Rabu, 30 Januari 2013

Terjebak Nostalgia - Raisa

Telah lama ku tahu engkau

Punya rasa untukku

Kini saat dia tak kembali

Kau nyatakan cintamu

Namun aku takkan pernah bisa

Ku 

Takkan pernah merasa

Rasakan cinta yang kau beri

Ku terjebak di ruang nostalgia
Semua yang ku rasa kini

Tak berubah sejak dia pergi

Maafkanlah ku hanya ingin sendiri
Ku di sini

Namun aku takkan pernah bisa, ku

Ku 

Takkan pernah merasa

Rasakan cinta yang kau beri

Ku terjebak di ruang nostalgia
Semua yang ku rasa kini

Tak berubah sejak dia pergi

Maafkanlah ku hanya ingin sendiri
Ku di sini

Titanium

You shout it loud, but I can't hear a word you say I'm talking loud, not saying much I'm criticized, but all your bullets ricochet you shoot me down, but I get up
I'm bulletproof, nothing to lose fire away, fire away ricochet, you take your aim fire away, fire away you shoot me down, but I won't fall I am titanium you shoot me down, but I won't fall I am titanium
Cut me down, but it's you who'll have further to fall Ghost town and haunted love Raise your voice, sticks and stones may break my bones I'm talking loud, not saying much
I'm bulletproof, nothing to lose fire away, fire away ricochet, you take your aim fire away, fire away you shoot me down, but I won't fall I am titanium you shoot me down, but I won't fall I am titanium
I am titanium
I am titanium
Stone hard, machine gun Fired at the ones who run Stone hard, as bulletproof glass
You shoot me down, but I won't fall I am titanium You shoot me down, but I won't fall I am titanium You shoot me down, but I won't fall I am titanium You shoot me down, but I won't fall I am titanium
I am titanium


Selasa, 29 Januari 2013

Family Ouch Think

Ada kalanya bahwa aku sangat penat dengan kehidupan Surabaya yang padat dan pekat. Disaat seperti itu hal yang biasa ku lakukan ialah berinisiatif untuk pulang ke kampung halaman Rembang yang menyajikan seluruh udara segar yang ku butuhkan. Dengan suara gemuruh ombak yang berteriak, serta semilir angin yang bergulir lirih di setiap pantai pasirnya. Sudah sebulan lebih ini aku belum pulang ke Rembang. Cukup lama bagiku dan aku sudah sangat penat dengan hingar bingar Surabaya ataupun desah gerimis hujan yang membuat banyak orang menjadi tidak enak badan. Namun keinginanku untuk pulang enggan terwujud karena adanya pekerjaan dan juga weekend yang hanya ku gunakan beristirahat dan hanya berdiam diri di kamar kosan. Aku masih merasa belum pas bila kembali ke Rembang meskipun udara pantainya telah berada diawang-awang. Tidak hanya karena pantai, ombak, dan desiran pasir yang ku rindukan, namun keluargaku mulai dari Ayah, Ibu, Kakak, Adik, Bulek, dan handai tolan disana membuatku semakin rindu pada kampung halaman. Namun sekali lagi aku masih belum memperioritaskan untuk pulang ke Rembang.

Aku merasa bahwa semakin kesini aku semakin sadar bahwa tanggungjawabku semakin besar. Segala sesuatunya menjadi kekhawatiran. Aku takut apa yang akan terjadi esok setelah aku selesai kuliah di UA ini. Aku takut menjadi pengangguran yang kembali ke kampung halaman dan menjadi sampah masyarakat. Dan yang paling ku takuti ialah bagaimana aku tidak dapat menjaga bahkan ekspektasi orangtua. Baru saja kemarin terungkap bagaimana ternyata mereka sangat mengharapkan aku setelah aku sudah mulai bekerja nanti. Sesak, aku merasa belum siap dengan segala pertanyaan aku kerja apa, dimana, ngapain, bahkan menyangkut urusan gaji. Aku tidak siap betul menjawab setiap pertanyaan alami yang muncul bagi para mahasiswa semester akhir. Aku hanya terlena dengan keinginanku yang ini dan itu. Namun aku malah mengabaikan apa yang diinginkan oleh orangtuaku. Kami memang dari keluarga yang tidak punya dan berada, sehingga seharusnya kau paham betul bahwa aku sebagai anak satu-satunya yang disekolahkan ke jenjang setinggi sudah selayaknya untuk menjunjung derajat mereka. Perih, melihat kenyataan bahwa Ayah sudah terlalu renta untuk melanjutkan bekerja. Sedih, setiap mendengar kata Ibu tetang harapannya yang tinggi untuk anaknya ini. Maaf saja bukan lah jawaban yang harus terucap disaat seperti ini. Aku bingung, galau, sedih, dan bahkan tidak tahu harus berkata apa untuk mereka. Diam yang katanya ialah emas, namun untuk saat ini diam merupakan jawaban penghianatanku pada bakti orangtua.

Sejujurnya aku ingin berkata bahwa inilah kemauanku Yah, Buk. Aku ingin mengungkapkan pada mereka bahwa sekarang ini sarjana saja tidak menjadi penjamin untuk dapat kerja. Dapat kerja mungkin, tapi apakah itu sesuai dengan keinginan dan hasrat peminatan anakmu selama ini? Kerja dimanapun saja rasanya aku sanggup namun apakah lantas dapat memenuhi ekspektasi tentang materi? Aku saja masih sangat takut melihat kenyataan bahwa pergulatan dalam mencari pekerjaan itu susah. aku saja masih buta harus merintis karir darimana. Hopeless! Setiap orangtua pasti menginginkan pendidikan yang lebih baik untuk anaknya. Aku merasakan hal itu juga yang terjadi pada Ayahku. Sebagai anak seorang petani beliau hanya sampai SR (Sekolah Rakyat), namun dengan keberaniaannya beliau memutuskan untuk keluar kampung dan berkelana hingga menjadi sosok Ayah yang luar biasa bagi aku anaknya. Aku selalu haru saat menjumpai Bapak-bapak dimanapun berada yang telah renta dan masih melaksakan pekerjaannya entah apapun itu nama profesinya. Aku selalu membayangkan hal yang sama, bahwa Ayahku di sisi lain wilayah jawa ini juga turut bekerja keras demi anak-anaknya. Ayahku yang sangat tidak suka bila anaknya tidak tidur dirumah, namun dibalik itu beliau mengajarkan bahwa sejelek apapun rumah kita namun kita harus tetap mengahrgai dan menerima Anugerah-Nya. Ayahku bukanlah seorang Profesor yang bergelar panjang dibelakang namanya, namun dari Ayahku lah aku diajarkan bagaimana berfikiran untuk maju dan  jangan pantang menyerah. Ibuku, seperti Ibu-Ibu lain yang menyayangi anaknya. Dibalik keceriwisannya terpancar perhatian. Dibalik kengeyelannya tersimpan rasa kasih sayang yang luar biasa untuk anaknya. Ibuku dengan segala kerendahan hati yang dimilikinya selalu berusaha untuk membahagiakan anaknya. Ibuku yang selalu mengingatkan aku untuk tetap hormat dan taat denga Ayah dan dirinya.

Seharusnya aku faham apa yang diinginkan mereka. Seharusnya aku lebih peka bahwa tanggungjawabku tidak hanya sebatas sarjana saja. Ada satu dan dua hal yang itu ialah harapan kedua orangtua agar aku sukses di dunia. U

Cinta Saat KKN Itu Hanya Seberat Kaleng Kosong


Sebagai seorang mahasiswa tentunya anda akan mengenal apa yang namanya KKN (Kuliah Kerja Nyata). Salah satu program wajib untuk tamat belajar di perguruan tinggi serta menjadi bukti bagaimana sudah sepantasnya tugas mahasiswa untuk mengabdi pada negeri. Program yang ditawarkan tentu berbeda-beda tergantung dengan segala latar belakang setiap mahasiswa dengan pendidikan ataupun jurusan yang diambilnya. KKN menjadi hal yang tak terlupakan tentunya, karena biasanya disana menyajikan kisah unik, lucu bahkan romantis dengan segala aktivitas yang telah dilakukan. Yang paling menarik tentunya bagaimana kisah cinlok (cinta lokasi) yang terjadi di dalamnya. Ada sebagian yang berhasil mendapatkan apa yang didambakannya ada pula yang tidak berhasil dan kembali dengan nasib sebagai penegembara cinta. Tulisan ini hadir untuk sekedar mengemukakan pendapat saya bahwa, apa yang ada saat KKN hanya akan bertahan saat itu juga. Namun tidak dengan KKN di desa saya (Lihat posting terdahulu dimana saya KKN). Sayangnya kisah asmara yang ada dan kami bawa tak begitu lancar sebagaimana pengharapannya.

Sepengatahuan saya hampir di setiap desa yang menggelar KKN akan ada benih-benih asmara diantara para pesertanya. Entah itu sampai hal yang lebih serius atau hanya menjadi isapan jempol belaka. Namun cinlok menjadi topik yang lumrah dimanapun saja KKN tersebut berada. Menurut teori saya menganut pada tresno jalaran soko kulino nya wong jowo. Cinta hadir diantara dua insan yang tak bersalah ini karena berawal dari kebiasaan, kebiasaan untuk saling perhatian, perhatian yang akan tumbuh menjadi saling mengingatkan dan di dalam lubuk hati yang terdalam mulailah muncul cinta yang terpendam. Tidak hanya yang single, yang taken pun bisa terkena virus cinlok saat KKN ini. Bukan berarti sang taken ini tidak bisa menjaga amanah untuk LDR (Long Distant Relationshiiiit!) dengan kekasih yang telah dia punya, namun keadaan kadang membuat mereka harus khilaf dan lupa sehingga dia sang taken menerima kenyamanan yang dia terima disaat sang kekasih nun jauh disana. Sang single pun terlanjur semangat untuk mengejar cintanya. Sehingga dia pun masih memperjuangkan kaidah tidak menyerah sebelum janur kuning merekah sebagai tanda sah menikah. Suasana, menjadi faktor utama bagaimana virus cinlok ini menyerang para pasiennya. Seringnya bicara, tertawa, bercengkerama dan menghabiskan waktu bersama membuat mereka lupa bahwa mereka sebagai salah dua diantara para mahasiswa yang sedang mengemban amanah. Namun hal tersebut dirasa lumrah karena diantara mereka berdua sudah tumbuh perasaan untuk saling suka. Tiga minggu mencari cintapun berhasil dirampungkan dan tinggal menunggu episode-episode berikutnya.

