Selasa, 03 April 2018

Jurnal Pribadi 2018

Halo semuanya, untuk tahun ini saya sangat beruntung bisa terpilih menjadi 40 pemuda/pemudi yang mengabdi untuk negeri. Banyak sekali hal dan cerita yang ingin saya bagi. Blog ini akan sunyi untuk sementara waktu. Cerita dan kisah saya akan saya update melalu blog Indonesia Mengajar. Berikut salah satu link nya

https://indonesiamengajar.org/cerita-pm/aditya-putra-6/tali-sepatu-isbar

Mohon doanya dan simak terus cerita dan kisah menarik dari Aceh Singkil tempat saya mengabdi selama setahun ke depan. Semoga saya selalu bisa hadir utuh dan sadar penuh. Untuk terus mengajar dan belajar tumbuh terus, lampaui batas diri.

Minggu, 31 Desember 2017

2017: Tentang Lampaui Batas

Dari beberapa hari yang lalu sesungguhnya ingin menulis namun masih terganjal sinyal dan berbagai kesibukan di penempatan. Akhirnya malah dapat moment pas saat penghujung tahun. What a year! Tahun ini salah satu turning point ku untuk keluar dari zona nyaman. Keluar dari pekerjaan, keluar dari kota pahlawan, tapi tak pernah keluar dari dia dan bayangannya. 

Kemudian saat ini aku ada di ujung barat negeri, untuk mengabdi, menjadi guru bagi anak-anak yang merajut mimpi. Katakanlah ini bukan perkara gengsi, bukan tentang patah hati, bukan tentang pamer postingan terkini. Lebih kepada penemuan jati diri. Bahkan aku dan Ravi bisa memprediksi bahwa memang tahun ini tahun kami. (Alhamdulillah Ravi juga akan bekerja di ibukota)

Lantas aku terdampar disini. Aku menjadi lebih banyak berdiam diri. Ingin lebih belajar mendengarkan lagi dan lagi. Pun aku juga harus siap menghadapi segala konsekuensi. Aku ingin terus belajar dan tumbuh untuk melampaui batas diri. Ingin bertemu banyak orang dengan cerita dan inspirasi masing-masing.

2018 aku masih di Aceh Singkil, aku akan belajar banyak untuk menjadi guru yang baik. Guru yang digugu dan ditiru. Tidak hanya sekedar menjadi penggerutu, tapi langsung terjun berkontribusi untuk bangsaku. Semoga Ayah dan Ibu beserta keluarga sehat selalu. Semoga aku bisa senantiasa menguatkan pundak dengan segala beban yang membatu.

Minggu, 22 Oktober 2017

Hari Ini

Purwakarta,  22 Oktober 2017

Kali ini maaf aku tidak memberitahumu aku kemana
Hari ini maaf aku tidak memberimu kado apa-apa
Malam ini aku pun galau untuk mem WA

Setaun lalu aku merasa sangat bahagia
Setaun lalu aku meluncur ke Ibukota
Setaun lalu kita ke monas dan kota tua bersama

Masa depan siapa yang tahu?
Tahun depan apakah kita akan bertemu?

Tapi kamu tau rasa ini padamu,
Selamat ulang tahun kamu

Selasa, 17 Oktober 2017

Endorse Anti Boros

Purwakarta, 17 okt 2017

Mumpung masih bisa pegang hape, semoga tulisan kali ini bisa merepresentasikan bagaimana banyaknya orang-orang baik di sekeliling saya membantu saya mempersiapkan semuanya. Mungkin saya harus memulai dari teman kantor, seminggu sebelum berangkat rasanya hampir setiap hari saya mendapatkan bingkisan. Yang pertama ialaha dari manager document, beliau saya segani karena kerapiannya, kedisiplinannya, dan sikapnya yang luwes untuk membaca kondisi karyawannya. Pagi itu tanpa ba bi bu, si ibu langsung ngasih kresek putih eager yang isinya travel towel. Betapa terharunya saya pada pagi itu. Satu pesan dari beliau yang akan selalu saya ingat ialah,  "karena kebaikan itu menular, kalau kamu baik sama orang ya kamu akan dapat yang baik-baik". Besok sorenya ketika nyuci gelas di pantry, sang madam manager sales menghampiri saya dengan gaya tegasnya seperti biasa. Bungkusan "Zara" segera beralih tangan ke saya. Pun hari itu juga, saya mendapat syal dari dua adik baru saya di kantor, syal lucu dengan boneka di ujungnya. Kamis malam sengaja saya pulang lebih cepat untuk menghindari kejutan-kejutan lainnya. Tapi besok paginya, saya mendapat sendal gunung dan dry bag dari mereka berdua yang dekat dengan saya. Di hari itu juga, saya mendapat "kerdus istimewa" dari rekan sales support kesayangan saya. Coba bayangkan saya dengan motor mio membawa dua dus besar yang berisi kasih sayang dari orang-orang terdekat di kantor saya.

Bagian kedua ialah dari teman-teman karib terbaik saya.  Sahabat sejati terbunci saya, jauh-jauh mengarungi panasnya Surabaya untuk membawakan sembilan item pelawan rasa suntuk saya. Tapi yang paling saya kenang ialah, clipper (penjepit kertas). Kebaoa clipper?  Kurang lebih kata-katanya seperti ini. "karena clipper itu satu, tapi bisa merekatkan banyak hal. Seperti kamu angga, anaknya satu tapi bisa merekatkan banyak pertemanan". Getir bukan?
Teman yang mengajari tennis saya pun memberikan topi. Tak berhenti disitu, teman-teman saya di Jakarta, juga membahagiakan saya. Dimulai dengan yang berkepala besar, memberikan saya Jaket plus pisau lipat, plus headlamp. Teman saya yang kerja di garuda memberikan saya kaos kaki hangat. Teman saya yang dulu dari kebraon pindah ke madura, memberikan saya slayer dan teman saya yang akan menikah tahun depab memberikan saya luggage tag. Oh ternyata juga ada teman saya yang absennya bersebelahan pagi-pagi menyusuri jalanan kosnya untuk memberi saya notebook dan headlamp. Oh iya, teman saya yang di bsd meminjamkan saya sleeping bagnya.
Fyuuuuh~~~
Saya senaaaaaang, banggaaaaa,  haruuuu. Taoi itu semualah yang membuat saya menjadi tangguh dan yakin untuk menjalani hari-hari saya ke depannya. Belom lagi doa dan harapan dari yang lain.  Saya merasa bahwa dunia saya sudah terbelah dua, antara fokus untuk program dan selalu keep in touch dengan sahabat tersayang. Tapi saya harus kuat, saya harus mampu menjaga amanah dari mereka beserta barang, doa, harapan, dan traktiran yang mereka bagikan.
I will not take those gift for grated, as I will not take this program for granted.

