Selasa, 29 Januari 2013

Family Ouch Think

Ada kalanya bahwa aku sangat penat dengan kehidupan Surabaya yang padat dan pekat. Disaat seperti itu hal yang biasa ku lakukan ialah berinisiatif untuk pulang ke kampung halaman Rembang yang menyajikan seluruh udara segar yang ku butuhkan. Dengan suara gemuruh ombak yang berteriak, serta semilir angin yang bergulir lirih di setiap pantai pasirnya. Sudah sebulan lebih ini aku belum pulang ke Rembang. Cukup lama bagiku dan aku sudah sangat penat dengan hingar bingar Surabaya ataupun desah gerimis hujan yang membuat banyak orang menjadi tidak enak badan. Namun keinginanku untuk pulang enggan terwujud karena adanya pekerjaan dan juga weekend yang hanya ku gunakan beristirahat dan hanya berdiam diri di kamar kosan. Aku masih merasa belum pas bila kembali ke Rembang meskipun udara pantainya telah berada diawang-awang. Tidak hanya karena pantai, ombak, dan desiran pasir yang ku rindukan, namun keluargaku mulai dari Ayah, Ibu, Kakak, Adik, Bulek, dan handai tolan disana membuatku semakin rindu pada kampung halaman. Namun sekali lagi aku masih belum memperioritaskan untuk pulang ke Rembang.

Aku merasa bahwa semakin kesini aku semakin sadar bahwa tanggungjawabku semakin besar. Segala sesuatunya menjadi kekhawatiran. Aku takut apa yang akan terjadi esok setelah aku selesai kuliah di UA ini. Aku takut menjadi pengangguran yang kembali ke kampung halaman dan menjadi sampah masyarakat. Dan yang paling ku takuti ialah bagaimana aku tidak dapat menjaga bahkan ekspektasi orangtua. Baru saja kemarin terungkap bagaimana ternyata mereka sangat mengharapkan aku setelah aku sudah mulai bekerja nanti. Sesak, aku merasa belum siap dengan segala pertanyaan aku kerja apa, dimana, ngapain, bahkan menyangkut urusan gaji. Aku tidak siap betul menjawab setiap pertanyaan alami yang muncul bagi para mahasiswa semester akhir. Aku hanya terlena dengan keinginanku yang ini dan itu. Namun aku malah mengabaikan apa yang diinginkan oleh orangtuaku. Kami memang dari keluarga yang tidak punya dan berada, sehingga seharusnya kau paham betul bahwa aku sebagai anak satu-satunya yang disekolahkan ke jenjang setinggi sudah selayaknya untuk menjunjung derajat mereka. Perih, melihat kenyataan bahwa Ayah sudah terlalu renta untuk melanjutkan bekerja. Sedih, setiap mendengar kata Ibu tetang harapannya yang tinggi untuk anaknya ini. Maaf saja bukan lah jawaban yang harus terucap disaat seperti ini. Aku bingung, galau, sedih, dan bahkan tidak tahu harus berkata apa untuk mereka. Diam yang katanya ialah emas, namun untuk saat ini diam merupakan jawaban penghianatanku pada bakti orangtua.