Singkat cerita, setelah pulang KKN setiap para pesertanya pasti akan bilang mereka kangen A, B, C dan D. Sang pejuang cinta ini pun akan berusaha untuk menjalin kembali hubungan dan kisah asmaranya. Syukur kalo bisa langgeng. Namun tidak jarang yang kemudian hubungan terebut menguap di tengah jalan. Alasan kembali ke kesibukan masing-masing. Berkumpul dengan teman sejawat serta hamburan tugas yang kembali mendera merenggangkan persebaran virus cinlok KKN. Belum lagi yang sudah taken, dirinya akan kembali sadar bahwa dia telah khilaf dan akan kembali ke jalan yang benar yaitu mengarungi bahtera asmara dengan sang pacar yang telah dia miliki sebelum dia KKN. Tapi, ada juga sebuah hubungan yang patah akibat KKN. Alasan cemburu dan di duakan tentu menjadi alasan klise bagaimana sebuah hubungan malah retak setelah KKN diselesaikan. Kasihan bagi yang mengalaminya karena hanya akan ada kenangan pahit tentang KKNnya. 

Tiga bulan setelah KKN ada kalanya masih ada yang mencoba untuk berkumpul bersama teman sedesanya. Namun lebih banyak lagi yang kembali sibuk dengan segala aktivitasnya. Namun yang justru kasihan lagi ialah sepasang orang yang paling dibahagiakan saat KKN justru benih-benih asmara diantara keduanya malah sirna. Sehingga mereka harus kembali ke awal untuk menyanyikan lagu "somebody that I used to know". kesimpulannya ialah, cinlok saat KKN tidak berlangsung dengan lama kawan. Tak usah khawatir, karena dua tiga bulan sesudahnya semuanya akan kembali ke jalan hidup masing-masing. Jodoh memang di tangan Tuhan, namun manusia yang mencarinya. Tidak hanya saat KKN, karena dunia ini lebih lebar dari daun buah kelengkeng dimana kau akan siap bertemu dengan siapa saja orang yang tampak lebih keren daripada incaranmu saat KKN. Bagi yang punya pasangan, percayalah bahwa KKN hanya sebulan dan tak sebanding dengan jalinan kisah kasih kalian yang telah berlangsung tahunan.

Don't worry about KKN, just have fun and drink a lot of orange in canned.

Jumat, 25 Januari 2013

Lost In Love (SNSD with translation)

[Taeyeon] Urin jigeum jeongmallo heeojin geolkka anim yaksokhandaero jamsi meoreojin geolkka
Naneun I jeongdomyeon chungbunhi doen geot gateunde wae amureon sosigi eomneun geolkka

[Tiffany] Neoreul saranghae kkeutdo eomneun gidarimirado gwaenchanha
Niga nareul dasi chajeul ttaemyeon eonjena neoreul hyanghae useo jul su inneunde

[Tiffany/Taeyeon] Ajikdo badadeuril su eomneun geolkka niga kkeonaetdeon yaegin ibyeoreul dollyeo malhan geot
Naneun gojigotdaero bada deurigo sipeo neoneun jigeum mueol hago isseulkka

[Taeyeon] Neoreul saranghae kkeutdo eomneun gidarimirado gwaenchanha
Niga nareul dasi chajeul ttaemyeon eonjena neoreul hyanghae useo jul su inneunde

[Tiffany] Ije jogeumssik na seulpeojigo niga tteonan geol silgamhajiman niga doraomyeon jalhaejugetdan saenggakppun
[Taeyeon] Wae ireoke miryeonhageman gulkka naege jueojyeotdeon sigandeureun ([Tiffany] Sigandeureun) uri sail jeongnihagi wihan siganil ppun

[Tiffany] Seulpeuji anha niga nareul chajeul georaneun geu mideumeun
[Taeyeon/Tiffany] Naui sarangeul deo dandanhage mandeulgo naege saraganeun himeul juneun geol



---Translation---

Are we really breaking up now.
Or are we just separated for a moment, like how we promised to be.
This separation is already enough for me.
Why haven’t I heard from you.

I love you, I can wait for you endlessly.
When you come to find me.
I can smile at you, always oh.

Am I still unable to accept it.
That you turned around and announced our separation.

I just want to accept the truth as it is.
What are you doing now?

I love you, I can wait for you endlessly.
When you come to find me.
I can smile at you, always oh.

Now that sadness slowly accumulates.
Although I know that you really left.
I can only hope to be nicer to you when you are back.

Why am I behaving so stupidly.
The time that you gave me.
Is just time for us to even things out between us.

I’ll not be sad.
For the belief that you’ll come to find me.
The belief makes my love stronger.
And gives me the energy to live on.

Men Sana In Corpore Sano (Melas pool nek wayahe loro)

Musim hujan membuahkan banyak orang gampang terkena sakit. Salah satunya aku yang terserang flu dan batuk berdahak yang sangat mengganggu aktivitasku. Lumayan kaget juga saat mengalami hal ini, bukan apa-apa tapi aku jarang terkena sakit. Karena dengan nafsu makan yang brandalan aku menganggap bahwa imunitasku pasti cukup kuat untuk menahan penyakit. Tapi yang harus digaris bawahi ialah selama ini sakit yang menyerangku hanya sekitar urusan perut, mag, asam lambung tinggi, masuk angin dan ini yang paling sering bahkan setiap hari SARIAWAN. Sariawan telah menemaniku sejak kecil, sehingga sekarang rasanya aku biasa saja bila ada sariawan yang menempel di bibir dan lidahku. Aku sudah tidak merasa perih lagi, meski aku sudah menyediakan albothyl, tapi sampai satu tahun ku beli obat tersebut hanya ku pakai sekali. Itu saja karena kebutuhan yang mendesak, saat sariawan tanpa iba membabi buta sekujur lidah padahal besoknya aku harus ujian lisan SPAS. Yap, hanya kali itu akhirnya aku menggunakan albothyl, selebihnya aku mencoba untuk tetap menikmati setiap makanan yang ku kunyah msekipun ada rasa perih dan nyeri di bibir dan lidah.

Berikutnya ialah penyakit yang berkaitan dengan urusan perut. mag, sudah pasti ada karena sebagai anak kos seringnya aku malas makan karena harus jalan dulu lah, uang saku yang mepet lah, atau karena hujan yang tak kunjung reda sehingga pola makanku jadi sekenanya. Namun paling hanya dikasih makan saja rasa perih di perut kemudian reda. Atau kadang lantas minum obat mag itupun tidak sering, hanya sekali atau dua kali saja aku pernah menelannya. Atau masuk angin, karena terbiasa terjaga hingga larut malam lantas badan ini merasa meriang dan kembung di perut. Kerokan, tidur, makan ialah obat yang paling ampuh sehingga membablaskan angin yang ada.

Justru aku dua bulan terakhir merasa rapuh dan gampang terkena penyakit. Padahal makan sudah teratur. Dulu hanya dua kali aku pernah pergi ke dokter, yang pertama saat SMP kelas 2. Aku masih ingat saat itu masih H+ ke berapa saat Hari Raya, namun aku terbaring lemas dan sampai akhirnya di bawa ke dokter. Setelah terkena suntikan obat dari dokter justru aku malah pingsan. Aku masih ingat betul bagaimana kepala ini dengan kerasnya terbentur di lantai. Yang kedua ialah saat kelas 2 SMA. Beberapa hari setelah pulang kemah, aku merasa sangat payah sehingga dibawa ke dokter. Kejadiannya sama, setelah aku disuntik aku merasa mual, alih-alih berlari keluar karena mau muntah justru aku tergeletak di lantai dan akhirnya pingsan juga. Bahkan aku sampai harus dirawat kurang lebih seminggu di Puskesmas dekat rumah. Aku mengira-ngira bahwasanya sekali aku sakit, dan kemudian dibawa ke dokter apapun itu sakitnya aku langsung tergeletak pingsan. Aku tidak takut terhadap jarum suntik, tapi aku juga tidak paham dengan segala macam obat, overdosis, antibiotik atau apalah itu tentang istilah kesehatan dan kedokteran.

Saat kuliah ini aku sangat berusaha untuk menjaga kesehatan agar tidak jatuh sakit. Aku menyadari bahwa dengan kondisi yang jauh dari orangtua aku harus bisa untuk tetap fit. Jikalau badan ini terasa mulai pening atau perut terasa nyeri aku segera melakukan langkah-langkah preventif. Istirahat lebih cepat, makan mulai teratur atau keinginan dalam batin ini bahwa aku harus sembuh dan sehat. Justru dua bulan lalu aku merasa di titik nadir kesehatan. Awalnya hanya perih di perut saja, namun pinggang bagian belakang rasanya tidak mau diajak kompromi untuk duduk dan berdiri, maunya berbaring lurus. Sungguh pertama kalinya ini kau merasa sangat kacau. Aktivitas dikantor dan presentasi saat kuliah pun terganggu. Hingga aku memutuskan ke klinik milik kampus. Dokter yang jaga hanya bilang kalau ini urusan lambung. Asam lambungku harus dijaga terangnya. Dan pinggang belakang yang sakit ini hanya efeknya saja. Oke, it's fine. Justru yang ngeri ialah saat rekan sekantor ku si princess yang bilang bisa saja aku terkena ginjal. Karena gejalanya hampir sama dengan adiknya yang pernah mengalami nasib serupa. Yang benar saja --_--!! Aku tidak berani bilang ke orangtua karena takut bila mereka malah khawatir. Sehingga aku hanya menjaga tubuh yang telah payah ini dengan minum obat dari dokter klinik kampus tadi dan beristirahat secukup mungkin. Alhasil sekitar dua hari kemudian aku bisa beraktivitas kembali.