Kamis, 05 Oktober 2017

Seratus Purnama di Surabaya



Surabaya sewindu yang lalu, tak pernah terbersit bahwa aku akan begitu lama disisimu.
Aku yang dulu hanya bermimpi untuk “kuliah saja”, nyatanya malah terjebak hingga seratus purnama
Tinggal menunggu beberapa hari saja, akhirnya hari itu tiba
Aku akan memulai petualanganku yang baru

Wahai Kau sang Kota Pahlawan,
Terimakasih atas segala kisah yang terkenang
Aku bisa senang, aku kehilangan, aku menemukan banyak teman, dan tak terhitung gandrung berbagai macam makanan dan jajanan

Surabaya dengan segala cakcukmu
Kau begitu luar biasa untuk aku yang dari kalangan biasa
Hingar bingarmu menghiburku disaat hampa
Panas menyengatmu begitu terasa menyaingi emosiku yang membara

Tapi itu semua akan ku jadikan pelajaran berharga, dan kau Surabaya
Ialah Kota Kenangan yang tak ku lupa

Jumat, 11 Agustus 2017

Review Film "Banda The Dark Forgotten Trail"

Postingan kali ini agak faedah sedikit (semoga postingan-postingan selanjutnya juga sama).  Jadi hari ini aku nonton film Banda The Dark Forgotten Trail.  Perlu dua hari untuk membulatkan tekad nonton film ini. Pertama gak ada temen yang mau diajak, kemudian waktu cek di web cgv juga tiap pemutaran film ini sepi mulu. Akhirnya nekad lah aku nonton film ini hari ini. Dan benar juga, setelah di depan kasir aku orang pertama yang membeli tiket. Sampai tanya ke mbak nya kalo misal cuma aku apakah masih tetap diputar?  Mbaknya bilang iya. Akhirnya aku masuk teater, dan ternyata sudah ada satu orang duduk pas disebelahku. Sebelum film dimulai pun ternyata banyak juga yang masuk. Sekitar dua puluhan orang sepertinya.
Well, aku sebelumnya sudah membaca beberapa literatur tentang film ini. Genre nya dokumenter, Reza Rahardyan bertindak sebagai narator (awalnya agak snewen karena tiap film ada si mas ini) Dan aku sudah antusias dengan film ini sejak dua menit pertama dimulai. Bagaimana dibuka dengan narasi yang menyebut pala sebagai komoditi yang menyebabkan ekspedisi dunia. Untuk orang sepertiku yang suka sejarah tentu sangat bahagia mendengar kembali perjanjian saragoza, alfonso de alberqueque, dan beberapa nama penjelajah dunia yang rasanya ingin kembali ku buka RPUL. Visualisasinya terlihat sederhana dan mudah dicerna.
Dibagian awal film memang masih menggambarkan bagaimana pala bisa menjadi komoditi yang diperebutkan oleh bangsa-bangsa barat.  Pun hingga Belanda mau menukarkan New Amsterdam (Manhattan)  dengan Pulau Roem di kepulauan Banda. Dilanjut dengan bagian bagaimana Banda menjadi tempat pengasingan bagi para perumus kemerdekaan.  Mulai dari Bung Hatta hingga Syahrir. Karena letaknya yang kecil dan jauh dari kota besar, inilah alasan Banda menjadi tempat pembuangan para pejuang kemerdekaan. Di bagian terakhir film juga ada narasi tentang bagaimana isu SARA 1999 yang terjadi di Maluku juga menyulut bara api pertentangan di Banda. Padahal Banda merupakan miniatur kecil nusantara karena berbagai macam orang, suku, dan ras tinggal disana. Alasannya karena mereka ialah orang buangan, bekas budak pala, ataupun para pedagang yang mencari keuntungan dengan menjual belikan pala.
Melihat film ini saya merasa melihat acara-acara discovery channel ataupun nat geo. Tapi dalam bahasa indonesia (suara Aryo Bayu menjadi narator untuk teks B. Inggris namun tidak ditemui/mungkin untuk festival internasional). Dari film ini saya belajar lagi tentang sejarah.  Karena sejarah itu penting, untuk belajar tentang asal usul kita, tentang kehidupan kita di masa sekarang dan juga belajar untuk bekal di masa depan agar sejarah yang kelam tidak kembali terulang. Semoga ke depan lebih banyak lagi film Indonesia yang non-java sentris. Karena Indonesia terbentang luas dan cukup jengah juga melihat pemberitaan yang selalu berputat tentang ibukota dan sekitarnya. Overall saya beri 8 untuk film ini.  :)

Minggu, 16 Juli 2017

To Those Kind Of Quarter Life Crisis

Hai,  saya 26 tahun per kemarin.  Di usia yang labil ini saya hanya ingin lebih subtle, chill, tapi tetap punya semangat besar untuk menggapai mimpi-mimpi yang tertunda.  Ya, saya masih merasa harus bisa berdamai dengan gejolak yang banyak orang bilang sebagai "quarter life crisis". Entah itu soal karir, asmara, ataupun sebagai manusia seutuhnya as a human being kalo bahasa inggrisnya.

Well, saya masih struggle untuk mencari dan menggali apa yang sebenarnya ingin saya kerjakan. Karena memang untuk pekerjaan yang sekarang saya masih merass kurang optimal. Asal kerja saja, datang tepat waktu, meminimalisir kesalahan, dan mencari jalan untuk setiap permasalahan. Tapi itu saja tidak cukup bagi saya, saya merasa kurang stand out, malas-malasan berhadapan dengan overseas agent,  menutup diri dengan rekan kantor, dan menjadi follower ataupun mbebek saja dalam segala kegiatan(which is that's not me).