Sejujurnya aku ingin berkata bahwa inilah kemauanku Yah, Buk. Aku ingin mengungkapkan pada mereka bahwa sekarang ini sarjana saja tidak menjadi penjamin untuk dapat kerja. Dapat kerja mungkin, tapi apakah itu sesuai dengan keinginan dan hasrat peminatan anakmu selama ini? Kerja dimanapun saja rasanya aku sanggup namun apakah lantas dapat memenuhi ekspektasi tentang materi? Aku saja masih sangat takut melihat kenyataan bahwa pergulatan dalam mencari pekerjaan itu susah. aku saja masih buta harus merintis karir darimana. Hopeless! Setiap orangtua pasti menginginkan pendidikan yang lebih baik untuk anaknya. Aku merasakan hal itu juga yang terjadi pada Ayahku. Sebagai anak seorang petani beliau hanya sampai SR (Sekolah Rakyat), namun dengan keberaniaannya beliau memutuskan untuk keluar kampung dan berkelana hingga menjadi sosok Ayah yang luar biasa bagi aku anaknya. Aku selalu haru saat menjumpai Bapak-bapak dimanapun berada yang telah renta dan masih melaksakan pekerjaannya entah apapun itu nama profesinya. Aku selalu membayangkan hal yang sama, bahwa Ayahku di sisi lain wilayah jawa ini juga turut bekerja keras demi anak-anaknya. Ayahku yang sangat tidak suka bila anaknya tidak tidur dirumah, namun dibalik itu beliau mengajarkan bahwa sejelek apapun rumah kita namun kita harus tetap mengahrgai dan menerima Anugerah-Nya. Ayahku bukanlah seorang Profesor yang bergelar panjang dibelakang namanya, namun dari Ayahku lah aku diajarkan bagaimana berfikiran untuk maju dan  jangan pantang menyerah. Ibuku, seperti Ibu-Ibu lain yang menyayangi anaknya. Dibalik keceriwisannya terpancar perhatian. Dibalik kengeyelannya tersimpan rasa kasih sayang yang luar biasa untuk anaknya. Ibuku dengan segala kerendahan hati yang dimilikinya selalu berusaha untuk membahagiakan anaknya. Ibuku yang selalu mengingatkan aku untuk tetap hormat dan taat denga Ayah dan dirinya.

Seharusnya aku faham apa yang diinginkan mereka. Seharusnya aku lebih peka bahwa tanggungjawabku tidak hanya sebatas sarjana saja. Ada satu dan dua hal yang itu ialah harapan kedua orangtua agar aku sukses di dunia. U

Cinta Saat KKN Itu Hanya Seberat Kaleng Kosong


Sebagai seorang mahasiswa tentunya anda akan mengenal apa yang namanya KKN (Kuliah Kerja Nyata). Salah satu program wajib untuk tamat belajar di perguruan tinggi serta menjadi bukti bagaimana sudah sepantasnya tugas mahasiswa untuk mengabdi pada negeri. Program yang ditawarkan tentu berbeda-beda tergantung dengan segala latar belakang setiap mahasiswa dengan pendidikan ataupun jurusan yang diambilnya. KKN menjadi hal yang tak terlupakan tentunya, karena biasanya disana menyajikan kisah unik, lucu bahkan romantis dengan segala aktivitas yang telah dilakukan. Yang paling menarik tentunya bagaimana kisah cinlok (cinta lokasi) yang terjadi di dalamnya. Ada sebagian yang berhasil mendapatkan apa yang didambakannya ada pula yang tidak berhasil dan kembali dengan nasib sebagai penegembara cinta. Tulisan ini hadir untuk sekedar mengemukakan pendapat saya bahwa, apa yang ada saat KKN hanya akan bertahan saat itu juga. Namun tidak dengan KKN di desa saya (Lihat posting terdahulu dimana saya KKN). Sayangnya kisah asmara yang ada dan kami bawa tak begitu lancar sebagaimana pengharapannya.

Sepengatahuan saya hampir di setiap desa yang menggelar KKN akan ada benih-benih asmara diantara para pesertanya. Entah itu sampai hal yang lebih serius atau hanya menjadi isapan jempol belaka. Namun cinlok menjadi topik yang lumrah dimanapun saja KKN tersebut berada. Menurut teori saya menganut pada tresno jalaran soko kulino nya wong jowo. Cinta hadir diantara dua insan yang tak bersalah ini karena berawal dari kebiasaan, kebiasaan untuk saling perhatian, perhatian yang akan tumbuh menjadi saling mengingatkan dan di dalam lubuk hati yang terdalam mulailah muncul cinta yang terpendam. Tidak hanya yang single, yang taken pun bisa terkena virus cinlok saat KKN ini. Bukan berarti sang taken ini tidak bisa menjaga amanah untuk LDR (Long Distant Relationshiiiit!) dengan kekasih yang telah dia punya, namun keadaan kadang membuat mereka harus khilaf dan lupa sehingga dia sang taken menerima kenyamanan yang dia terima disaat sang kekasih nun jauh disana. Sang single pun terlanjur semangat untuk mengejar cintanya. Sehingga dia pun masih memperjuangkan kaidah tidak menyerah sebelum janur kuning merekah sebagai tanda sah menikah. Suasana, menjadi faktor utama bagaimana virus cinlok ini menyerang para pasiennya. Seringnya bicara, tertawa, bercengkerama dan menghabiskan waktu bersama membuat mereka lupa bahwa mereka sebagai salah dua diantara para mahasiswa yang sedang mengemban amanah. Namun hal tersebut dirasa lumrah karena diantara mereka berdua sudah tumbuh perasaan untuk saling suka. Tiga minggu mencari cintapun berhasil dirampungkan dan tinggal menunggu episode-episode berikutnya.