Yang terakhir ialah yang sekarang ku alami. Flu dan Batuk yang menurutku terparah sepangjang perjalanan hidupku. Berawal dari terkena hujan gerimis biasa, namun besoknya badan ini langsung merasa renta. Terkena AC sedikit langsung menggigil diikuti oleh flu yang membuat aku tak bisa menghirup udara segar. Dan batuk berdahak yang sangat membuat tenggorokan menjadi sesak. Aku membeli salah satu obat untuk menghilangkannya. Rasanya sudah dua hari ini memang lebih baik, namun belum sepenuhnya hilang. Yang ku khawatirkan ialah apakah imuneku sudah menurun? Padahal banyak aktivitas yang harus ku jalankan. Intinya aku tidak mau untuk mudah sakit. Aku tidak mau terlalu lemah sehingga ketika menjalankan segala aktivitas menjadi sangat mudah lelah. Aku selalu percaya bahwa kalau didalam diri ini ada motivasi sehingga memunculkan sugesti untuk tubuh ini tetap sehat dan kuat maka semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak terlalu sering ke dokter dengan alasan apapun. Kalaupun asam lambungku naik, aku telan saja sebatang sabun mandi untuk meredakannya. Kalaupun sariawan ini datang, aku sudah sangat terbiasa sampai bisa mengucapkan "Halo selamat datang sariawan". Demi masa depanku yang panjang, demi skripsi yang mulai tampak jalan terang, dan demi ayah dan ibu yang ada di Rembang, aku ingin tetap sehat dan kuat untuk meraih cita-cita yang telah tertambat. Sakit, entah apapun itu jenismu tolong jangan mampir ke badanku.

Selasa, 22 Januari 2013

Badminton VS Tennis

Olahraga ini punya pegangan yang sama, namun berbeda segalanya. Bentuk lapangan secara pattern terlihat serupa, namun ukuran dan tempatnya jauh berbeda. Hadiah utama setiap ada turnamen pun berbeda pula. Di Tenis ada Grandslam yang diselenggarakan di empat negara berbeda, tiga benua, dan tiga jenis lapangan yang berbeda. Badminton sekitar tahun 2008 juga menerapkan hal yang serupa dengan nama Super Series Premier. Namun tetap saja hal olahraga ini tampak bertakdir berbeda. Meski dua-duanya masih dimainkan di Olimpiade.

Sangat penasaran mengapa kedua olahraga ini tampak sangat berbeda. Misalnya dari jumlah hadiah, Super Series Premier yang menyajikan hadiah ratusan ribu dollar, hanya setara dengan turnamen tenis yang berlevelkan international tour. Di grandslam, hadiah yang diterima seorang pemain single mampu setara dengan seluruh hadiah total di SS Premier Badminton. Tentu pemain tenis ini akan lebih kaya secara material daripada atlet bulutangkis. Kemudian, di badminton hampir seluruh hadiah yang diberikan berjmlah sama antara pemain ganda dan tunggal. Namun di tenis, hadiah yag tersedia untuk ganda putra dan putri lebih sedikit daripada hadiah pemain tunggal. Apalagi hadiah untuk ganda campuran terhitung yang paling sedikit. Namun tetap saja tenis mampu lebih menggema dalam hal prestige. Mungkin hal yang mendukun iala persoalan akan iklan dan sponsor. Di tenis, brand terkenal seperti Nike, Adidas, ataupun Fila memiliki peran dalam hal busana atau pakaian. Tapi di raket mereka ditunjang oleh Yonex, Ballboat, dan Prince. Sedangkan di badminton selama bertahun-tahun Yonex mendominasi bulutangkis dari mulai raket, kaos, hingga sepatu yang dikenakan oleh para atlet. Baru beberapa tahun belakangan muncul merek-merek baru seperti Li Ning, Victor, dan Gosan. Sehingga terdapat sedikit persaingan produk antara brand tersebut.

Persoalan yang lain ialah bagaimana Tenis sangat menggambarkan individualitas dan liberalisme. Sedangkan di Bulutangkis hanya negara yang seolah menjadi sponsor utama dalam perhelatan dan setiap kompetisi yang dimainkan. Sehingga jarang ditemui adanya bintang-bintang baru dalam bulutangkis. Yang hadir ialah dominasi dari salah satu atau beberapa negara saja. Seperti China, Indonesia, Korea dan negara-negara Asia lainnya. Ini kemudian menggambarkan bahwa Tenis ialah olahraga yang lebih digemari oleh Barat sedangkan Bulutangkis mewakili Timur. Sehingga darisini terlihat bagaimana sportivity divide itu terjadi.

Becoming OS (Occasionally Serenity)

Akhirnya hari itu datang juga, setelah hanya tersampaikan lewat beberapa sumber yang terpaya keputusan agar aku jadi naik satu level lagi terwujud. Yang berawal dari resolusi 2013, ternyata tiga minggu kemudian hal tersebut tercapai. Memang segala sesuatunya telah direncanakan-Nya untuk maksud yang terbaik bagiku. Karir yang ku bilang mulus dan didukung oleh rekan-rekan yang tulus. Alhamdulillah... Next, aku berfikir bahwa dengan kondisi yang akan terjadi maka tanggungjawab yang ku tanggung pasti akan lebih berat. Namun segala sesuatunya tentu harus diusahakan terlebih dahulu dan just follow the dragon. Terimakasih atas kepercayaan yang telah diberikan. Semoga kedepan aku bisa lebih beradaptasi, lebih berkontribusi,serta lebih paham dan lebih tertib. Dan jangan lupa bahwa aku masih punya satu tanggungan, Skripsi!

Sekedar flashback, dahulu aku hanya anak yang kupu-kupu. Ada hal penting menurutku sehingga bila kuliah itu jangan sampai ada suatu kerjaan yang mengganggu. Pengalaman yang sendu melihat seorang atau dua orang kawan yang terlalu sibuk dengan kerjaan ataupun aktivitas yang membelenggu sehingga mereka jarang kuliah dan jarang ketemu denganku. Sehingga aku berfikir bahwa, jangan sampai aku juga mengalami hal itu, karena tanggungjawabku sebagai mahasiswa ialah kuliah. Mungkin maksudnya baik dengan mencari sampingan untuk kerja sehingga meringankan beban orangtua, namun apabila tanggungjawab sebagai mahasiswa saja terbengkalai, aku malu bila hanya menjadi biola yang tak berdawai. Akupun mencoba mencari alternatif dan cara lain agar image sebagai seorang mahasiswa yang punya aktivitas lain namun tetap fokus kuliah. Itulah yang selama ini ke dengung-dengungkan. Sesibuk apapun kerjaan yang ada, aku akan tetap berusaha untuk tetap datang kuliah dan juga datang bercengkerama bersama teman sebaya. Tiga bulan magang kemudian kuperpanjang hingga dua bulan terakhir ini aku merasa duniaku masih seimbang. Aku masih bisa berkumpul bersama kawan, tugas lancar, dan pengalaman saat di kantor juga ku perbanyak. Tentu kesempatan untuk memperkaya softskill jangan sampai tersia-siakan.

Di lingkungan yang terbilang baru ini aku bisa mengatakan bahwa aku nyaman berada di dalamnya. Aku menemui banyak karakter baru yang bisa kuambil setiap pelajaran yang mereka berikan. Baik dari Mbak-Mbak, Mas, Bapak, dan Adik hingga Kepala atau Pimpinan. Meski memang terkadang ada grundelan di hati kenapa harus ini harus itu, tapi aku kembali lagi bahwa segala sesuatunya harus diusahakan terlebih dahulu. Aku mungkin lebih betah daripada temanku sang Pakistan alay yang terlebih dahulu meninggalkan kantor. Alasannya ialah karena dia belum menemukan kenyamanan disini. Tapi prisnsipku ialah aku ingin menciptakan "comfort zone" ku sendiri daripada harus mencarinya terlebih dahulu. Aku akan berusaha untuk lebih bersosialisasi dan beradaptasi sehingga tidak terlalu terkungkung dengan dunia yang asik sendiri. Satu hal lain yang kutemukan disini ialah aku bisa berawal dari terpaksa, kemudian terbiasa. Aku mulai tahu rute motor untuk ke juanda, aku tahu ribetnya membuat pasport di imigrasi, aku tahu ruwetnya berurusan dengan birokrasi, aku semakin mahir dalam hal memfotocopy, dan aku juga mulai terbiasa dengan panasnya matahari. 

Aku bersyukur atas apa yang telah ada selama lima bulan terakhir. Ku sadari masih banyak kecacatanku yang memang terjadi karena unsur kesengajaan ataupun ketidaktahuanku. Namun dengan segala ambisi dan dedikasi aku bersiap menerima pengalaman, pengetahuan, dan pelajaran yang memang sungguh berarti. Semoga lebih berkontribusi.