Percintaan, masih saja mbuletisasi dengan orang yang sama.  Lebaran tahun ini yang harusnya bisa memperkuat silaturahmi, menjadi antiklimaks ketika dia dengan bangga beritahukan pada dunia bahwa dia kini miliknya.  Melihat senyum lebarnya bersama orang lain, justru menciutkan setiap nyali dan melenyapkan memori kan dirinya. (ok let me stop it for this part)

Life?  Emmm sama seperti dua hal diatas,  saya masih juggling in between that kind of inner peace in myself. Saya mewarnai rambut saya mulai dari blonde, abu-abu, pink, baby blue, hijau ulat daun. For what?  Nothing. Hanya ingin dan coba-coba saja. Hasilnya? Yup, saya jadi center of attention tiap kali jalan ke TP, atau mengantar ibu ke pasar tanpa helm. Does it make me proud?  Ya bisa dikatakan iya, bisa dikatakan tidak. Tapi intinya mewarnai rambut macam-macam itu malah bikin rambut tidak sehat (seperti sekarang ini rambut saya menjadi beruban dan kulit kepala cepat kering sehingga menimbulkan banyak ketombe)

So what's next?  Saya akan tetap menjadi saya. Maaf sekali untuk para sahabat yang akhir-akhir ini saya hindari. Karena saya memang sedang mencari ketenangan diri.  Berdamai pada hati. Oh iya, nomer WA saya juga ganti.  Bukan berarti saya akan berubah, tapi semoga ini menjadi bentuk metamorfosis untuk menghadapi what so called a quarter life crisis. Saya sudah me-list kegiatan-kegiatan apa saja yang akan sala lalui.  Seperti mengambil les perancis (√), beli buku atau novel bagus sebulan dua kali (√), menabung untuk umroh ibu (√), yang masih jadi PR ialah, menjaga bentuk badan (ngecilin perut), buka reksadana guna s2 (masih nyari-nyari agen terpercaya), mengurangi hidup hura-hura hompimpa (masih suka gak bisa nahan godaan)

So this is me as 26 year of my age yeaah! Hidup akan terasa berat, kadang bosenin, kadang gak adil. But we fail, we lose, we get up, we learn, learn, learn and learn. Let the time answering when we will be rise and shine.

Minggu, 05 Februari 2017

Menjabat Tangan Sahabat

Berulang kali saya katakan bahwa saya orang yang menjungjung tinggi persahabatan. Apapun itu bentuknya, siapapun itu orangnya, dan seberapa jauh mereka berada saya akan selalu siap sedia untuk pasang badan. Tak jarang yang bertanya "Emang wajib mas dateng ke wisudanya si A? Kok banyak banget nyumbangnya? Kok bela-belain jenguk si C?" Saya mungkin hanya memberi senyum simpul kepada mereka yang bertanya. Tapi kalau sahabat saya pasti tahu dan mengerti si Angga. 

Entah kenapa, kebahagiaan saya selalu berada di tengah-tengah mereka. Selalu terasa riang walaupun bertemu di teriknya siang. Selalu menghangatkan meskipun berkumpul di kota jauh dari lautan. Saya selalu lepas, terbahak, sampai bersorak bila bertemu mereka. Pun bahasannya sekitar perjalanan yang lalu, namun selalu saja tertawa untuk hal yang kami anggap tak lucu. Hanya sebagian kecil kami bisa membahas soal masa depan yang terasa masih di angan, dan curhatan tentang kerjaan kantoran terasa malah menjemukan.

Minggu ini saya ke Jakarta, untuk turut merayakan wisuda salah seorang sahabat saya. Naik kereta ekonomi dari Surabaya jam 21.00 dan sampai di stasiun Senen jam 9 paginya. Setelah bersih diri dan agak berleha-leha, saya lanjut ke stasiun ke godangdia dengan tujuan stasiun pondok cina. Tempat sahabat saya S2 di Universitas Indonesia. Saya bersama dua kawan karib yang lain. Awalnya bingung datang dengan tangan hampa tapi ternyata di stasiun Pocin telah banyak yang menjual bunga. Setelah beberapa kali telpon dan video call menanya arah akhirnya kami bersua dengan sang penerima gelar. Affan menerima gelar master of management, sedangkan Apsari menerima gelar master of science untuk S2 nya di pasca sarjana jurusan studi kawasan eropa. Senang jelas, foto dengan pemakai toga pasti, salim dengan orang tua mereka juga kudu. 

Kebaikan lain muncul ketika ortu Apsari mengajak makan ke derah Cibubur. Ini pertama kalinya saya ke Cibubur, setelah itu pulang ke rumah Apsari di Bogor, habis magrib kami kongkow di daerah Sentul. Dan saya menginap di rumah Affan di daerah BSD Tangerang. Perjalanan yang sangat wow menurut saya. Mengejar krl dari Bogor ke Tanah Abang, oper lagi dari Tanah Abang ke Rawa Buntu (tempat affan menjemput saya di dekat rumahnya)

Saya sampai di rumah Affan jam 1 dini hari. (Setelah melewati perjalanan kereta dengan jadwal paling akhir). Saya bangun jam 8 pagi, salim dengan kedua orang tuanya, mandi dan sarapan. Berbincang sebentar dan jam 10 pamit pulang. Kereta saya dari senen jam 2 siang. Saya merasa menjadi tamu eksklusif atau lebih tepatnya tak tahu diri. 

Saya sampai di senen jam 12 siang. Tapi ada janji lagi dengan kawan yang lain, imaroh kawan saya saat magang dulu dan helmy kawan saya sma yang menjadi persinggahan saya bila ke jakarta (selain rumah affan). Kami janjian di epicentrum dan dengan pertemuan dan perbincangan singkat. Ada pula teman saya fika yang sekarang se kantor dengan Helmi. Dengan terburu-buru saya kembali ke senen jam setengah dua. Pamitan secepat kilat ke helmi dan fika yang mengantar. Kembali aku menjadi sosok ekslusifyang hadir di kehidupan mereka hanya untuk makan siang bersama.

