namun di sisi lain memiliki intrik yang cerdik yang selalu menjadi teman diskusi yang asik. Rizal Baktiar, teman kantor, teman ke Pare, teman mencari makan yang selalu ada ketika aku membutuhkan. Selalu lapang dada dengan sifat polos dan periang. Kalian merupakan teman, sahabat, dan keluarga terdekat yang bisa ku jamah disaat-saat genting. Untuk segala tebengan, traktiran, candaan, omongan, kalian sangat luar biasaaaaaaaa!

Kedua kepada geng hedon yang selalu menjadi tempat berkeluh kesah dan juga partner dalam hura-hura. Malinda, Vava, Handy, Affan. Malinda Budi sang wanita idaman segala macam pria. Sosok yang selalu ku jadikan panutan dalam kesabaran, kesupelan, kegigihan dalam setiap meraih keinginan. Selalu ada untuk mendengar segala cacatan. Vava Clarissa sang gadis periang dan teman heboh untuk segala macam penampilan. Tekun, ulet, pantang menyerah di arena deteksi Jawa Pos. Namun tetap periang dalam setiap kesempatan. Aku, Malinda, Vava kita merupakan cewek-cewek kuat! Handy dan Affan. Dua Cak Surabaya yang menjadi teman hedon dan menjelajahi gemerlapnya kota Surabaya (bersama dua gadis sebelumnya pula). Terimakasih untuk segala traktirannya. Karaoke, nobar, nengkri, nyacat, ndudung, sop ceker, dan hampir setiap cafe gaul yang pernah kita jelajahi bersama. Namun dibalik itu semua kita tetap menjadi friends with benefit, walau entah kalian menganggap aku benefit dari sebelah mana. Tapi intensitas pertmuan kita yang hampir setiap hari, cerita yang bukan menjadi rahasia pribadi, serta keinginan untuk berkarir di Ibukota negeri ini membuat kita selalu terasa ada satu sama lain dan kalian menjadi salah satu alasan bahwa kau tak akan pernah menyesal pernah kuliah di HI. Kalian sosok-sosok kece dan OKE yang membuktikan bahwa pertemanan tidak memandang kelas sosial, namun pertemanan kita ada karena ketulusan menjalin persahabatan antara kita satu sama lain. Tidak untuk mencari kejelekan atau kelemahan masing-masing namun justru mensupport jalan dan karir msing-masing. Bukan untuk sekedar mencari tebengan dan gratisan namun untuk membagi kebahagiaan dan karunia Tuhan. So, Let's  make it happens --> Senayan 1 Oktober 2014.

Berikutnya untuk segenap geng hore dan memble yang ada. Mami Sheila, Citra, Anita, Citra, Tya', Lil, Meutia, Rena, Deka, Teh Sari, Ichak, Erryn, Prima, Dindo, Ayak. Terimakasih kalian telah menjadi salah satu bagian perjalanan melintasi rintangan dan hambatan di HI dengan segenap gossip, teriakan, candaan, dan kesetiaan kalian. Eksistensi kalian tidak perlu diragukan lagi. Mami aku akan selalu menghormatimu. Citra Adelia sang top model dan aktris antagonis terbaik sepanjang abad. Anita Kurnia yang pintar, cerdas, dan tidak sombong. Tyak Paramitha teman dalam sharing kehebohan dan berbagi info seputar konser apalagi kita d'essentials. Lilik Nur Cholidah teman yang periang, ramah, baik hati, dan suka berbagi. Meutia Shabrina sang atlit tenis nomer wahid se-Gresik dan sekitarnya. Rena Ardianti yang walau renta namun tetap bersahaja dan tabah. Siti Ardila Deka, teman curhat terbaik dan termanis, teman karaoke dan hedon yang tiada tara. Teh Sari Aulia yang cantik baik, rajin menabung dan langsing, Erryn Paramitha yang rempong namun tetap kece. Arissa Ichak yang tidak perlu dideskripsikan (daripada pembaca menyesal). Prima Aji NOva sang artis yang membahana membelah khatulistiwa dan Kolaka. Dindo Permata yang baik rajin dan teun beribadah. Ayya Nufus yang tinggi cantik langsing sang calon pramugari. Arini yang baik dan sudah siap jadi ibu. Rizka Rozaline yang kece dan layak disebut Rianti. Winda Rafikalia yang tetap awet bersama pacarnya. Bukan berarti geng lain tidak berarti, tentu kalian tetap di hati. Adhi Paidi sang Bapak Komting yag royal, baik, suka ngawur. Ravi sang Pakistan yang pintar seperti google berjalan.

Ratna, Anjar, Dinar Prisca sang tiga sekawan yang sulit untuk mebedakan antara satu dan yang lainnya. Unyil Sulih Dian, Trully, Ocik, Tsabita, Anggia, Bella, Moze, Dinar Okti, Maygy, Fanny Angelia, Sophi, Pika, Dhana yang tiada duanya, Maleona, Felli, Ensi, Mitha, Dindya. Arif dan Dias yang menguassyai dan kalian mempunyai bahasa kalian sendiri. Arek Bolshevik Taka, Indra, Arya, Dhwani Dokter meski diawal begitu, namun pada prosesnya kita tetap 2009 jua. Hendri, Pakdhe, Kurniawan, Ferry, Mandra, Rere, Okky Gilang, Putra meskipun kita tidak hari dalam seminggu bertemu namun kita tetap padu. Dan tentu untuk Sinta yang senyum tulusnya tiada duanya. Serta doa yang terbaik bagi kalian yang mencoba peruntungan di jalan masing-masing Matius, Ni Made, Dodon, Abduh, Natya, Septino, Ari Wok.

TERIMAKASIH dari hati yang terdalam untuk kalian para teman, sahabat, saudara. Mungkin sudah ada yang lulus dan ada yang belum. Ada yang sudah menikah dan ada yang masih setia sendiri. Pun kita akan berkarir di jalan yang berbeda namun semoga kita tetap terikat dengan almamater tercinta serta tetap membagakan HI UA. Aku tidak pernah menyesal untuk memilih dan masuk di Jurusan ini. Sungguh membanggakan dan melegakan menjadi bagian dari kalian. Mungkin kita pernah berselisih paham tentang apapun, namun semoga kita dikuatkan dan menjadi lebih dewasa serta menjadi bijak dalam setiap pergolakan masalah yang ada. Untuk setiap memori dan pelajaran yang ada, dari hati ini yang terdalam aku berdoa semoga kita sukses untuk mewujudkan setiap impian dan harapan yang kita idam-idamkan. Maaf aku kurang berkontribusi lebih dalam angkatan ini. See You on TOP guys!

(Tulisan ini hadir untuk mengakomodir terbatasnya halaman dan jumlah kata pengantar pada Skripsi)


Salim Sungkem
--Angga-- 070912002

Rabu, 01 Januari 2014

2014 have to...

- Graduate
- New Job, new place, new experiences, new partner and friends
- Move On
- Give more, expect less
- Smile more, frown less
- visiting 5 new places (Where I'm never been there before)

2013 was so wonderful, please please please make 2014 more fabulous cause this is the new milestone of my life. live it, love it, lust this!