Ku tutup tulisan ini dengan quote:

"With great power comes great responsibility" Uncle Ben, Spiderman

Sabtu, 19 Januari 2013

Heavy Rain VS Cold Brain

Saat ini Surabaya sedang diguyur hujan deras. Deras sekali hingga menghalangi niat Bapak Kos untuk pergi sholat berjamaah layaknya di hari biasa. Deras sekali hingga percikan air mampu menembus kamar kos melalui celah ventilasi. Semoga dibalik hujan yang deras ini tersimpan hikmah dan anugerahNya. Banyak orang berkata bahwa hujan ialah salah satu momen dimana setiap doa kita akan diijabahi. Percaya atau tidak, yang jelas saat ini ku lantunkan doaku untuk kesehatan kedua orangtuaku. Tuhan, bahagiakan mereka sepertiku atau bahkan biarkanlah mereka merasa lebih bahagia dari aku. Doa kedua ialah semoga teman-temanku entah mereka dimanapun berada juga dalam perlindunganmu. Yang KKN, yang liburan, yang malam mingguan, yang rumahnya kebanjiran, semuanya. Dan terakhir, berikanlah aku kekuatan untuk tetap semangat mengerjakan skripsi yang telah lama ku abaikan. (Amiiin...)

Salah seorang teman berkata bahwa disaat hujan deras seperti ini tempat yang paling dia ingat ialah rumah. Karena dirumah, sederas apapun hujan ataupun sekeras apapun halilintar yang menyambar dia masih merasa nyaman karena berada disekeliling orangtua yang sabar. Kalau aku, dimanapun hujannya yang ada difikiranku ialah kapan selesainya? karena biasanya disaat hujan aku pasti lapar, dan membutuhkan abang tukang nasi goreng atau tahu tek yang lewat agar ada makanan yang menjadi santapan. Tapi dibalik semua masalah perut tadi, aku pasti mengucap doa untuk semua orang yang ku sayang. Orangtua pasti, sahabat juga, saudara dan handai taulan iya, dan siapapun itu yang ada disana.

Sebenarnya suasana yang membuatku teringat rumah ialah saat menjelang adzan magrib. Dimana langit tampak abu-abu, semua orang terlihat sibuk untuk pulang kerumah, jalanan padat merayap serta awan tampak kelabu dihiasi oleh kicauan burung yang merdu. Disaat itulah aku merasa sangat sangat ingin berada di rumah. Sesederhana apapun rumah itu setiap orang mendambakan untuk memilikinya. Bahkan ada beberapa orang yang tidak bisa tidur kalau tidak ada dirumah mereka sendiri. Rumah oh rumah.

Dengan kondisi rumah yang nyaman itu aku dibangun untuk menjadi seorang yang rumahan. Dalam artian aku tidak suka kemana-mana, lebih enak dikamar, nonton TV, dan tidak perduli dengan segala sesuatu diluar. Aku pun jarang mengunjungi kota-kota yang seperti ayahku pernah jelajahi. Pekerjaan beliau menuntut agar beliau hanya bisa mampir rumah seminggu sekali. Adik ku pun lebih berpengalaman dan berpengetahuan dalam urusan rute-rute perjalanan. Kakakku, sempat dan pernah pula berpetualang karena dulu menjadi agen HP untuk dijual. Sedangkan aku? Hanya beberapa kota saja yang pernah kukunjungi. Untuk saat ini aku merasa menyesal kenapa aku tidak pula turut berpetualang layaknya kakak dan adikku. Namun disatu pihak aku menyadari bahwa aku bukanlah orang yang suka jalan-jalan dan mengeksplore tempat-tempat baru. Sekarang ini baru muncul keinginanku untuk berpetualang. Tapi hanya sebatas ingin dan tak ada usaha untuk terjun kesana.

Dari kecil memang aku seduh menerima dimana au berada. Aku tidak terlalu menuntut untuk kemana-mana. Mungkin hanya keinginan untuk bisa melihat salju layaknya orang-orang yang tinggal di Negara tropis pada umumnya. Rembang-Gresik-Surabaya-Malang hanya empat nama kota tersebut yang ku hawal arah jalannya. Selebihnya aku tidak pernah kemana-mana. Kecuali ikut karya wisata bersama teman SD ke Baturaden dan Goa Jatijajar. Bersama teman SMP ke Bandung dan sekitarnya. Bahkan saat SMA saat ada karya wisata ke Pulau Dewata aku tidak berminat, karena selain faktor biaya ternyata teman-teman se Gank juga tidak banyak yang ikut. Semarangpun aku tidak akan pernah kesana jikalau aku tidak ikut lomba ataupun ujian masuk UNES. Jogja dan Jakarta katanya aku pernah kesana saat usiaku masih belia. Dari foto-foto yang ada dirumah, memang tampaknya aku belum bisa mengingat apa-apa saat itu.

So, bagaimana selanjutnya? Memang aku punya rencana ke beberapa tempat. Namun hanya rencana saja, karena ku pikir-pikir tak selamanya bertravelista itu bahagia, aku justru lebih bahagia bila berada dirumah. Makan indomi goreng, liat TV, tidur, ketemu Ibu dan Ayah... sudah. Aku merasa bahwa memang bahagia itu sederhana. Mungkin keinginanku untuk travelicious hanyalah sebatas kepingin saja, bukan tipeku untuk berpetualang. Karena menurutku dengan aku keluar dari Rembang, ini saja sudah keputusan untuk berpetualang. So, gak usah aneh-aneh dengan pengen ke Semeru atau ke Rajaampat!!! Bahagia itu sederhana dan bahagia itu ada dirumah :)


Jumat, 18 Januari 2013

Shut Em Up - Agnes Monica

Shut shut em up shut shut shut em up (2x)
Shake the club up shut shut shut shut em up
Shut shut em up shut shut shut em up (3x)
Shake the club up shut shut shut shut em up

They hate the way I put it down
All the ladies tryna jock my style
Got em screamin turn the speakers out loud

Shake the club up, shake the club, now shut em up
Shut shut em up shut shut shut em up (3x)
Shake the club up shut shut shut shut em up

If u got swag turn it up on high
Whip yo head if ya know ya fly

Imma tear the club up tonight
And imma shut em up, and imma shut em up
Got ‘em scared cuz I’m dangerous
They want my shine, but the get no love
And I don’t care cuz they all jealous
And imma shut em up, and imma shut em up

They hate the way I put it down
All the ladies tryna jock my style
Got em screamin turn the speakers out loud

Shake the club up shut shut shut shut em up
Shut shut em up shut shut shut em up (3x)
Shake the club up shut shut shut shut em up

Haters get mad so they talk that noise
But I’m a diva so I keep my poise
Go ahead u can use ur voice
But imma shut em up, oh imma shut em up
Why u Talking that BLA BLA BLA
U can shut it up, u can shut it up

They hate the way I put it down
All the ladies tryna jock my style
Got em screamin turn the speakers out loud

Shake the club up shut shut shut shut em up
Shut shut em up shut shut shut em up (3x)
Shake the club up shut shut shut shut em up

They hate the way I put it down
All the ladies tryna jock my style
Got em screamin turn the speakers out loud

Shake the club up shut shut shut shut em up
Shut shut em up shut shut shut em up (3x)
Shake the club up shut shut shut shut em up

Kamis, 17 Januari 2013

Selembut dan Setulus Senyum Sinta




Tulisan ini ada untuk mengapresiasi dan menghargai sekaligus bentuk rasa syukur penulis dapat mengenal sesosok teman, sahabat, bahkan panutan seperti seorang Desak Putu Sinta Suryani. Pengalaman yang luar biasa dan berharga tentunya memiliki teman seperti Sinta. Gadis berdarah Bali, yang lahir di Medan namun sekolah di Surabaya. Seorang panutan dalam hal kesabaran, ketulusan, dan tentunya bagaimana memberikan senyuman terbaik. NIM kami mungkin berurutan, aku 07xxx2002 dan Sinta 07xxx2003. Namun aku sangat sangat tertinggal jauh olehnya dari segi apapun itu. Sedikit cerita saja tentang perjalanan tujuh semester ini yang sangat berkesan dan melelahkan namun Sintalah yang terlebih dahulu dapat menuntaskan dan menggapai harapannya.

Semester Satu

Seperti yang telah kusebutkan diawal bahwa absen kami berurutan. Sehingga berdampak pada aktivitas pengelompokan kami saat Ospek selalu berjalan beriringan. 18 Agustus 2009 setelah pengukuhan kami semua dikumpulkan sesuai dengan jurusan, singkat kata Sinta adalah salah seorang pertama yang ku kenal karena alasan kami bertempat yang sama untuk PPKMB. Hari pertama PPKMB aku masih ingat betul bagaimana dengan keramahannya Sinta menyapaku. Pita warna merah muda, senyum renyah dan wajah berserinya untuk pertama kalinya ku temui di pagi itu dan akan seterusnya pula menghiasi kehidupan kami seluruh umat 09 di keluarga HI. Kesempatan kedua ialah saat kami berada dalam satu kelompok Korea Utara di IR Fest 2009. Bukan pendiam, namun lebih pada sosok tenang yang ku kenang pada diri Sinta. Pada perjalanannya Sinta memang telah menunjukkan bagaimana keuletan, kerajinan, serta kepintarannya membuahkan hasil dirinya sebagai pemegang takhta IPK tertinggi diangkatan.

Semester Dua

Dibalik ketenangan dan kekalemannya terkadang Sinta menunjukkan sisi humorisnya sebagai alumni Model Red-A deteksi beberapa tahun silam. Dan aura Puteri Indonesia yang dipancarkan tak mudah untuk hilang :p. Di semester ini aku masih ingat bagaimana aku merepotkanmu untuk acara HILITE pidato Bahasa Jerman. Aku merasa bersalah sepeuhnya karena perjuangan mengendarai angkot hingga ke Goethe selama beberapa kali berujung nihil pada tidak jadinya kompetisi Pidato Bahasa Jerman pada ajang HILITE 2010. Berikutnya ialah di semester ini kami semua 2009 merasakan lelahnya menjadi kepanitiaan IRFEST 2010. Sinta sebagai Bendahara, dan aku termasuk timnya untuk mencari dana. Mulai dari sini aku semakin kagum dan ingin belajar bagaimana menjadi seorang yang sangat sabar dan tidak pernah marah. Bahkan aku tidak pernah mendengar ucapan nada tinggi darinya. Baru kali ini aku menemui sosok sesabar dan semurah hati seperti dirinya.