Well, lesson learned nya ialah saya merasa sangat sangat bahagia memiliki mereka. Jakarta yang katanya begitu megah, terasa nyaman dan hanya sejengkal saja bila bersama para sahabat. Oh iya, bahkan perjalanan kali ini saya minus bertemu dengan sahabat karib lainnya (sebut saja malinda, handy, salman, sinta, fellin, gerry) tapi mengingat hanya dua hari saja saya di ibukota rasanya hanya satu jam saja bila harus berbagi. Kembali lagi bahwa kebahagiaan saya sangat sederhana, berkumpul dan berbincang dengan para sahabat setia. Apabila tempat yang kami pilih fancy dan intagram-abke itu hanya bonus. I'm so blessed to be surroundibg by generous people very down to earth and they always by my side. Itulah alasannya saya selalu siap apabila mereka membutuhkan kehadiran mereka, tak hanya di hari bahagia pun ketika mereka sedang berduka. 

There is wood ship and good ship. The ship that sailing to the sea, but only friendship that I'll keep on my heart and mind wherever and whenever my self will be sailing

Selasa, 31 Januari 2017

"After all of this time?" "Always"

"After all of this time?" "Always"....
(Severus Snape, Harry Potter & The Deathly Hallows)

After nearly a decade I know you and we together
It's been an up and down situation
Bittersweet memories and not every day we cherish

But still
I'm always waiting your reply text
I'm always the very first one your update
But I'm also the last person who knows about your love romance

You have your own choice
I have mine
We struggle in between what we looking forward
What will happen next

Shortly and simple
After all of this time, Always gonna be me who stand beside you
Supporting you
and you gonna be you

Live the life as your believe
I'm so lucky enough to know that kind of person like you

As always...

Senin, 30 Januari 2017

Senja Temaram di Kota Batam

27-01-17

Satu dekade rasa itu tetap sama
Dengan segala naik turunnya emosi jiwa
Januari yang basah menjadi saksinya
Bagaimana tekad ini mengarungi samudera
Sebuah pulau yang hanya ku tau namanya
Tak kenal siapa tapi hanya dirinya

Hang Nadim menyambut dengan ramah
Damri ke Nagoya pun terasa tidak terlalu jengah
Mall terbesar di pulau tersebut rupanya
Xander Cage dan Alicia menjadi kawanku melepas lelah
Butiran coklat untuk kawan dan handai tolanpun terbungkus sudah

Saat yang dinantikanpun tiba
Dia datang
Dengan segala senyuman dan tatapan selamat datang
Kami besok siap melancong ke negeri seberang!

Singapura
Terimakasih telah menjadi negeri luar pertamanya
Dirinya yang tetap tenang di tengah hingar bingar negara singa
Dirinya yang selalu ku sebut namanya dalam setiap doa (setelah nama kedua orangtua)

Garden rhapsody tentu terkunci di memori
Tapi bersanding dengan dirinya merupakan lebih dari mimpi
Universal Studio begitu megah, tapi senyumnya lah yang melepaskan segala lelah
Menikmati ice cream sepanjang jalan menuju mrt bugis
Tentu membuat kenangan yang teramat manis

Tatapan, senyuman, candaan, berjalan di bawah hujan, cahaya marina bay yang gemilang, mcd untuk sarapan, hingga makan malam ke araban di sabtu malam. Semua tak akan terlupakan dalam beberapa purnama ke depan

Tapi, layaknya matahari pagi yang bersinar hangat di pipi
Cahaya itu akan temaram kala senja telah datang menyambut sang bulan

Sudah saatnya aku pulang,
Sudah saatnya kau bersama sang bulan

Jumat, 11 Maret 2016

Bekal dari Ibuk

Dua hari ini aku sempoyongan. Kembali mandiri, bangun pagi sama alarm, gak dibawain bekal, pulang malem gak ada yang ngomelin. Ibuk lagi balik ke Rembang, kangen si Regan yang makin ceriwis. Tapi emang tanggal 9 ada arisan PKK yang wajib bagi eksistensi ibuk. Hari ini diperingati sebagai hari lahirnya super semar bagi sejarah Indonesia. Tapi bagiku, hari ini memperingati hari lahir sang Super Emak. Fachrunisa Sri Budiawati, tapi panggilannya Yayuk. Penggemar tupperware, zoya, dan sekarang juga lagi ngikutin herbal life. 

Hari ini ibuk ulang tahun. Sosok yang teges, judes, bahkan di keluarga dekat dijulukin Pendekar. Karena orangnya yang suka ngomong langsung, gak kayak ibu-ibu laen yang nyinyirnya di belakang. Ibuk memang bukan sosok pendiam, beda sama Ayah. Ibuk lebih supel, banyak kenalan di pasar, sekolahan, arisan, pengajian. Agak gaul, apalagi dalam hal selera musik. Katanya sih gara-gara anak-anaknya CD nya numpuk, jadi ibuk tau lagu ungu, ada band, rossa, radja. Tapi sekarang jadi fans berat d'academy indosiar. Aku sih udah biasa sama omelannya ibuk. Dan jarang sih kena semprot. Paling ngomel masalah males mandi, bangun siang, dan yang sekarang ini kebanyakan makan! Yang paling sering kena omelan tuh Mas Arip sama Aldy. Ya nakalnya mereka lumrah sih sama kaya bad boy lain di umur mereka, but I'm always be a good guy. Aku gak neko-neko. Terlalu lurus dibanding mereka yang suka cari gara-gara sama Ibuk, kluyuran dan jarang di rumah. Lha aku? Tujuh hari dalam seminggu betah-betah aja kalo di rumah. (Kecuali kalo ada kumpul-kumpul sama temen SMA atau kuliah)

Dulu ada kejadian waktu baru sebulanan lah kuliah di surabaya dan waktu itu puasaan. Ibuk selalu telpon buat bangunin sahur atau nanyain buka dimana pake lauk apa. Tapi karena akunya yang kebo dan emang males sahur, pas itu ibuk telpon dan aku yang males ngangkat sambil nada tinggi jawab sekenanya dan ibu cuman bilang "ditelpon wong tuo apik-apik gae sahur, malah nyentak-nyentak!" Pas itu masih gak kepikiran dan langsung bablas tidur. Tapi besoknya aku mikir telah membuat sedih si ibuk. Bahkan setelah itu ibuk gak pernah telpon buat bangunin sahur lagi. Hiks, itu emang cerita waktu masih jadi anak durhaka di jaman jahiliyah. Sekarang ini lebih sering sih telpon, apalagi sekarang serumah. Walopun sekedar nanyain pulang kapan, lagi ngapain, paling gak tau lah kabar dari ibuk.