Singkat cerita, setelah pulang KKN setiap para pesertanya pasti akan bilang mereka kangen A, B, C dan D. Sang pejuang cinta ini pun akan berusaha untuk menjalin kembali hubungan dan kisah asmaranya. Syukur kalo bisa langgeng. Namun tidak jarang yang kemudian hubungan terebut menguap di tengah jalan. Alasan kembali ke kesibukan masing-masing. Berkumpul dengan teman sejawat serta hamburan tugas yang kembali mendera merenggangkan persebaran virus cinlok KKN. Belum lagi yang sudah taken, dirinya akan kembali sadar bahwa dia telah khilaf dan akan kembali ke jalan yang benar yaitu mengarungi bahtera asmara dengan sang pacar yang telah dia miliki sebelum dia KKN. Tapi, ada juga sebuah hubungan yang patah akibat KKN. Alasan cemburu dan di duakan tentu menjadi alasan klise bagaimana sebuah hubungan malah retak setelah KKN diselesaikan. Kasihan bagi yang mengalaminya karena hanya akan ada kenangan pahit tentang KKNnya. 

Tiga bulan setelah KKN ada kalanya masih ada yang mencoba untuk berkumpul bersama teman sedesanya. Namun lebih banyak lagi yang kembali sibuk dengan segala aktivitasnya. Namun yang justru kasihan lagi ialah sepasang orang yang paling dibahagiakan saat KKN justru benih-benih asmara diantara keduanya malah sirna. Sehingga mereka harus kembali ke awal untuk menyanyikan lagu "somebody that I used to know". kesimpulannya ialah, cinlok saat KKN tidak berlangsung dengan lama kawan. Tak usah khawatir, karena dua tiga bulan sesudahnya semuanya akan kembali ke jalan hidup masing-masing. Jodoh memang di tangan Tuhan, namun manusia yang mencarinya. Tidak hanya saat KKN, karena dunia ini lebih lebar dari daun buah kelengkeng dimana kau akan siap bertemu dengan siapa saja orang yang tampak lebih keren daripada incaranmu saat KKN. Bagi yang punya pasangan, percayalah bahwa KKN hanya sebulan dan tak sebanding dengan jalinan kisah kasih kalian yang telah berlangsung tahunan.

Don't worry about KKN, just have fun and drink a lot of orange in canned.

Jumat, 25 Januari 2013

Lost In Love (SNSD with translation)

[Taeyeon] Urin jigeum jeongmallo heeojin geolkka anim yaksokhandaero jamsi meoreojin geolkka
Naneun I jeongdomyeon chungbunhi doen geot gateunde wae amureon sosigi eomneun geolkka

[Tiffany] Neoreul saranghae kkeutdo eomneun gidarimirado gwaenchanha
Niga nareul dasi chajeul ttaemyeon eonjena neoreul hyanghae useo jul su inneunde

[Tiffany/Taeyeon] Ajikdo badadeuril su eomneun geolkka niga kkeonaetdeon yaegin ibyeoreul dollyeo malhan geot
Naneun gojigotdaero bada deurigo sipeo neoneun jigeum mueol hago isseulkka

[Taeyeon] Neoreul saranghae kkeutdo eomneun gidarimirado gwaenchanha
Niga nareul dasi chajeul ttaemyeon eonjena neoreul hyanghae useo jul su inneunde

[Tiffany] Ije jogeumssik na seulpeojigo niga tteonan geol silgamhajiman niga doraomyeon jalhaejugetdan saenggakppun
[Taeyeon] Wae ireoke miryeonhageman gulkka naege jueojyeotdeon sigandeureun ([Tiffany] Sigandeureun) uri sail jeongnihagi wihan siganil ppun

[Tiffany] Seulpeuji anha niga nareul chajeul georaneun geu mideumeun
[Taeyeon/Tiffany] Naui sarangeul deo dandanhage mandeulgo naege saraganeun himeul juneun geol



---Translation---

Are we really breaking up now.
Or are we just separated for a moment, like how we promised to be.
This separation is already enough for me.
Why haven’t I heard from you.