Semester Tiga

Acara IRFEST mengalami puncak kesibukannya. Mulai dari pencarian dana, pengumpulan botol aqua, penarikan uang kas secara paksa, bagaimana rempongnya permintaan maba, belum lagi segala macam jurnal yang sangat menenggalamkan akal sehat kita. Namun Sinta masih menjadi sosok yang tenang, tegar, bahkan di kondisi sekritis apapun itu namanya. Tak sekalipun kau mengeluh disaat suasana yang jenuh. Kau lah sosok yang paling penurut bagi para senior yang penuntut. Kau menjadi acuanku untuk dapat belajar sabar dan berpikiran tenang dalam menghadapi situasi apapun.

Semester Empat

Kami semua mengalami masa kejenuhan dengan segala macam tuntutan jurnal. Persiapan HI ANNIV 29. Dan kami tenggelam dengan masing-masing kesibukan. Namun Sinta justru tetap bersinar dan bahkan mendapatkan beasiswa SUSI untuk isu media dan berangkat ke Amerika Serikat. Hebat dan dahsyat.

Semester Lima

Masih dengan segala macam kesibukan jurnal. Persiapan HIANNIV 29 yang menyimpan banyak skandal. Dan banyak sekali kejadian di berbagai hal. Contoh yang menarik ialah bagaimana kami segenap HI 09 membuat sebuah forum diskusi dalam urusan perasaan dan isi hati. Terinspirasi dari mata kuliah Resolusi Konflik Global, forum ini kami sebut Reskoncin atau kepanjangannya… Sinta menjadi salah satu member dan panelis utama setiap forum ini dibuka. Bahkan hasilnya kami berhasil membawa forum ini ke dunia FB untuk kalangan 09 yang lebih luas. Dengan moto “What it’s said in this group, should still in this group”.

Semester Enam

Tidak terlalu banyak jurnal, namun kesibukan dan mata kuliah yang berbeda terkadang menjadikan kami 09 tidak selalu bersama. Kelas Proposal menjadi kelas terhoror karena dari sini akan ditentukan masa depan skripsi kami. Namun tetap saja Sinta tetap membahana dan selalu bisa disaat kami tidak bisa. Dengan segala keuletan dan kepintarannya Sintalah yang selalu kami gadang menjadi pengharum nama baik angkatan.

Semester Tujuh

Sebagian dari kami 09 menggadang-gadang untuk inilah semester terakhir kami. Semakin banyak dramatisir yang hadir saat penampilan angkatan. Atau semakin lebay setiap foto yang ditampilkan. Kami hanya ingin mengingat segala kisah kasih kami sebagai sempakers 09 untuk dapat menjadi Sebuah Kisah Klasik untuk Masa Depan. Hasilnya ialah, tersaringlah lima gadis terniat dan tergiat untuk mengerjakan Skripsi mereka sehingga dapat menempuh siding. Dan Sinta tentu saja menjadi salah satu diantaranya.

Sore ini 17 Januari 2013 Sinta di sidang oleh penguji Bu BW, Pak VD, dan Pak WP. Presentasi yang sangat detail, sangat dipersiapkan dan Tanya jawab yang lancar memperkuat dugaan kami bahwa Sinta lah yang dapat mengharumkan nama angkatan 09. Singkat kata Sinta memang mendapatkan nilai yang kami prediksikan. Sorak gembira dilanjutkan haru tangis mengiringi pembacaan nilai Skripsi Sinta. Perlu ditekankan bahwa di jurusan kami, hanya manusia-manusia setengah dewalah yang mampu mendapatkan nilai AB apalagi A. Sinta sekali lagi membuktikan bahwa dirinya memang layak untuk dijadikan panutan dan acuan bagi kami semua di 09. Bahkan kami merasa hina hanya membebankan nilai AB tersebut terhadap Sinta.

Sint, kamu pernah berkata padaku bahwa di Agamamu ada yang disebut dengan Karma. “Apa yang kita lakukan disaat yang lampau akan berpengaruh pada masa depan”. Nilaimu ini menurutku ialah wujud penghargaan dari Sang Maha Kuasa atas segala dedikasi dan usaha kerasmu selama ini Sint. Kau selalu memberikan senyuman khas mu yang tulus, lembut, dan menyejukkan hati bagi siapapun itu. Bahkan Ron Hatley (si Bule Australia) memberimu julukan “The Smiley Sinta”. Hal ini membuktikan bahwa segala kebaikan dan ketulusanmu di masa lau telah terbayar dengan nilai AB itu.

Sinta, terimakasih telah memberikan inspirasi, acuan, dan semangat bagiku dan segenap teman-teman 2009. Kau selalu hadir memberikan ketulusan, kelembutan, dan kesabaran disaat kami pekat oleh segala tuntutan jurnal ataupun desakan pihak eksternal. Sungguh selama 20 tahun, baru kali ini ku temui sesosok gadis yang teramat sabar seperti dirimu.
Sekali lagi selamat Sinta, semoga selalu sukses untuk karirmu di masa depan entah menjadi apapun itu. Aku percaya dengan segala integritas dan dedikasi yang kau miliki kau akan selalu diterima dan siap dimanapun kau berada. Akan ku ingat senyum tulus yang menentramkan hati darimu itu.

Rabu, 16 Januari 2013

ASDFGHJKL;

LALALA YEYEYEYE...

another random post from me :)
selamat untuk salah seorang temanku yang telah menjalankan sidang sebagai syarat untuk menjadi S, Hub. Int dgn nilai B! bagi kami bukan maslah nilai namun lebih pada kepuasan batin untuk dapat lulus dari belenggu ini. Semakin termotivasi untuk maju dan segera menyelesaikan skripsiku.

Semakin ketemu banyak orang itu semakin membuat kita berpikiran terbuka, menambah pengetahuan dan semakin menyadari bahwa ada langit diatas langit. Hmmm, kemarin setelah melihat beberapa jalannya sidang semakin menambah pengetahuan juga bagaiamana muai tentang teknik menulis, analisis, hingga tentang semantik. Penggunaan istilah juga penting ternyata. Hebat itu harusnya kuucapkan tiap ketemu orang baru dengan pengalaman mereka masing-masing. Jangan selalu menatap keatas juga sih, mendingan merunduk bagaikan padi yang berisi dan bergizi dan memiliki nilai jual yang tinggi.

Baiklah, semester depan skripsi harus jadi. Wisuda, and what's next? AYO AYO kita buat mapping life nya. so let's get more serious! Pertama yang harus dilakukan ialah tentukan jadwal, jadwal sidang, jadwal yudisium, dan jadwal wisuda :) dan kemudian buat skala prioritas setelah keluar dari "belenggu" ini

April: Sidang skripsi
Mei: Ch***a
Juni: Yudisium
Juli: Wisuda

Then, semoga list berikut ini mempermudah tentang arti penting sebuah pencapaian dan prestasi
1. BI
2. Dosen/ akademisi
    a. beasiswa CCU
    b. Chula
3. Deplu
4. TV (trans, metro, kompas)

Wish nothing but the best :) *crossfinger!

Senin, 14 Januari 2013

CongratulASHion :)

Kalo temen seneng kita juga ikut seneng. Kalo temen sedih, kita berusaha buat menghibur dia. Dan untuk kali ini temenku seneng (harusnya). Yap, selamat ya berooh, akhirnya keinginanmu buat jadi wartawan yang dari dulu kami pengeni kecapai juga. Penulis sih lebih tepatnya, tapi apapun itu seenggaknya udah jadi bukti nyata bahwa kamu telah sukses dan berhasil dengan dunia perkuli tintaan. Hampir dua tahun kamu berkantor di negeri bulpen dan aku akhirnya baca tulisanmu di Koran tsb. Segala dedikasi, perjuangan, pengorbananmu gak sia-sia juga kan? Gak masalah deh meski kuliah keteteran. Bangga juga punya temen yang tulisannya ada di koran.

Satu lagi pembuktian, bahwa dedikasi, pengorbanan, dan perjuangan akan menghasilkan hasil yang memuaskan. Kamu yang memang dari dulu bercita-cita bergelut dengan dunia jurnalisme seperti Ibumu dulu sungguh telah tercapai keinginanmu. Kamu yang kuliahnya jarang-jarang dapat menerbitkan tulisan yang bisa dikatakan garang. Semoga kedepannya semakin lancar segalanya baik urusan karir dan jodohmu. Dan semoga kamu cepat lulus.

Selamat beroh, congratulASHion :)

Sabtu, 12 Januari 2013

Sugarpova; Tasty Candy Sweety 4 your Saliva From Maria Sharapova

Maria Sharapova, the beautiful, charming, strongth tennis player and number one iconic fashion sport star came strong with her another preciouse product "Sugarpova". It's quit interesting because very view sportman/woman who produce another product that not very close to related with their profession. From this candy, Sharapova may share her warm, adorable, and smooth embrace for the others. The 4 grandslam winner actually always being an icon for the fashion of tennis. But with this candy, it is represented how this young woman become more productive. 

According to a Bloomberg report, Sharapova is set to more than double her initial investment in the candy company in just the first year as projections skyrocket for the gummy candy introduced in the United States in August.
Sharapova put up $500,000 for the candy company, chump change for an athlete as marketable as the 2012 French Open champion, but the 25-year-old gets somewhere around $1.10 per bag sold of the $5.99 bag of gummy candy and people seem to be interested.
We don’t really have a big budget at all for marketing and advertisement,” Sharapova said. “So it’s pretty incredible that the awareness that it has so far is where it is."
How is it taking off? I hope you're sitting down, but social media has been a huge help.
If it was me, and I made $1.10 off every bag of this candy sold, I'd be sitting in candy shops wherever I went pushing this stuff like a guy with watches inside his jacket.