Jadi, selamat ulang tahun buk. Semoga sehat selalu. Sabar yah sama anakmu yang males nganter kemana-kemana. Semangat selalu buwatin dan bawain bekal yang terenak senusantara. Tetep gaul dan tetep kece. Dikurangin nyinyirnya, gaul facebook sama instagram juga. Love you Mom.

Jumat, 28 Agustus 2015

Kancing Baju Ayah

Ayah sakit, jumat 28 Agustus 2015 aku ambil cuti dari kantor. Ibu sudah menelpon sejak rabu siang. Mas arif juga sudah bbm menceritakan Ayah jatuh di kamar mandi. Campur aduk rasanya. Sedih iya, cemas pasti. Kamis sudah tak konsen kerja. Setelah isyak, aku langsung meluncur ke bungur. Naik bus, sampe rumah jam 12 malam. Langsung ke kamar Ayah. Dengan lelap sudah tidur. Merangkul guling dan tangan kirinya di bebat. Bengkak, ku hela napas dalam-dalam. Ayah seorang supir truk. Bagaimana bisa bekerja jikalau tangan yang menjadi penyokong untuk mengemudi bisa bengkak.

Berfikir yang tidak-tidak, sempat. Maulan, sulung dari enam bersaudara. Lahir di Pare, Kediri. Lulusan SR, dari remaja sudah geliat bekerja. Ikut saudara sana sini menjadi petani, beternak meri dan dengan semangat untuk pergi dari kampung halaman dia putuskan untuk menjadi Sopir Truk. Puluhan tahun rasanya dia habiskan di sepanjang jalan pantura. Bertemu anak dan keluarganya hanya seminggu sekali bahkan sebulan sekali pernah bila muatan sudah sepi dan belum lagi macet disana sini. Beliau Ayahku. Yang menghidupi saya 24 tahun terakhir. 

Sosok Ayah yang diam tapi keras, jarang omong tapi lugas. Darinya aku mengerti betul tentang kerja keras. Mengingatkan untuk tidur di rumah meskipun yang kita punya hanya kasur sederhana. Dia adalah alasan untuk tetap semangat dalam setiap kesempatan. Untuk tetap bersyukur dan tidak sombong.

Toga menjadi hadiah kado terbesarku untuknya. Dan semoga Ayah cepat sembuh dan sehat sehingga aku masih bisa memberi kado lain dalam kesempatan yang akan datang. Meskipun tak akan cukup segala budi  balasan. Yang paling miris hari ini ialah ketika melihat Ayah yang akan pergi untuk menaruh Truk di gudang. Ayah mengenakan kemeja batik seperti biasanya. Dengan pelan, dia mengancingkan bajunya. Dia masih tetap berusaha dengan tangan kirinya yang bengkak. Ku tawarkan untuk membantu, namun Ayah dengan santai Ayah masih bisa. Aku berlalu untuk mengalihkan kesedihan. Selepasnya aku kembali dan mengantarkan ke teras, aku masih melihat dua teratas kancing bajunya belum terkait. Aku hanya menghela nafas dalam.

Tuhan, seperti doa doaku sebelumnya dan yang akan datang. Jagalah kedua orang tuaku. Berilah mereka kesehatan. Berikanlah aku kesempatan untuk bisa membahagiakan mereka. Apalah yang aku bisa berikan selain doa dan kasih sayang. Tapi semoga ada waktu dan kesempatan di hari lain untuk membalas kasih sayang mereka. Setidaknya untuk mengancingkan baju Ayah, layaknya dia yang mengancingkan seragamku waktu TK.

Jumat, 31 Juli 2015

Tunggu Aku Di Jakarta

"Tunggulah aku di Jakarta itu,
Tempat labuhan semua mimpiku" (SO7, Tunggu Aku di Jakarta)

Mengutip dari lirik lagu milik band legendaris Indonesia diatas, memang sudah lama aku mendambakan merantau ke Ibukota. Bahkan menjadi salah satu misi besar dalam perjalanan hidup. 31 Juli 2015, fix salah seorang teman merantau ke Ibukota untuk melanjutkan studinya. Teman yang bisa di inner circle ku selama kuliah di Surabaya enam tahun terakhir. Setelah Handy dan Malinda, sekarang tinggal aku sendiri yang katakanlah the last man standing in Surabaya. Masih ada beberapa teman memang, namun orang seperti ku yang sangat menghargai pertemanan kehilangan satu lebih sulit dari pada mendapatkan penggantinya.

So saaaad about the farewell. Orang melankolis kayak aku ditinggal dikit langsung mewek. Perpisahan KKN yg satu bulan aku nangis dipamiti anak2 SD. Prograam exchange dua minggu di Thailand dan jadi LO anak2 Korea selama seminggu aku juga mewek waktu perpisahan. Lah ini, temen enam tahun kumpul. Teman buat cfd, teman buat nonton, teman yang nganterin ke bandara dan bungurasih. Teman makan dimsum, dan salah satu teman terakrab dari teman-teman yang lainnya. Intinya ini kehilangan yang dalam.

Yang bikin baper lagi ialah Jakartanya. Kapan aku kesana? Pengen banget sama Ibukota yang katanya kejam, dan penuh dengan tantangan. But I'm ready to conquer the monster. Karena katanya Ibukota bisa menjanjikan sejuta mimpi anak negeri. Karena Ibukota penuh dengan peluang untuk menjawab tantangan. Bahkan ada yang bilang kalau bisa menaklukkan Jakarta akan bisa menakklukkan dunia. That's the point. Aku pengen menakklukkan dunia. Oleh karenanya aku butuh batu loncatan dengan pergi ke Jakarta.

Well, agak kacau nulis ini. Soalnya masih Baper ditinggal temen sama pengen ke Jakartanya. Intinya Jakarta, I'm coming soon!

Minggu, 12 Juli 2015

Sedikit Berbagi

Insyaallah postingan kali ini bukan galau. Yeay! Alhamdulillahirobbil 'alamin. Kemarin 11 Juli 2015 akhirnya inisiatif ku dan beberapa teman (sebut saja lilik, affan, ravi) untuk mengadakan baksos dan buber HIUA 2009 sukses. Pun penuh kejutan dan melebihi ekspektasi. Seneeeeeng banget apalagi bisa berkumpul dengan kawan yang selalu bikin ketawa.