I love you, I can wait for you endlessly.
When you come to find me.
I can smile at you, always oh.

Am I still unable to accept it.
That you turned around and announced our separation.

I just want to accept the truth as it is.
What are you doing now?

I love you, I can wait for you endlessly.
When you come to find me.
I can smile at you, always oh.

Now that sadness slowly accumulates.
Although I know that you really left.
I can only hope to be nicer to you when you are back.

Why am I behaving so stupidly.
The time that you gave me.
Is just time for us to even things out between us.

I’ll not be sad.
For the belief that you’ll come to find me.
The belief makes my love stronger.
And gives me the energy to live on.

Men Sana In Corpore Sano (Melas pool nek wayahe loro)

Musim hujan membuahkan banyak orang gampang terkena sakit. Salah satunya aku yang terserang flu dan batuk berdahak yang sangat mengganggu aktivitasku. Lumayan kaget juga saat mengalami hal ini, bukan apa-apa tapi aku jarang terkena sakit. Karena dengan nafsu makan yang brandalan aku menganggap bahwa imunitasku pasti cukup kuat untuk menahan penyakit. Tapi yang harus digaris bawahi ialah selama ini sakit yang menyerangku hanya sekitar urusan perut, mag, asam lambung tinggi, masuk angin dan ini yang paling sering bahkan setiap hari SARIAWAN. Sariawan telah menemaniku sejak kecil, sehingga sekarang rasanya aku biasa saja bila ada sariawan yang menempel di bibir dan lidahku. Aku sudah tidak merasa perih lagi, meski aku sudah menyediakan albothyl, tapi sampai satu tahun ku beli obat tersebut hanya ku pakai sekali. Itu saja karena kebutuhan yang mendesak, saat sariawan tanpa iba membabi buta sekujur lidah padahal besoknya aku harus ujian lisan SPAS. Yap, hanya kali itu akhirnya aku menggunakan albothyl, selebihnya aku mencoba untuk tetap menikmati setiap makanan yang ku kunyah msekipun ada rasa perih dan nyeri di bibir dan lidah.

Berikutnya ialah penyakit yang berkaitan dengan urusan perut. mag, sudah pasti ada karena sebagai anak kos seringnya aku malas makan karena harus jalan dulu lah, uang saku yang mepet lah, atau karena hujan yang tak kunjung reda sehingga pola makanku jadi sekenanya. Namun paling hanya dikasih makan saja rasa perih di perut kemudian reda. Atau kadang lantas minum obat mag itupun tidak sering, hanya sekali atau dua kali saja aku pernah menelannya. Atau masuk angin, karena terbiasa terjaga hingga larut malam lantas badan ini merasa meriang dan kembung di perut. Kerokan, tidur, makan ialah obat yang paling ampuh sehingga membablaskan angin yang ada.

Justru aku dua bulan terakhir merasa rapuh dan gampang terkena penyakit. Padahal makan sudah teratur. Dulu hanya dua kali aku pernah pergi ke dokter, yang pertama saat SMP kelas 2. Aku masih ingat saat itu masih H+ ke berapa saat Hari Raya, namun aku terbaring lemas dan sampai akhirnya di bawa ke dokter. Setelah terkena suntikan obat dari dokter justru aku malah pingsan. Aku masih ingat betul bagaimana kepala ini dengan kerasnya terbentur di lantai. Yang kedua ialah saat kelas 2 SMA. Beberapa hari setelah pulang kemah, aku merasa sangat payah sehingga dibawa ke dokter. Kejadiannya sama, setelah aku disuntik aku merasa mual, alih-alih berlari keluar karena mau muntah justru aku tergeletak di lantai dan akhirnya pingsan juga. Bahkan aku sampai harus dirawat kurang lebih seminggu di Puskesmas dekat rumah. Aku mengira-ngira bahwasanya sekali aku sakit, dan kemudian dibawa ke dokter apapun itu sakitnya aku langsung tergeletak pingsan. Aku tidak takut terhadap jarum suntik, tapi aku juga tidak paham dengan segala macam obat, overdosis, antibiotik atau apalah itu tentang istilah kesehatan dan kedokteran.