Hopefully, this candy can be sparkling as Sharapova success of winning all 4 grandslam titles. Unfortunately this candy doesn't sell in Indonesia. So, Sharapova, would you come in Indonesia with a bag of this candy for me? :p *crossfinger

 

Jumat, 11 Januari 2013

Failed in 3.5

Sedih, nyesek, sesal, hancur lebur. Ketika semua keinginan dan cita-cita yang tersusun namun tidak bisa terwujud juga. Hanya bisa menundukkan kepala dengan lesu. Tak bisa banyak berucap, hanya gerutu dan mata sayu yang menjadi pelarianku. Semangat itu entah kemana berada, entah diambang laut sebelah mana diletakkan segala ambisi, keyakinan dan tendensi untuk melakukannya. Gagal TOTAL. Lulus 3,5 pun pupus, IPK 3,5 lenyap! Hari ini sungguh sempurna bagaimana dunia mentertawakanku dengan segala kekuranganku. Apa yang harus ku persembahkan pada Ayah dan Ibuku? Bagaimana dengan segala mimpi dan ambisiku? Aku tahu semua tergantung padaku!


Bagaimana bisa penyelesaian skripsi yang ada di depan mata lenyap musnah oleh ancaman nilai D yang serta merta meluluh lantakkan segala jerih payah tentang initial research, LBM, teori, konsep yang seharusnya mampu mengantarkan aku memakai Jas wisuda di bulan tiga tahun ini. Sekuat itukah perkataan seorang yang memang lebih di segala hal dariku? Skripsi, aku telah mengkhianitimu dengan segala kebodohanku. Aku sangat malu untuk dapat merayumu kembali menjadi tumpuan masa depanku. Aku terlalu gengsi sehingga tak pernah sekalipun kau ku revisi. Tiga tahun disini ternyata ilmu yang ku terima belum cukup untuk mempersembahkan magnum opus sejati.

Pencapaian cumlaude yang "hanya" terpaut nol koma nol sekian juga sangat sulit diraih! enam semester dijalani, meski tiga kali IP cumlaude tak mencukupi untuk mengantarkan rata-rata sebagai mahasiswa yang diatas rata-rata. Cumlaude bukan hanya prestige, tapi juga merupakan tanggung jawab dan bukti bahwa aku serius kuliah disini. Nilai menjadi sungguh berarti disini, meskipun dibalik semua ini ada soft skill dan pengalaman yang patut pula diuji. Segala kerja keras untuk begadang, menghemat uang makan untuk fotocopy-an... berasa sia-sia karena tak sesuai harapan. Sebodoh inikah diriku sehingga apa yang ku capai tak setinggi pohon yang daunnya melambai. 

Hanya lewat tulisan ini, semoga aku lebih mengerti bahwa di dunia ini kehidupan tidak selalu indah seperti di dunia Disney. Mimpi bukanlah untuk orang-orang yang takut mati. Tapi karena mimpi, orang juga bisa terlena untuk kemudian mati dengan tak berbangga diri.

3,5 aku gagal di angka ini. 3,5 sekarang yang hanya tersisa ialah ratapan dan kesenduan hati.
Selamat tinggal 3,5... selamat kepadamu Njing!

Keikhlasan, tidak sekedar Kerelaan apalagi Kepasrahan

Susah untuk ikhlas. Satu hal yang aku tahu bahwa kita pasti ikhlas ialah saat kita kentut. Melepaskannya begitu saja tanpa ada penyesalan bahwa telah melepaskan gas buang tersebut. Sungguh aku pun masih sangat belajar dan berusaha untuk ikhlas. Karena keikhlasan tidak mungkin terucap oleh kata, ataupun terbayangkan di angan. Hati yang akan merasa keikhlasan bukan tutur kata baik itu secara halus. Setidaknya aku merasa bahwa jikalau ikhlas ialah sesuatu hal yang sangat sulit namun ada beberapa tahapan untuk berada disana. Yakni Pasrah dan Rela.

Pasrah dengan menerima keadaan menurutku mampu dijadikan pijakan paing awal untuk menerima keikhlasan. Karena pasrah bukan berarti menyerah. Pasrah karena ada sesuatu yang lebih besar dari kekuatan diri kita sendiri untuk bisa bertahan. Pasrah berarti tidak berontak. Namun dibalik kepasrahan tersebut terdapat nilai setitik harapan. Kalau kata orang Jawa "nerimo ing pandum" berarti dalam kepasrahan ini masih tersimpan rasa ketersyukuran kita karena sebuah anugerah. Dan pasrah pasti akan kita lakukan kalau jalan terang menuju pintu keluar labirin tidak kita temukan. Atau kalau nilai dosen yang sangat pelit sehingga mustahil mendapat nilai A.

Tingkat kedua ialah Rela. Rela bisa jadi trap dibawah keikhlasan. Rela berarti membiarkan perasaan, benda, atau sesuatu yang kita miliki menjadi tidak kita miliki. Rela berarti menerima segala keputusan meskipun itu berat untuk kita. Rela karena kita merasa dapat membahagiakan orang lain tanpa harus kita yang ada didekatnya. Rela karena segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ada sebab dan akibat. Ada karma dibalik setiap perbuatan. Yin dan Yang, menjadikan keadaan rela kita bisa dibalas dengan sesuatu yang memang bisa sebanding dengan pengorbanan hati dan perasaan yang telah jalankan.

Pelajaran hidup yang lain yang dapat ku petik hari ini ialah, bahwa rela ikhlas atau bahkan pasrah akan selalu kita lakukan dalam berbagai kesempatan. Untuk masalah hati, relakan saja seseorang tersebut dengan orang yang memang bisa membahagiakan dia. Sekali lagi bahwa cinta tak harus memiliki itu apakah benar?? Ku ralakan dirimu dengan dirinya, banyak lagu dengan alunan dan plot yang menyatakan kerelaan atau keikhlasan tersebut. Berarti banyak pula yang seharusnya mampu dan telah melewati masa kerelaan tersebut. Tapi pasti, orang-orang yang tidak rela akan berjumlah lebih banyak lagi. Someone Like You merupakan contoh lagu yang menggambarkan kerelaan kita untuk melepaskan orang lain. Alasan demi melihat dia bahagia ialah klise, namun alasan untuk menjadikan diri dan hati ini lebih dewasa, tenang, dan matang seharusnya mampu dipahami. Percayalah bahwa melepaskan sesuatu yang sangat berharga itu sangat berat, namun menyimpan hal berharga tersebut juga menimbulkan perasaan dan pikiran yang membuat kita sendiri akan semakin berat untuk kehilangannya.
"Karena Hati tak pernah memilih, tetapi hati itu dipilih."...
Maka jangan biarkan aku jatuh cinta padamu sekaligus, tapi biarkan cinta ini tumbuh layaknya perahu yang terbawa oleh arus.

Rabu, 09 Januari 2013

Overwelming and Too Much Demanding

Belum dua minggu lembaran tahun 2013 berselang, namun begitu kacaunya ambisi dan harapan yang ada. Sampai pada satu titik bahwa aku merasa terlalu meminta. Tidakkah belum cukup segala pencapaian dan anugerah yang telah Dia beri? rasanya pasti ada yang kurang. Sungguh kurang bersyukur aku ini. Kalaupun kebutuhan materi bisa lebih mapan daripada sebelumnya kenapa aku harus menuntut lebih? Mengapa mulai muncul pula ide-ide untuk membeli ini itu yang belum tentu butuh. Astajiiiim...

Setiap posisi memiliki tugas dan tanggungjawabnya masing-masing. Semakin tinggi posisi tersebut semakin berat tanggung jawab yang diusung. Semakin kesini aku jadi lebih menghargai waktu dan bagaimana susahnya mencari uang. sabar sabar sabar. Ambil pengalaman, pelajaran, dan pengetahuannya. Tidakkah aku harusnya bersyukur bahwa resolusi ku ditahun lalu terkabul bahkan hampir dapat Jackpot.

Jangan terlalu tenggakkan kepala keatas, dibawahku masih banyak orang yang terlalu santai dan berleha-leha sehingga tertinggal jauh denganku. Mungkin memang belum saatnya, namun tidakkah skripsi masih menanti. Mungkin ini kesempatan untuk membuka kembali jalinan manis bersama skripsi. Mungkin merupakan tanda bahwa tidak sepantasnya aku terlena dan kembali pada manusia yang menapak pada bumi. Bukankah aku ingin untuk menjadi pribadi yang lebih sabar dan rendah diri.

Don't say you're too busy, in this world, it's all about PRIORITIES

Dear friends,

Ketika kesibukan mengalahkanmu untuk mampu tetap berdiri tegak di atas tumpuanmu, aku selalu berusaha untuk tetap tersenyum dan menyemangatimu demi secercah dukungan moril kepadamu. Itu dulu.
Ketika kau tenggelam dengan segala kealfaanmu karena kegiatanmu yang lain, aku mengenda-ngendap memalsukan kehadiranmu demi kelancaran kuliahmu. Itu dulu.
Ketika kau letih dan tak punya banyak waktu untuk menyelesaikan tugasmu, aku tanpa ragu menyumbangkan tenagaku untuk membantumu melengkapi tugasmu demi nilai terbaikmu. Itu dulu.
Ketika banyak orang mulai meragukan eksistensimu karena jarangnya kemunculan fisikmu, aku hanya tersenyum dan selalu tetap menjaga nama baikmu demi pencitraanmu. Itu dulu.

