Senin, 21 Juli 2014

Sewindu VS Seminggu

Masih galau... iya
Masih nyesek... emang
Masih tertohok... he'eh
Masih sakiiiit... pastinya

Diiringi dengan lagu dari Tulus yang berjudul Sewindu, terus aku ngitung kalo ternyata ini juga jalan seminggu lebih keadaanku seperti prolog yang diatas. Berasa nge-blank aja sih dengan yang ada di sekitar. Pun rasanya hambar dan kasihan teman serta pekerjaan sekitar yang rasanya cuma numpang lalu lalang. Am I too desperate? yes maybe!

Pun dengan kegirangan perayaan usia dua tiga, rasanya masih hampa. Ada lubang di hati yang tak mampu menutupi. Bayangin orang yang selama ini selalu ada selama delapan tahun terakhir, selalu ada di tiap sms, wa, bbm, dan apapun jenis chat pasti dia yang teratas. Ataupun orang yang selalu ada nomer hp-nya di setiap HP saya yang berbeda setelah ibuk dan ayah.

Tetiba kapan hari dia yang bbm terlebih dahulu dan menanyakan kabar dan basa  basi babibu. Setelah membesarkan hati dan jiwa serta segenap perasaan yang ada akhirnya ku balas juga (Sebelumnya bbm dan sms dia tak ku balas, pun ucapan terimakasih atas ucapan selamat ultah). Masih agak stres melihat setiap kata yang ada di layar HP, masih miris kalo ternyata di PHP. Terus berakhir dengan perdebatan seperti sebelum-sebelumnya. Lagi, ku balas saja bahwa memang aku yang salah ataupun kalah.

Pengen move on, tapi idup masih gini-gini aja. Pengen hilang akal, tapi ditakut gila dan dan gak inget sama keluarga. Pengennya amnesia parsial cuma lupa sama doi yang selama ini ada di delapan tahun kehidupanku yang nyata. Pengen nge-del semua kontak dan social media dengan dia tapi gak boleh memutus silaturahmi kata Agama.

Terus aku kudu piye? Kudu piye?
Karena ini idup, bukan instagram yang cuma klik dua kali bisa ngasih hati.

asdfghjkl
qwertyuiop

Kalo cuma diem aja gak bakal menghapus masa lalu, yaudah aku pengennya lari. Lari mengejar cita-cita, demi ambisi dan mimpi. Demi menikmati idup yang lebih berseri!

Rabu, 16 Juli 2014

Happy Twenty Three!

Hello, this is my first post as twenty three years old buddy :)

Setelah gegap gempita selebrasi perayaan Ulang Tahun yang ada, terimakasih atas segala ucapan dan doa yang terkirim dengan segenap ketulusan jiwa para sahabat dan saudara.

23! menjadi angka yang agak sedikit sakral, karena pada tahun ini benar-benar terjadi transisi dari mahasiswa ke pekerja. Sungguh dibutuhkan perbaikan diri dan menata hati untuk menjadi pribadi yang tidak menye-menye lagi. Pada tahun ini pulalah seharusnya sudah bisa menempatkan diri sebagai manusia dewasa lagi.

Pun dengan selebrasi yang sederhana namun tetap akan sangat bermakna. Sedikit banyak para sahabat sejati tidak lagi berada dekat di sisi. Namun mereka masih menyempatkan untuk berfoto selfi dan mengirimkan ucapan selamat dengan teriringi doa dari sepenuh hati.

Di tahun dan usia yang baru ini, sekali lagi aku tidak mengahrap sesuatu yang berlebih. Hanya ingin menjadi pribadi yang lebih baik, lebih berkontribusi, kurangi keluhan dan keresahan. Semangat dan tetap optimis menyongsong masa depan.

Best Regards,
The 23 me!

Kamis, 10 Juli 2014

Sebatas Nyaman dan Teman

Akhirnya, perasaan yang hancur dan remuk redam itu kembali hadir. Mungkin hampir sama dengan perasaan patah hati seorang pendukung fanatik yang capresnya gagal menuju kursi RI 1. Tapi yang terjadi padaku ialah lebih pada curahan hati pribadi. Well, kenyataan memang pahit. dan sangat setuju dengan quote di bawah ini:

"Jangan bikin nyaman dan terbiasa, kalo pada akhirnya tak bisa bersama"

Hubungan ini, yang selalu aku dan mungkin kau pertahankan tanpa nalar yang jelas. Tanpa ikatan yang pasti. Hanya membuatku kembali pada setiap kau membuka kembali ruangan gravitasi. Antara gamang dan senang setiap kita kembali besua, bercengkerama, menghabiskan malam berdua, dan obrolan konyol yang selalu membuatk tertawa dan membawa komodo di perutku.

Pada nyatanya, tiga bulan kau sudah bersamanya. Membohongi ataupun menutupi segala celah yanga ada. Kau anggap aku apa? dengan segala perhatian yang ada, aku seolah samar oleh hubungan kalian berdua. Antara percaya dan tak percaya bahwa kau bersama dia, yang juga sahabat kita berdua.

Atau memang aku yang salah yang terlalu harap akan hubungan kita berdua.
Sekarang aku hanya berusaha tenang, bagaikan laut yang dalam.
Tapi kau tentu tahu bahwa selama ini perasaanku padamu terlalu menghanyutkan untuk kita arungi dan mencoba mengayuh ketepian.

Aku yang salah dan lagi dan lagi aku KALAH.

Sudah saatnya aku menyerah.
Untukmu yang membawa hubungan ini tak akan punya arah.