Saat kuliah ini aku sangat berusaha untuk menjaga kesehatan agar tidak jatuh sakit. Aku menyadari bahwa dengan kondisi yang jauh dari orangtua aku harus bisa untuk tetap fit. Jikalau badan ini terasa mulai pening atau perut terasa nyeri aku segera melakukan langkah-langkah preventif. Istirahat lebih cepat, makan mulai teratur atau keinginan dalam batin ini bahwa aku harus sembuh dan sehat. Justru dua bulan lalu aku merasa di titik nadir kesehatan. Awalnya hanya perih di perut saja, namun pinggang bagian belakang rasanya tidak mau diajak kompromi untuk duduk dan berdiri, maunya berbaring lurus. Sungguh pertama kalinya ini kau merasa sangat kacau. Aktivitas dikantor dan presentasi saat kuliah pun terganggu. Hingga aku memutuskan ke klinik milik kampus. Dokter yang jaga hanya bilang kalau ini urusan lambung. Asam lambungku harus dijaga terangnya. Dan pinggang belakang yang sakit ini hanya efeknya saja. Oke, it's fine. Justru yang ngeri ialah saat rekan sekantor ku si princess yang bilang bisa saja aku terkena ginjal. Karena gejalanya hampir sama dengan adiknya yang pernah mengalami nasib serupa. Yang benar saja --_--!! Aku tidak berani bilang ke orangtua karena takut bila mereka malah khawatir. Sehingga aku hanya menjaga tubuh yang telah payah ini dengan minum obat dari dokter klinik kampus tadi dan beristirahat secukup mungkin. Alhasil sekitar dua hari kemudian aku bisa beraktivitas kembali.

Yang terakhir ialah yang sekarang ku alami. Flu dan Batuk yang menurutku terparah sepangjang perjalanan hidupku. Berawal dari terkena hujan gerimis biasa, namun besoknya badan ini langsung merasa renta. Terkena AC sedikit langsung menggigil diikuti oleh flu yang membuat aku tak bisa menghirup udara segar. Dan batuk berdahak yang sangat membuat tenggorokan menjadi sesak. Aku membeli salah satu obat untuk menghilangkannya. Rasanya sudah dua hari ini memang lebih baik, namun belum sepenuhnya hilang. Yang ku khawatirkan ialah apakah imuneku sudah menurun? Padahal banyak aktivitas yang harus ku jalankan. Intinya aku tidak mau untuk mudah sakit. Aku tidak mau terlalu lemah sehingga ketika menjalankan segala aktivitas menjadi sangat mudah lelah. Aku selalu percaya bahwa kalau didalam diri ini ada motivasi sehingga memunculkan sugesti untuk tubuh ini tetap sehat dan kuat maka semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak terlalu sering ke dokter dengan alasan apapun. Kalaupun asam lambungku naik, aku telan saja sebatang sabun mandi untuk meredakannya. Kalaupun sariawan ini datang, aku sudah sangat terbiasa sampai bisa mengucapkan "Halo selamat datang sariawan". Demi masa depanku yang panjang, demi skripsi yang mulai tampak jalan terang, dan demi ayah dan ibu yang ada di Rembang, aku ingin tetap sehat dan kuat untuk meraih cita-cita yang telah tertambat. Sakit, entah apapun itu jenismu tolong jangan mampir ke badanku.

Selasa, 22 Januari 2013

Badminton VS Tennis

Olahraga ini punya pegangan yang sama, namun berbeda segalanya. Bentuk lapangan secara pattern terlihat serupa, namun ukuran dan tempatnya jauh berbeda. Hadiah utama setiap ada turnamen pun berbeda pula. Di Tenis ada Grandslam yang diselenggarakan di empat negara berbeda, tiga benua, dan tiga jenis lapangan yang berbeda. Badminton sekitar tahun 2008 juga menerapkan hal yang serupa dengan nama Super Series Premier. Namun tetap saja hal olahraga ini tampak bertakdir berbeda. Meski dua-duanya masih dimainkan di Olimpiade.