Aku selalu berusaha ada dan hadir saat kau mulai pilu, Karena kau salah seorang sahabatku.
Aku berusaha meyakinkanmu bagaimana kuliah itu masih penting dan tidak selalu membuat pening.
Aku telah berusaha menjauhkanmu dengan segala kesibukanmu yang selalu kau keluhkan karena kau tak punya waktu.
Aku tidak ingin selalu egois sehingga setiap kesempatan berkumpul bersama teman, ada namamu yang ku tawarkan untuk diajak jalan.

Kenapa kau harus bilang kau sibuk ketika kau memang telah menemukan zona nyamanmu yang baru?
Kenapa kau harus bilang kau sibuk hingga kau tak mampu melengkapi tugasmu?
Kenapa kau harus bilang kau sibuk sampai kau tinggalkan semua kuliahmu?
Lantas bilang saja aku busuk karena telah membiarkanmu semakin asik dengan kesibukanmu.

Kawan, jangan katakan kesibukan itu lagi kalaupun kau juga menikmati hal itu. Alasan kesibukanmu terlalu ku percaya hingga aku iba untuk selalu tetap ada. Alasan kesibukanmu pula yang semakin membuatku jengah dan pasrah menghadapi egomu. Maka biarlah aku dengan segala kesibukanku untuk mengacuhkanmu. Meskipun kau harusnya tahu bahwa kebisuanku bukan berarti aku ragu padamu. Keterdiamanku bukan berarti ketidakperhatianku padamu.

Kau bukannya sibuk, hanya kau tidak memprioritaskan kuliahmu dan segala tugasmu lagi.
Kau bukannya sibuk, tapi kau lebih memprioritaskan pekerjaanmu yang kau selalu bilang itu melelahkan, tapi justru menjebakmu di kubangan kesungkanan dimataku
Terakhir...
Kau bukannya sibuk, tapi kau memang tidak memprioritaskan aku sebagai sahabatmu. 

Senin, 07 Januari 2013

K-Pop between Geocultural Plot

Korean Pop, menjadi sebuah trend yang menjalar dan merasuk hampir setiap pemuda di negeri ini. Bahkan hingga separuh bumi ini mungkin sudah memperagakan Gangnam Style ala Psy. Atau mengikuti diet ketat ala Girls Generation, atau berdandan rapi ala Super Junior? Kenapa korean pop bisa populer? Kenapa ibu-ibu gandrung sekali dengan drama korea? Kenapa di Indonesia menjamur pula boyband atau girlband yang necis-necis ala Korea? Korea oh Korea, dulu jaman SD negeri ini terkenal karena ginsengnya. Juga dengan lambang benderanya yang unik dan menarik bagiku. Sekarang nama negeri tempat Ban Ki Moon dilahirkan ini terkenal dan memiliki industri hiburan yang mendatangkan trilyunan devisa bagi negaranya. K-pop atau Korean Pop menurutku serangkaian pop culture yang diusung oleh negara Korea dengan memamerkan serial drama, musik melalui girl dan boy band mereka, serta acara-acara TV/ reality show yang menampilkan keindahan dan keramahan suasana disana. Efektif sekali untuk menarik minat para pemirsa luar negeri untuk lebih ingin tahu Korea pada aslinya.

Musik, merupakan bahasa universal yang dapat digunakan untuk mempersatukan empati dan koneksi antar manusia di dunia yang memiliki keberagaman budaya salah satunya bahasa. Melalui musik orang-orang di bar-bar atau cafe di Bali bisa ber ajeb-ajeb bersama meski dengan latar belakang yang berbeda. Ribuan anak-anak mendendangkan lagu Waka-waka meskipun mereka tidak paham betul apa arti sebenarnya dari lirik lagu tersebut. Terlepas dari hal tersebut Gangnam style, yang dibawa oleh rapper asal Korea, begitu populer hingga disaksikan lebih dari satu milyar orang dunia. Apakah ini bukti bahwa Kpop memang sedang menggema? Ya! Karena salah satunya aku sendiri menjadi tertarik dengan segala sesuatu yang berbau Korea. Berawal dari Boyband dan Girlband yang mengusung musik enerjik penuh dengan nuansa magik, yang mana tidak ditemui di negara kita sendiri. Bukan masalah nasionalisme, tapi lebih ke masalah selera. Berlanjut dengan drama ataupun film, kemudian reality show seperti Running Man dan Family Outing yang menawarkan cita rasa baru dalam acara pertelevisian yang sudah-sudah. Sehingga tidak sungkan bila dikatakan memang Kpop sekarang ini sedang naik daun. Bila ditanya sejauhmana, indikator yang ingin ku tampilkan ialah dari segi penjualan album ataupun single dari para artis Korea ini selama sepuluh tahun terakhir mengalami peningkatan. Semakin banyaknya pemirsa yang menyaksikan aksi mereka. Sehingga permintaan untuk menggelar konser di luar Korea pun semakin meningkat. (Bahkan di Indonesia)


Dari segi musik, Kpop memang tidak menunjukkan adanya keaslian atau orisinil dalam bermusik. Musik yang mereka usung ialah kebanyakan musik mayor, pop, dance, electric. Mereka tidak menampilkan musik asli Korea. Namun mereka mengemas mulai dari aransemen musik, lyrik yang terkadang terselipkan kata-kata bahasa Inggris, penampilan fisik yang seharusnya rambut mereka asli berwarna hitam sebagai ras asia namun di cat warna-warni membuat setiap MV yang dikeluarkan lebih eye catchy. Musik yang enak didengar tersebut tidak terlepas dari sang Produser yang telah lama belajar tentang industri musik di Amerika Serikat misalnya. Sehingga ketika mereka kembali ke Korea, mereka mix and match terhadap unsur yang ada di Korea sendiri. Gangnam style banyak dijadikan tonggak sebagai pengukuh eksistensi Kpop. Menurutku tidak sepenuhnya benar. Meskipun memang gangnam ini telah mendominasi tangga lagu Korea hingga Billboard. Namun, ada beberapa catatan misalnya, Lagu Macarena yang non B.Inggris juga pernah menjadi no.1 di Billboard. Asereje, yang diusung Last Kechup mampu menarik jutaan orang untuk mengikuti gerakannya yang menggoyangkan pinggul ke iri dan ke kanan. Memang gangnam bukan sebuah kebetulan saja, tapi efektifitas penyebaran informasi dan publikasi lah yang aku anggap berhasil. Gangnam bisa jadi mendunia karena tweet dari Katy Perry ataupun Justin Bieber. Dibalik gangnam, masih banyak penampilan yang bagus dan cetar membahana yang telah diusung oleh sederet Boyband dan Girlband terkemuka di Korea. Boyband dan Girlband ini sudah ada sejak lama di pertelevisian Korea, dari tahun 1980an, 90an hingga sekarang tren boyband dan girlband ini masih ada dan semakin eksis hingga go internasional. Sebut saja 2NE1, Wonder Girls, Gilrs Generation yang telah diajak kerjasama oleh musisi ternama di Amerika Serikat. Hal tersebut membuktikan bagaimana Kpop memang meiliki nilai jual yang tinggi sehingga layak untuk ditanami investasi.

Dari segi perfilman dan drama, memang mereka masih kalah dengan perfilm Hollywood atau bahkan Bollywood. Namun di Indonesia sendiri para Ibu-ibu dan remaja sangat menggemari kisah kasih yang ditampilkan oleh drama dan film dari Korea. Dulu Telenovela (dari Meksiko) yang bisa dibilang menjadi trend acara favorit ibu-ibu. Namun saat ini dipastikan drama Korea ialah acara yang paling wajib ditonton oleh Ibu-ibu di Indonesia. Yang terakhir ialah Reality Show, Running Man dan Family Outing dipilih menjadi salah satu tayangan yang menarik dan memiliki nilai lebih karena menampilkan budaya-budaya Korea serta beberapa tempat yang memang indah. Aku lebih suka menyebutnya sebagai pencitraan. Bagaimana orang-orang yang berada di industri pertelevisian disana sangat menghargai keudayaan yang sudah ada. Pencitraan yang berhasil tentunya jika melihat efek yang ditimbulkan sangatlah luar biasa.

Korea menjadi negara yang berhasil dalam hal menyebarkan kebudayaan mereka. Soft diplomacy yang unik dan menarik yang seharusnya mampu menjadi pembelajaran bagi kita semua. Penggabungan antara pemanfaatan teknologi informasi dan kearifan budaya lokal untuk dijadikan supaya tetap lestari menjadikan negara tersebut memiliki "Strata" yang lebih tinggi. Melalui bisnis showbiz, negara tersebut menampilkan keindahan alam yang mereka miliki serta perkembangan modernisasi yang mereka usung dapat dibilang wow dan fantastis. 

Indonesia ayo terus belajar, jadikan segala sesuatu kemampuan untuk lebih maju kedepan. Curi ilmu dari Korea dan terapkan hasilnya untuk keharuman nama bangsa. Ada beberapa hal di Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara tetangga. Kekreatifitasan tidak hanya menjadi milik Menbudpartif. Tapi ayo jangan hanya enjadi follower gangnam style saja. Ciptakan style style lain yang menggebrak mata dunia tanpa mencederai nama bangsa. Agnes Monica, Kamu dan Aku Bisa! Le O Le O Leeee

Jumat, 04 Januari 2013

Knowing is everything or Better that We not Knowing Anything?

Penasaran, kepo, stalking, curious, atau mau tahu urusan orang lain? Ada beberapa hal yang sifatnya rahasia dan ada di area pribadi. Artis gak bakal ngungkap semua kisah mereka. Privasi, itu alasannya. Pada diriku kadang gak semua hal ingin ku ceritain, ada rahasia atau menyangkut hajad hidup orang banyak. Atau mungkin cerita ke satu orang saja, namun tetap resikonya ialah orang tersebut cerita pada satu teman lainnya dan temannya temanku tadi cerita ke sahabatnya, dan begitu seterusnya hal tersebut terjadi. Sehingga semua orang tahu, atau bisa jadi Te Es Te (Tahu sama Tahu). TST ini akan menimbukan gunung es, tampak tenang diatas namun yang ada di dalam ada bongkahan rahasia tentang perasaan.