Awalnya emang kita mau ngadain bubernya bersama anak panti asuhan. Setelah disurvey dari tiga panti, semuanya full booked. Apalagi kita memang merencanakan buat hari sabtu agar yang pada kerja bisa nyempetin hadir. Prosesnya sekitaran satu minggu aku dan lilik buat planning. Terus kapan hari buber sama affan ravi juga akhirnya tercetus kalo ya udah nyumbang aja, nanti bubernya di tempat lain buat anak hi sendiri. Fix, ide diterima.

Tersebarlah jarkom di groub line dan beberapa japrian untuk sosialisasi baksos plus buber. Hitungan kasar dan ekspektasiku ialah sekian A. Segala reservasi ke panti dan tempat buber sudah ada di list. Luar biasa memang jalinan ukhuwah para masyarakat Indonesia ini apalagi dengan namanya buber. Singkat kata dapatlah kita tempat buber di dcost kayun. Karena aku cuman butuh jalan kaki 3 menit sampai untuk reservasi dan mengamankan tempat.

Kita sih memang ada 3 list panti yang akan disumbang. Tapi pasti semua juga tergantung dana yang terkumpul. Lilik selalu ku kroscek berapa dana yang sudah terkumpul per hari. Aku yang akan ngobraki sahabat dekat yang dirasa sudah sukses di Ibukota untuk mendonasikan sedikit sedekah. Sampai h-1 alhamdulillah sudah terlampau target sekian A. Dan waw alhamdulillah luar biasa, pas hari H. Bisa sampai double A. Seneng banget berarti bisa ngasih ke 3 pantinya sekaligus.

Hari H sie sibuk, aku affan lilik belanja keperluan yang sudah di list (thanks to Mbak Rizki yang ku wawancara soal harga sembakonya saat di kantor) dari jam 8 dari gresik-jemput lilik di darmo indah-ke rumah affan ambil mobil-sholat di masjid al akbar lantas belanja. Amajing! Kumpul dikampus jam 3, ravi sudah membawa paketan kejutan berikutnya.

Arya Damarjana, kawan kami. Mantan atlit renang berprestasi yang sekarang bekerja di salah satu perusahaan kontraktor di kota yang terkenal dengan Pantai Losari. Waw, he's back and here. Setelah sekian waktu ada mami, tya, rijal, nina dan indra yang terkahir hadir. Cuss kita langsung ke tiga panti. Pertama di Tunas Yatim yang di belakang FK. Lanjut di darul hikmah dan Cahaya Insani di daerah gubeng kertajaya.

Acara baksos kelar lanjut buber di dcost kayun. Tito faris fani confirm hadir dan langsung kesana. Kejutan ternyata datang lagi, dindo datang bukan dengan pujaan hatinya, melainkan dengan Prima kawan kita yang artis dusmash dan telah sukses menjadi pegawai BPJS kesehatan di Kota Tulungagung. Fiuh, kejutan belum berakhir. Waktu aku ke kasir minta bill ternyata Arya sudah disana dengan alasan mau reservasi untuk keluarganya. Dia bohong, dia yang membayar semua buber kita. Shock iya, bersyukur pasti, speechles dan ketenggengen tiga menit juga. Alhamdulillah. Semoga arya rejekinya semakin deras dan di dekatkan dengan jodohnya.

Kami lanjut ke bangikopitiam untuk meneruskan huru hara. Intinya aku bahkan pindah dua tempat lagi sampe kosan jam 2 pagi. Capek iya, bangga iya, terharu sama senyum-senyum sendiri saat di kasur kosan apalagi.

Kurang beruntung apalagi aku dikelilingi oleh orang baik seperti mereka. Gagasan yang awalnya ide kecil-kecilan, dijalani dengan mencuri-curi waktu senggang. Hasilnya memuaskan. Belum jackpot lain dengan hadirnya prima dan arya. Sering kali aku bilang, aku tipikal anak yang tak bisa sendirian. Harta terbaik yang dikirim Allah setelah keluarga ya mereka. Teman! Entah itu dari smp, sma, kuliah, kerjaan. Aku orang yang menghargai setiap nilai pertemanan. Semoga ke depannya acara baim seperti ini tetap bisa berlanjut baik. Dengan niat yang baik dan dilakukan di sekitar orang-orang baik pula.
Alhamdulillah.

Jumat, 22 Mei 2015

I was born to make you happy

Saya merupakan salah seorang yang percaya bahwa punya banyak teman itu menyenangkan.
Bisa bergumbul sana-sini dan ketawa-ketiwi. Terus tiap hari juga bisa ganti tempat nengkri. But, somehow kalo lagi gak mood juga pengennya menyendiri. I need some kind of "me time". Terus juga banyak yang bilang kalo aku moody, iyes. Gondokan, dulu (sekarang mulai ngempet2 buat ngerem). Saya tipikal orang yang mudah bergaul mungkin, tapi kalo udah punya musuh atau gak suka sama si A ya yuk dada babai.
Then, I'm really like to be fun in my circle. Jadi bahan olok-olokan atau malah si pengolok-olok. Itu tadi, rasanya gembira bangeeet. Saya sih jadi mikir akhir-akhir ini, misal orang lain refreshment theraphynya ke tempat-tempat indah atau makan-makan enak, kalau saya mungkin ketemu dengan teman. Kumpul, ngobrol, cerita hahahihi itulah yang bisa merefreshkan segala kepenatan. Like seriously I can bear to hear all of their dirty little talk till morning. Pokoknya seneng aja ketemu temen lama terus begojekan. Meskipun sering kali yang kita bahas ya masalah itu-itu aja.

Eh tapi, saya juga kadang ngerasa kalo terlalu introvert di lingkungan baru contohnya sekarang. Banyak ajakan jalan saya yang masih enggan. Semacam not really ready to become me as my self. Tapi ya butuh waktu emang, pelan-pelan juga akhirnya ketahuan kan saya yang sebenarnya. And then, they always make a jog about me. Thought it only small gimmic. Like maybe I'm always become the clown in my circle. And I'm proud of it.