Sangat penasaran mengapa kedua olahraga ini tampak sangat berbeda. Misalnya dari jumlah hadiah, Super Series Premier yang menyajikan hadiah ratusan ribu dollar, hanya setara dengan turnamen tenis yang berlevelkan international tour. Di grandslam, hadiah yang diterima seorang pemain single mampu setara dengan seluruh hadiah total di SS Premier Badminton. Tentu pemain tenis ini akan lebih kaya secara material daripada atlet bulutangkis. Kemudian, di badminton hampir seluruh hadiah yang diberikan berjmlah sama antara pemain ganda dan tunggal. Namun di tenis, hadiah yag tersedia untuk ganda putra dan putri lebih sedikit daripada hadiah pemain tunggal. Apalagi hadiah untuk ganda campuran terhitung yang paling sedikit. Namun tetap saja tenis mampu lebih menggema dalam hal prestige. Mungkin hal yang mendukun iala persoalan akan iklan dan sponsor. Di tenis, brand terkenal seperti Nike, Adidas, ataupun Fila memiliki peran dalam hal busana atau pakaian. Tapi di raket mereka ditunjang oleh Yonex, Ballboat, dan Prince. Sedangkan di badminton selama bertahun-tahun Yonex mendominasi bulutangkis dari mulai raket, kaos, hingga sepatu yang dikenakan oleh para atlet. Baru beberapa tahun belakangan muncul merek-merek baru seperti Li Ning, Victor, dan Gosan. Sehingga terdapat sedikit persaingan produk antara brand tersebut.

Persoalan yang lain ialah bagaimana Tenis sangat menggambarkan individualitas dan liberalisme. Sedangkan di Bulutangkis hanya negara yang seolah menjadi sponsor utama dalam perhelatan dan setiap kompetisi yang dimainkan. Sehingga jarang ditemui adanya bintang-bintang baru dalam bulutangkis. Yang hadir ialah dominasi dari salah satu atau beberapa negara saja. Seperti China, Indonesia, Korea dan negara-negara Asia lainnya. Ini kemudian menggambarkan bahwa Tenis ialah olahraga yang lebih digemari oleh Barat sedangkan Bulutangkis mewakili Timur. Sehingga darisini terlihat bagaimana sportivity divide itu terjadi.

Becoming OS (Occasionally Serenity)

Akhirnya hari itu datang juga, setelah hanya tersampaikan lewat beberapa sumber yang terpaya keputusan agar aku jadi naik satu level lagi terwujud. Yang berawal dari resolusi 2013, ternyata tiga minggu kemudian hal tersebut tercapai. Memang segala sesuatunya telah direncanakan-Nya untuk maksud yang terbaik bagiku. Karir yang ku bilang mulus dan didukung oleh rekan-rekan yang tulus. Alhamdulillah... Next, aku berfikir bahwa dengan kondisi yang akan terjadi maka tanggungjawab yang ku tanggung pasti akan lebih berat. Namun segala sesuatunya tentu harus diusahakan terlebih dahulu dan just follow the dragon. Terimakasih atas kepercayaan yang telah diberikan. Semoga kedepan aku bisa lebih beradaptasi, lebih berkontribusi,serta lebih paham dan lebih tertib. Dan jangan lupa bahwa aku masih punya satu tanggungan, Skripsi!