Kembali ke fakta want to know? faktor budaya tak bisa dihindarkan akan hal ini. Dari kecil, sejak digendong saat bayi, kita digendong Ibu kita yang saat itu gossip bersama Ibu-ibu yang menggendong bayi mereka masing-masing. Dan hal itu berlanjut sampai ke TK, SD, tidak sampai SMP karena Ibu kita tak mungkin menunggui kita. Tapi semakin besar kita semakin terbiasa akan habit untuk mengobrol dengan orang lain. Dan bahan obrolan tersebut ialah tentang permasalahan orang lain. Entah itu artis, atlit sepak bola, tokoh di negeri ini, hingga teman sendiri pun juga diomongkan. Kenapa? kenapa? oh kenapa?

Care, aku rasa tidak juga. Ingin cari perhatian atau jadi sumber perhatian, iya mungkin. Dengan menjadi sumber informasi seseorang akan merasa penting karena  akan ditunggu-tunggu oleh teman lainnya. Sehingga dia bisa mendapat value lain melalui masalah orang lain yang jadi omongannya. Tapi sebegitu pentingkah mengetahui urusan orang lain? say yes, kalau kamu memang orangnya want to know ajaaa. Say no, kalau kamu gak ngurus dengan persoalan orang lain. 

Efek negatif kepoing ini menurutku kalau kamu menemukan fakta yang gak pengen kamu tahu dari orang yang pengen kamu tahu ini dan pake banget. Orang ini biasanya orang yang kamu sukai diem2 atau bahkan musuh kamu. Kenapa musuh juga perlu di kepo in? karena menurut Sun Tzu si bapak stategi bilang kalo kita juga harus tahu kekuatan dan kelemahan musuh supaya kita tahu senjata apa yang bakal kita pakai buat nyerang dia. Nah kembali ke orang yang kita sukai, setelah kita tahu fakta abcdefgh tentang dirinya yang ternyata hal tersebut gak sesuai denga perkiraan kita selama ini tentu nggrundel di hati kita. Dan sayangnya kita sendiri hanya mampu memendam peraaan kesal tersebut karena kita sendiri menyukai orang tersebu pula dengan diam-diam bukan?

So, aku rasa better if we are not knowing at all. Terserah di bilang cupu, mending kita sibuk dengan hal-hal positif daripada gossiping teman-teman kita sendiri. Bukan berarti anti-sosial namun ada kalannya seseorang akan sibuk dengan dunia mereka sendiri. Hapus saja history yang ada tentang Timeline orang tersebut, daripada kita mengetahui tweet2 yang justru meremukkan hati dan perasaan ini. banyak hal di dunia ini yang lebih penting untuk di ketahui daripada persoalan orang lain apalagi skandal teman sendiri. Masih banyak buku bagus yang patut dibaca daripada kita baca tweet pujaan rahasia kita yang malah mematahkan semangat kita untuk mendapatkan dia. Dengan tidak tahu apa-apa curiosity akan membawa kita pada kejuatan-kejutan yang yang tidak terduga dan efeknya luar biasa layaknya jagung yang meletup-letup. Cheers :)

Rabu, 02 Januari 2013

Remembering or wondering ?

2013, 2 januari. Waktu sungguh memperlihatkan bagaimana dunia akan memberikan segala kejutan dibalik rahasia Sang Kuasa. Aku masih percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dikehidupanku merupakan bagian dari goresan takdir yang telah tertulis untukku. Ada makna disetiap kejadian ini. Ada semacam perimbangan baik - buruk, senang - sedih, pencapaian - pengorbanan dalam kehidupanku sehari-hari. Syukur, seharusnya lebih sering ku ucap bukan malah permintaan-permintaan lain yang selalu ku tuntut yang tidak pernah akan ada kepuasan. "Neriman" mungkin sudah tidak lagi menjadi kata utama yang ada di prinsip hidupku. "Survival of the fittest" lebih mendominasi acuan hidupku saat ini. Ya, terlalu agresif mungkin tapi aku melihat itu sebagai acuan untuk tetap kompetitif dan bekerja lebih keras agar tidak terkesan pasif. Pasif merupakan kata yang ku hindari dalam kamus pergaulan sehari-hari. 21 tahun diberikan kesempatan hidup dan selama itu pula mulai mengorek kembali apa yang telah kuberikan selama aku hidup? 

"Don't ask what your country do for you, but ask what you can do for your country" (JFK)

quote diatas merupakan quote yang paling inspiratif untukku. Semacam lecutan untuk berbuat terbaik untuk negeri, bukan terlalu banyak menuntut dari negeri ini. Dari hal paling kecil, apa yang telah ku perbat untuk Ayah & Ibu, kemudian untuk masyarakat, lingkungan, dan negara? Puas masih terlalu jauh untuk dikatakan. Setidaknya bukan nol besar. Dan memang harus bisa bermanfaat untuk orang lain. Pengabdian juga bukan merupakan kata yang dapat menggambarkan perilakuku. aku lebih suka menyebutnya totalitas. Total dalam artian menjaga nama baik, rela berkorban, dan ikhlas dengan segala sesuatunya. Bukan berarti terlalu demanding bila dalam hati menggerutu ingin ini itu. Tapi seperti kata Ibuku bahwa masih banyak orang yang dibawah kita, tidak seberuntung dengan apa yang telah kita raih atau capai. 

Dua paragraf tulisan diatas ini kenapa sangat serius? Sesungguhnya yang ingin ku tulis ialah mengingat kembali kenapa aku masuk di jurusan ini? (Ilmu Hubungan Internasional - Universitas Airlangga - Surabaya). 2009, ketika diujung masa pembelajaran di bangku SMA. Ketika setiap siswa kelas tiga (sekarang kelas 12) mulai gundah gulana untuk menentukan langkah pendidikan mereka selanjutnya. Aku, juga termasuk didalamnya. Sebagai siswa dengan predikat masuk IPA karena terpaksa. Otomatis pilihan-pilihan jurusan yang tertera justru non-eksakta. Komunikasi, sastra, dan tentu Hub. Internasional menjadi pilihan utama. HI sebelumnya merupakan kata yang tidak biasa terdengar di telinga, namun seorang teman mengabarkan bahwa dengan kuliah di jurusan HI meningkatkan posisi kasta kita. Karena lulusan HI akan menjadi diplomat yang notabene mempresentasikan Negara kita di mata dunia. Belum bonus tinggal di luar negeri sehingga sangat menambah eksistensi. Oke, dengan demikian HI merupakan jurusan yang mulai ku minati. Berbagai brosur PTN terkumpul, seleksi untuk masuk jurusan HI pun ku geluti. Tidak semua PTN di negeri ini membuka jurusan HI. UI, UGM, pastinya memiliki jurusan ini namun dengan mempertimbangkan kapabilitas dan probabilitas untuk masuk perguruan tinggi ini maka aku berkecil hati.

Aku selalu berkeyakinan bahwa rejekiku berada di timur negeri ini (jawa timur lebih tepatnya). Sehingga PTN yang ingin ku masuki ialah yang ada disini. UB menjadi prioritas utama. Karena merupakan impianku sejak kecil untuk dapat merasakan menjadi anak kuliahan di Malang dengan hawa dinginnya yang menusuk tulang. Tapi, Universitas Airlangga turut menjadi pertimbangan karena namaku tertera disini. Dan yang paling penting (dan menjadi salah satu faktor utama) kau bilang bahwa ingin masuk ITS. Sehingga semakin besar niatku untuk masuk UNAIR. Tak apalah aku menunggumu setahun asalkan kita dapat kuliah sekota, dan Unair - ITS memang berjarak hanya beberapa belas kilo saja. Aku tidak tahu takdir berkata apa, namun rasanya di balik semua keberuntungan, doa ayah ibu dan kawan sehingga aku kuliah disini ialah salah satunya karena aku termotivasi oleh kau. Kau tidak akan pernah tahu mengapa hal ini terjadi, karena akupun juga masih bingung mengapa aku terdampar disini. 

Empat tahun berselang, banyak pengalaman yang berlalu lalang. Seiring silih bergantinya musim kemarau ke musim hujan namun segala kecanduanku pada kau tak pernah hilang. Seandainya kau berada lebih dekat denganku. Seandainya jarak antar kota atau bahkan antar propinsi bisa dihubungkan oleh koneksi simpati antar hati. Seandainya segala jejaring sosial mampu mempertemukan kau dan aku lebih sering dari yang sekarang. Kau tidak tahu, tapi aku berusaha yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita berdua memiliki alasan dan jawaban atas setiap pertanyaan yang ku ajukan. Empat sampai enam tahun lalu ketika masih menggunakan seragam abu-abu kau menjadi canduku. Empat tahun dari sekarang aku tidak pernah tahu apa yang akan ku rasakan. Namun hingga sekarang candu ini belum juga hilang. 

Aku masih memilih lagu yang tepat untuk kau. Tapi yang jelas lagu tersebut ialah lagu milik Adele. Besar harapan untuk dapat menghilangkan candu ini dan mengikhlaskan kau seperti lagu "Someone Like You". Namun keyakinan hati ini untuk mengejar kau secara optimistis tersurat dalam lagu "One and Only". Kepasrahanku untuk merelakan kau pula tergambar dalam "Take it All". Atau terkadang aku tenggelam dalam segala kenangan seperti "Don't You Remember". Namun yang jelas untuk sekarang ini aku galau dan lagu yang ku pilih ialah "...should I give up? Or should I just keep Chasing Pavements?"

#dalam kebisuan kita berkomunikasi dari hatiku ini selalu ingin terkoneksi dengan kau, semoga frekuensi antara kita tidak terputus karena kondisi cuaca