Jumat, 11 Agustus 2017

Review Film "Banda The Dark Forgotten Trail"

Postingan kali ini agak faedah sedikit (semoga postingan-postingan selanjutnya juga sama).  Jadi hari ini aku nonton film Banda The Dark Forgotten Trail.  Perlu dua hari untuk membulatkan tekad nonton film ini. Pertama gak ada temen yang mau diajak, kemudian waktu cek di web cgv juga tiap pemutaran film ini sepi mulu. Akhirnya nekad lah aku nonton film ini hari ini. Dan benar juga, setelah di depan kasir aku orang pertama yang membeli tiket. Sampai tanya ke mbak nya kalo misal cuma aku apakah masih tetap diputar?  Mbaknya bilang iya. Akhirnya aku masuk teater, dan ternyata sudah ada satu orang duduk pas disebelahku. Sebelum film dimulai pun ternyata banyak juga yang masuk. Sekitar dua puluhan orang sepertinya.
Well, aku sebelumnya sudah membaca beberapa literatur tentang film ini. Genre nya dokumenter, Reza Rahardyan bertindak sebagai narator (awalnya agak snewen karena tiap film ada si mas ini) Dan aku sudah antusias dengan film ini sejak dua menit pertama dimulai. Bagaimana dibuka dengan narasi yang menyebut pala sebagai komoditi yang menyebabkan ekspedisi dunia. Untuk orang sepertiku yang suka sejarah tentu sangat bahagia mendengar kembali perjanjian saragoza, alfonso de alberqueque, dan beberapa nama penjelajah dunia yang rasanya ingin kembali ku buka RPUL. Visualisasinya terlihat sederhana dan mudah dicerna.
Dibagian awal film memang masih menggambarkan bagaimana pala bisa menjadi komoditi yang diperebutkan oleh bangsa-bangsa barat.  Pun hingga Belanda mau menukarkan New Amsterdam (Manhattan)  dengan Pulau Roem di kepulauan Banda. Dilanjut dengan bagian bagaimana Banda menjadi tempat pengasingan bagi para perumus kemerdekaan.  Mulai dari Bung Hatta hingga Syahrir. Karena letaknya yang kecil dan jauh dari kota besar, inilah alasan Banda menjadi tempat pembuangan para pejuang kemerdekaan. Di bagian terakhir film juga ada narasi tentang bagaimana isu SARA 1999 yang terjadi di Maluku juga menyulut bara api pertentangan di Banda. Padahal Banda merupakan miniatur kecil nusantara karena berbagai macam orang, suku, dan ras tinggal disana. Alasannya karena mereka ialah orang buangan, bekas budak pala, ataupun para pedagang yang mencari keuntungan dengan menjual belikan pala.
Melihat film ini saya merasa melihat acara-acara discovery channel ataupun nat geo. Tapi dalam bahasa indonesia (suara Aryo Bayu menjadi narator untuk teks B. Inggris namun tidak ditemui/mungkin untuk festival internasional). Dari film ini saya belajar lagi tentang sejarah.  Karena sejarah itu penting, untuk belajar tentang asal usul kita, tentang kehidupan kita di masa sekarang dan juga belajar untuk bekal di masa depan agar sejarah yang kelam tidak kembali terulang. Semoga ke depan lebih banyak lagi film Indonesia yang non-java sentris. Karena Indonesia terbentang luas dan cukup jengah juga melihat pemberitaan yang selalu berputat tentang ibukota dan sekitarnya. Overall saya beri 8 untuk film ini.  :)