So, this is me. Semoga sih semoga tetep seperti ini. Easy going and to make others people happy. Itu semacam pahala gitu gak sih? hahahaha.

Minggu, 10 Mei 2015

Kamu pengen jadi apa?

Minggu ini rasanya lelah. Bahkan sempet sakit dua hari. Semacam meriang sih, terus ada panas dan pusingnya dikit. Kalo aku bilang ini efek pancaroba aja. Ku kasih makan tepat waktu juga alhamdulillah kembali bertenaga. Tapi minggu ini rasanya lelah secara jiwa. Biasa lah masalah cita-cita. Harusnya sabtu berangkat ke ibukota buat tes perusahaan listrik negara. Apa daya kalah oleh biaya. Terus juga tengah minggu lupa hari apa, seorang kenalan bilang dirinya udah dapet sms buat tes selanjutnya di salah satu bank islamiyah. Sedangkan aku, tak ada satupun sms masuk di hapd. Yang ada hanya notif line games dan kawan-kawannya dari orang-orang pemburu koin. Cuma menghela napas dalam-dalam.

Sudah bulan mei, kalau dihitung hampir enam tahun disini (Surabaya). Gak pernah nyangka bisa sebetah ini. Sudah beberapa kali aku memang mencoba, namun belum rejekinya. Tapi aku akan terus mencoba mungkin ini menjadi persainganku dengan Agnes Monica. Kalau dia bertarung bikin album internasional, aku berjuang di jalanku demi UMR standart internasional. Semangat ngga.. semangat!

Aku hampir mencoba semua perusahaan, bank sering, perusahaan rokok pernah, penghasil produk perlengkapan mandi pernah, perusahaan otomotif pernah, pns sekali. S2 pengen tapi masih terkendala tak punya toefl, ielts kemahalan.

Emang aku pengen jadi apa? Yang jelas aku pengen jadi diplomat karena jurusanku hubungan internasional. Jadi bankir boleh karena ngurusin duit dan juga bisa kemana-mana. Wartawan atau lebih tepatnya penyiat minat juga karena aku banci tampil. Aku yang jelas pengen kerja yang gajinya mencukupi kebutuhan. Kebutuhan hidup, kebutuhan cicilan motor, kebutuhan memberikan sedikit ke orang tua, kebutuhan untuk sedikit foya2, dan kebutuhan untuk menabung di masa tua. Pengen kerja yang bisa jalan-jalan kemana-mana. Bisa ke kota baru, ketemu orang baru, mencicipi masakan baru, dan sudut pandang baru. Silahkan carikan pekerjaan yang memang seperti itu.

Terus baru aja gak sengaja scrolling page facebook. Banyak update an status dr kawan lama, smp, sma, kenalan asa sapa sampai teman dr mancanegara. Ada yg udah nikah, punya anak dua, ada yg kerja, ada yang masih berjuang foto pake toga. Ada yang ngeluh masalah sepele ada yg pede hanti depe. Intinya aku jadi bersyukur atas apa yang telah terjadi selama ini, alhamdulillah. Panjang dan banyak cerita yang ku punya. Pun demikian aku masih belum merasa puas. Aku masih haus akan prestasi dan banyak misi yang harus diakhiri. Aku harus semangat, harus tetap berikhtiar, banyak doa dan ibadah. Semoga semesta akan mendengar salah satu bisikan dari anaknya.

Rabu, 22 April 2015

Seharusnya

Karena seharusnya a i u e o
Seharusnya aku nulis blog yang lebih banyak kabar gembira
Seharusnya blog ini tidak hanya curhatan kegalauan semata
Seharusnya jangan kebawa emosi yang melelahkan jiwa

Seharusnya lebih banyak bersyukur pada Yang Maha Kuasa
Seharusnya harus tetap selalu tersenyum dikelilingi orang bersahaja
Seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka

Seharusnya tetap semangat mengejar mimpi dan cita cita
Seharusnya jangan mengejar cinta buta
Seharusnya lebih berjuang keras dan jangan putus asa

Seharusnya bisa lebih banyak berolahraga
Seharusnya mengurangi menatap hape dan layar kaca
Seharusnya lebih sering tamasya ke luar kota

Seharusnya lebih banyak meluangkan waktu membaca
Seharusnya gak usah mikirin dia yang tak pernah ada
Seharusnya sadar kalau apa yang terjadi delapan tahun ini bukan karena dirinya semata

Seharusnya jam segini untuk istirahat saja
Seharusnya besok pagi bangun harus lebih bertenaga
Seharusnya kalau berangkat ke kantor tetap dengan jiwa ksatria

Selasa, 14 April 2015

The Best DAMN Thing I Ever Had

Kamu, iya kamu!
Kamu yang hampir selalu menjadi topik bahasan di blog ini. Gak tahu kenapa tapi I feel better if I try write something about you. Entah itu yang negatif atau yang positif. Tapi kamu orang baik yang gak baik buat aku.
Dan lagi, lagi ketika fotomu ganti. Lagi ketika kesabaranku diuji dengan segala alasan dan janji yang tak kunjung tertepati. Capek kayak gini terus, lelah kalau ngarepin sesuatu yang gak bakal pernah terjadi.
"Mau sampe kapan?" kalo kata seorang sohib mengingatkan. Aku juga gak tau.
Tapi kalau bisa secepatnya. Toh dia juga udah lulus juga. Harusnya lebih mudah untukku merelakan semua. Pun selama delapan tahun terakhir doi selalu jadi alesan terkuat dan bagian terbesar dari cerita hidup. Mulai fari milih kuliah sampe milih kerjaan. Doi yang selalu menjadi orang pertama setelah ibu dan ayah yang memperoleh buah tangan ketika aku melanglang.
Serius aku sudah mencoba jauh, atau aku belom begitu usaha untuk ngelepasin semuanya. Merelakan cerita delapan tahun dalam bayang-bayang dia. I have to see the bigger picture of me, about this life. What about the dreams that I want to realize. What about me being me. Aku ngerasa selama di dia justru jadi beda, mungkin gara-gara di perut ada anaconda saat dekat dia. Aku ngerasa kalau misal guyonanku jadi garing karena saking canggungnya aku pas sama dia.
Aaaaaaarrrrgggghhh....
Mau sampe kapan???? Smape Rhoma Irama duet sama David Gueta?
Life must go on! WAKE UP! Percuma aslinya nyari ahli hipnotis buat ngelupain dia. Atau ndengerin lagu galau dan meratapi gimana kalo ini itu dan seandainya begini begitu.
PARAH!
I already have so much time to think, But I still need SPACE!
Pergi jauh dari dia, jarak ribuan kilo selalu aku kira sebagai solusi terbaik. We'll see!
After all, Aku harus bisa jadi aku. Dunia ini begitu luas dan masih banyak kesempatan yang menunggu di luar sana. Semoga aku tidak terlalu rapuh untuk selalu menatap ke belakang. Biarkan memori tetap jadi history. I'm fucking tired to think about YOU!
and you will be you, The Best DAMN Thing I Ever Had

Jumat, 20 Maret 2015

Cheers then make a peace!