Sekedar flashback, dahulu aku hanya anak yang kupu-kupu. Ada hal penting menurutku sehingga bila kuliah itu jangan sampai ada suatu kerjaan yang mengganggu. Pengalaman yang sendu melihat seorang atau dua orang kawan yang terlalu sibuk dengan kerjaan ataupun aktivitas yang membelenggu sehingga mereka jarang kuliah dan jarang ketemu denganku. Sehingga aku berfikir bahwa, jangan sampai aku juga mengalami hal itu, karena tanggungjawabku sebagai mahasiswa ialah kuliah. Mungkin maksudnya baik dengan mencari sampingan untuk kerja sehingga meringankan beban orangtua, namun apabila tanggungjawab sebagai mahasiswa saja terbengkalai, aku malu bila hanya menjadi biola yang tak berdawai. Akupun mencoba mencari alternatif dan cara lain agar image sebagai seorang mahasiswa yang punya aktivitas lain namun tetap fokus kuliah. Itulah yang selama ini ke dengung-dengungkan. Sesibuk apapun kerjaan yang ada, aku akan tetap berusaha untuk tetap datang kuliah dan juga datang bercengkerama bersama teman sebaya. Tiga bulan magang kemudian kuperpanjang hingga dua bulan terakhir ini aku merasa duniaku masih seimbang. Aku masih bisa berkumpul bersama kawan, tugas lancar, dan pengalaman saat di kantor juga ku perbanyak. Tentu kesempatan untuk memperkaya softskill jangan sampai tersia-siakan.

Di lingkungan yang terbilang baru ini aku bisa mengatakan bahwa aku nyaman berada di dalamnya. Aku menemui banyak karakter baru yang bisa kuambil setiap pelajaran yang mereka berikan. Baik dari Mbak-Mbak, Mas, Bapak, dan Adik hingga Kepala atau Pimpinan. Meski memang terkadang ada grundelan di hati kenapa harus ini harus itu, tapi aku kembali lagi bahwa segala sesuatunya harus diusahakan terlebih dahulu. Aku mungkin lebih betah daripada temanku sang Pakistan alay yang terlebih dahulu meninggalkan kantor. Alasannya ialah karena dia belum menemukan kenyamanan disini. Tapi prisnsipku ialah aku ingin menciptakan "comfort zone" ku sendiri daripada harus mencarinya terlebih dahulu. Aku akan berusaha untuk lebih bersosialisasi dan beradaptasi sehingga tidak terlalu terkungkung dengan dunia yang asik sendiri. Satu hal lain yang kutemukan disini ialah aku bisa berawal dari terpaksa, kemudian terbiasa. Aku mulai tahu rute motor untuk ke juanda, aku tahu ribetnya membuat pasport di imigrasi, aku tahu ruwetnya berurusan dengan birokrasi, aku semakin mahir dalam hal memfotocopy, dan aku juga mulai terbiasa dengan panasnya matahari. 

Aku bersyukur atas apa yang telah ada selama lima bulan terakhir. Ku sadari masih banyak kecacatanku yang memang terjadi karena unsur kesengajaan ataupun ketidaktahuanku. Namun dengan segala ambisi dan dedikasi aku bersiap menerima pengalaman, pengetahuan, dan pelajaran yang memang sungguh berarti. Semoga lebih berkontribusi.

Ku tutup tulisan ini dengan quote:

"With great power comes great responsibility" Uncle Ben, Spiderman

Sabtu, 19 Januari 2013

Heavy Rain VS Cold Brain

Saat ini Surabaya sedang diguyur hujan deras. Deras sekali hingga menghalangi niat Bapak Kos untuk pergi sholat berjamaah layaknya di hari biasa. Deras sekali hingga percikan air mampu menembus kamar kos melalui celah ventilasi. Semoga dibalik hujan yang deras ini tersimpan hikmah dan anugerahNya. Banyak orang berkata bahwa hujan ialah salah satu momen dimana setiap doa kita akan diijabahi. Percaya atau tidak, yang jelas saat ini ku lantunkan doaku untuk kesehatan kedua orangtuaku. Tuhan, bahagiakan mereka sepertiku atau bahkan biarkanlah mereka merasa lebih bahagia dari aku. Doa kedua ialah semoga teman-temanku entah mereka dimanapun berada juga dalam perlindunganmu. Yang KKN, yang liburan, yang malam mingguan, yang rumahnya kebanjiran, semuanya. Dan terakhir, berikanlah aku kekuatan untuk tetap semangat mengerjakan skripsi yang telah lama ku abaikan. (Amiiin...)