Damai.
Kata yang sederhana, terdengar menentramkan dan membahagiakan bagi yang membacanya. Dan kata tersebut terpilih setelah aku memutuskan mengakhiri semua konflik batin beberapa waktu terakhir. Entah berasal dari mana, ujung-ujungnya luluh juga. Karena yang sana menolak bila berpisah begitu saja. Dan lebih baik bila menjadikan saudara. Terserahlah! Aku lelah. Aku turuti permintaannya. Toh sudah pernah berusaha jauh darinya, mungkin memang gravitasi yang kuat membuat semua langkah untuk selalu mundur selangkah lagi.

Yang menarik ialah sempat meminta di hipnotis, namun perasaan ini tetap saja statis. Ingin amnesia namun sangat tak tepat untuk menghapus segala rahasia. Jadi beginilah, kami kembali bersua, entah dalam bentuk apa. Akupun selalu mencari jawaban akan semua pertanyaan. Aku akan tetap berjalan untuk mengirinya. Akan berusaha untuk selalu ada sebagai salah satu tempat sandarannya. Aku akan berkeras hati untuk melihat kebahagiaannya tidak hanya dari sudut pandangku saja.

Semoga kita tetap baik-baik saja. Pun semesta masih memiliki segala teka tekinya entah apa yang akan terjadi diantara kita bersama.

Selasa, 30 Desember 2014

2015 Wish List

2015 tinggal menunggu hitungan jam. 2014 akan segera berlalu, kalender pun tinggal menyisakan satu lembar. Berbagai macam rencana perayaan pergantian tahun baru pun telah tersusun. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya aku menyusun rencana untuk tahun depan. Tahun ini merupakan tahun yang ku jadikan salah satu milestone, mari aku ulas sedikit. Yang paling hingar bingar ialah Sidang Skripsi di bulan Januari, Wisuda bulan Maret. Seminggu kemudian kerja di salah satu bagian pemerintahan kota terbesar kedua di negeri ini. Di luar ekspektasi memang, namun semuanya terjadi begitu cepat dan bisa dibilang tepat. Syukur sudah pasti ku panjatkan dan wajib hukumnya. Hal yang paling menggembirakan yang lain ialah bak mendapat durian runtuh kemudian bisa terbang cuss ke Korea. Tanpa mimpi dan di waktu yang cepat pun tepat. Jadi bila dirangkum kaleidoskop tahun 2014 ini begitu penuh dengan kejutan. Pun demikian sebagai manusia yang lemah maafkan aku masih harus mengeluh. Yang paling membuatku penasaran ialah Kapan aku bisa berkarir di Jakarta? Silly banget yak, hahahahaha. Ya itu PR terbesarku.

Baiklah berikut wish list ku di tahun depan:

Skala prioritas:

- Pasang Behel

Jadi bukan rahasia lagi kalo aku punya tooth gap. Udah lama pengen banget masang, tapi ya karena masang kawat gigi gak semurah masang kawat anthena ya harus nabung dulu. Kemudian alasan lain ialah takut dan lebih ke malu sih kalo ke dokter gigi. Gigi ku ini bukan tumpuk-tumpuk tapi malah jarak antar spasi nya yang kelebihan. Mungkin make double space bukan 1,5 line. Semoga saja sebelum puasaan sudah bisa pasang. Karena bisa membayangkan betapa sakitnya pake kawat, dan kenapa sebelum puasa karena biar jadwal makan gak terganggu. Pengalaman cerita dari teman dan ini nyata bahwa setiap yang pasang behel satu sampe dua bulan kemudian bobot badannya turun drastis. Gegara behel!

- Liburan ke Malaysia or Singapore

Ini sih aslinya juga butuh tabungan yang lebih ya, tapi sudah ku tanamkan dalam-dalam setidaknya setaun sekali boleh lah mencoba suasana baru. Negara baru, mumpung passport belum hangus juga. Keliling ASEAN dulu lah minimal. Kan mau ada AEC (ASEAN Economic Community). Jadi ya sapa tau dapet rejeki lebih. *crossfinger

Investasi Jangka Panjang:

- Lebih Rajin Sholat, 3 S (Sabar, senyum dan semangat), Bisa Ngasih Lebih ke Orangtua.

Sudah sadar umur semakin bertambah, kalo yang diatas urusan duniawi marilah kita pikirkan urusan pasca dunia. Sholat tiang agama. Ya memang aku sendiri bukan sosok alim yang sampe item jidatnya. Tapi setidaknya memperbaiki sikap dan mendekatkan diri pada sang pencipta juga wajib toh. Biar semakin tau apa makna dan guna manusia diciptakan di dunia.

Skala nothing to lose:

-Punya Pacar

Nah kalo yang bagian ini iseng-iseng aja. Karena kapan hari si Ayah menanyakan siapa pacar anaknya ini. well, padahal aku bukan tipe anak yang punya pacar cuma diajak menye-menye. Tapi kan udah saatnya mempersiapkan ke jenjang yang lebih serius. Jadi ya harus dipersiapkan juga lah sedini mungkin. Dalam artian seleksi pendamping hidup yang memang sehati bukan hanya menuruti birahi.

-Dapet Kerja Penempatan di Luar Surabaya

Ini sih udah classic. Udah dri resolusi taun kemaren tapi belum kesampaian. Tapi tentu dalam hati ini sangat pengen punya pengalaman baru, teman baru, dan juga wilayah baru yang ingin di ekspansi.

Thats all. Wish nothing but the best, 2015 please make more surprise for me.