Salah seorang teman berkata bahwa disaat hujan deras seperti ini tempat yang paling dia ingat ialah rumah. Karena dirumah, sederas apapun hujan ataupun sekeras apapun halilintar yang menyambar dia masih merasa nyaman karena berada disekeliling orangtua yang sabar. Kalau aku, dimanapun hujannya yang ada difikiranku ialah kapan selesainya? karena biasanya disaat hujan aku pasti lapar, dan membutuhkan abang tukang nasi goreng atau tahu tek yang lewat agar ada makanan yang menjadi santapan. Tapi dibalik semua masalah perut tadi, aku pasti mengucap doa untuk semua orang yang ku sayang. Orangtua pasti, sahabat juga, saudara dan handai taulan iya, dan siapapun itu yang ada disana.

Sebenarnya suasana yang membuatku teringat rumah ialah saat menjelang adzan magrib. Dimana langit tampak abu-abu, semua orang terlihat sibuk untuk pulang kerumah, jalanan padat merayap serta awan tampak kelabu dihiasi oleh kicauan burung yang merdu. Disaat itulah aku merasa sangat sangat ingin berada di rumah. Sesederhana apapun rumah itu setiap orang mendambakan untuk memilikinya. Bahkan ada beberapa orang yang tidak bisa tidur kalau tidak ada dirumah mereka sendiri. Rumah oh rumah.

Dengan kondisi rumah yang nyaman itu aku dibangun untuk menjadi seorang yang rumahan. Dalam artian aku tidak suka kemana-mana, lebih enak dikamar, nonton TV, dan tidak perduli dengan segala sesuatu diluar. Aku pun jarang mengunjungi kota-kota yang seperti ayahku pernah jelajahi. Pekerjaan beliau menuntut agar beliau hanya bisa mampir rumah seminggu sekali. Adik ku pun lebih berpengalaman dan berpengetahuan dalam urusan rute-rute perjalanan. Kakakku, sempat dan pernah pula berpetualang karena dulu menjadi agen HP untuk dijual. Sedangkan aku? Hanya beberapa kota saja yang pernah kukunjungi. Untuk saat ini aku merasa menyesal kenapa aku tidak pula turut berpetualang layaknya kakak dan adikku. Namun disatu pihak aku menyadari bahwa aku bukanlah orang yang suka jalan-jalan dan mengeksplore tempat-tempat baru. Sekarang ini baru muncul keinginanku untuk berpetualang. Tapi hanya sebatas ingin dan tak ada usaha untuk terjun kesana.

Dari kecil memang aku seduh menerima dimana au berada. Aku tidak terlalu menuntut untuk kemana-mana. Mungkin hanya keinginan untuk bisa melihat salju layaknya orang-orang yang tinggal di Negara tropis pada umumnya. Rembang-Gresik-Surabaya-Malang hanya empat nama kota tersebut yang ku hawal arah jalannya. Selebihnya aku tidak pernah kemana-mana. Kecuali ikut karya wisata bersama teman SD ke Baturaden dan Goa Jatijajar. Bersama teman SMP ke Bandung dan sekitarnya. Bahkan saat SMA saat ada karya wisata ke Pulau Dewata aku tidak berminat, karena selain faktor biaya ternyata teman-teman se Gank juga tidak banyak yang ikut. Semarangpun aku tidak akan pernah kesana jikalau aku tidak ikut lomba ataupun ujian masuk UNES. Jogja dan Jakarta katanya aku pernah kesana saat usiaku masih belia. Dari foto-foto yang ada dirumah, memang tampaknya aku belum bisa mengingat apa-apa saat itu.

So, bagaimana selanjutnya? Memang aku punya rencana ke beberapa tempat. Namun hanya rencana saja, karena ku pikir-pikir tak selamanya bertravelista itu bahagia, aku justru lebih bahagia bila berada dirumah. Makan indomi goreng, liat TV, tidur, ketemu Ibu dan Ayah... sudah. Aku merasa bahwa memang bahagia itu sederhana. Mungkin keinginanku untuk travelicious hanyalah sebatas kepingin saja, bukan tipeku untuk berpetualang. Karena menurutku dengan aku keluar dari Rembang, ini saja sudah keputusan untuk berpetualang. So, gak usah aneh-aneh dengan pengen ke Semeru atau ke Rajaampat!!! Bahagia itu sederhana dan bahagia itu ada dirumah :)