Jumat, 26 September 2014

I Hate

This post to express what I feel right now.
Random feeling about Congress Bill, Indonesian Badminton team in Asian Games, and also my result from Financial Ministry test. I know this is not the first time, I've been here several times. But, I think that today I have grown up and face the reality in this world with keeping my head held hight.

Firs coming into my mind is My result for Financial Ministry recruitment. I got the test on 25 September, and the result is so make me gloomy during this two days. I never imagine that one of the aspect for the test (Tes Wawasan Kebangsaan) that I usually proud of, but the fact that my score only in the edge of passing grade level. So what can i do then? This feeling when I'm feeling lost. Become the looser compare to other my close friend who became the winner (not as mention directly but, their grass is greener than mine). Obviously I'm so sad. So desperately wanted this position so much. Not to compare with another recruitments, but this is my first time to feel that I want this position so much, until I can feel my whole body is shaking and I'm almost cry whenever I said my little prayer that if i got this position it can make my parents proud of me even better not myself. So, what should I do then?

Then in the same day, this country also have another big moments with declaring the bill from congress. And again this is so SUCK! Why they only consider political problem for their sake of their life? Not even think about this whole nation. I'm so sick to know my beloved country devided into two groups that each one of them don't give a respect. We loosing so much energy to tackle our brother in one nation we never get the same vision to lead this nation for our better generation. It's too obvious that every single people in Indonesia so desperately don't trust the congress. But how can the one that we can't trust get so mmuch power to choose the governor or mayor? Come on, as one of the people of Indonesia I feel shame with their political manners.

I love badminton so much, and I'm always become number one fans(as same as another fans of Indonesia Badminton Teams). Our beloved teams now fighting in Asian Games Incheon Korea. Yes I do hope that every single player could do the best and got the gold medals. But again, as our people are educated by judging, mocking, and bullying others so easily so they will never appreciate every single swat that comes from our player. Why we always judging another so easily? despite knowing every single persons have their own struggle. Same with our player, I'm very sure that they fight for the pride of our nation. They give their one hundred even a thousands % of energy. They showing a lot of their spirit, capability and integrity. And we as the people who only can watch them from distant why we always not so supportive in term of sportmanship.

in the end I just wanna say that I hate my self who always complaining instead of prising.
I hate our congress the one that I never vote.
I hate all of the people who can easily judge every one instead of look at the mirror and think do you really perfect!

Selasa, 09 September 2014

Tak Kemana Mana

Gak sengaja nemu lagu ini sekitar dua hari lalu di Soundcloud. Padahal setelah ditelusuri lagu ini sudah ada sekitar empat bulan lau per pertama di upload oleh Tangga. Daaaan, saya sangat suka lagunya. Bercerita akan perpisahan, duh pas banget. Apalagi bagi saya yang melow dan gampang tersentuh. Berasa sedih sekaligus tersenyum bahagia. Dengan segala pertemuan dan jalinan pertemanan, saya merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan banyak orang dan mampu berbagi kisah dan pengalaman.

Terkait dengan lagu ini sendiri, liriknya memang minimalis tapi sangat manis. Kemudian saya juga baru tahu kalau ternyata Tangga akan vakum (tidak berani bilang bubar). Yah, pada akhirnya sama mungkin dengan setiap band ataupun group vocal yang ada di Indonesia, mereka tidak bisa dikatakan dapat bertahan lama. Untuk Tangga sendiri sudah 9 tahun bersama, dan berbagai macam hitsnya selalu menjadi deretan karaoke saya.  Sedih bingits.

Kalau membaca dari tumblr Kamga dan juga pengakuan mereka di Sarah Sechan, sedikit bisa memahami posisi mereka. Mungkin mereka sudah pada tahapan jenuh untuk berkarya, maaf bukan dalam menghasilkan karyanya tapi lebih kepada menghadapi pansa pasar musik Indonesia yang sedang lesu. Toh juga pembubaran ataupun sistem tambal sulam personel sudah sering terjadi di belantika musik tanah air. Kemudian juga sedikit lebih paham bagaimana berkarir di dunia musik itu gak bisa seenak udelnya untuk mengeluarkan hits yang benar-benar ngehits. Karena ada pihak lain yang akan sangat memikirkan konsumen. Kalau ingin mandiri ya berarti indie.

Nah dari gambaran diatas, jadi merasa bahwa seharusnya juga dari diri sendiri harusnya lebih mengapresiasi karya musik anak bangsa. Harusnya gak beli bajakan demi mereka yang juga cari makan. Dinamikanya memang membawa alur pada penjualan digital, namun bermuara pada pembajakan.

Pada akhirnya semoga apapun keputusan TANGGA memang yang terbaik bagi masing-masing dari mereka. Semoga mereka lekas menyembuhkan luka sehingga bisa kembali berkarya. Dan untuk itu di bawah ini lirik lagu terakhir mereka yang selalu saya putar di daftar MP3 saya.

Tak Kemana Mana

By Tangga

Awal cerita yang selalu bahagia
Adalah skenario yang ditawarkan cinta
Namun hanya Tuhan yang tau Kemana
Perjalanan ini kan bermuara nantinya…

Kita sedang bahagia
Jangan buang waktu menerka nerka akhir nya
Tenang aku disini selama kau disisi
Aku bejanji tak ke mana mana

Mungkin saja esok mungkin saja lusa
Mungkin saja dunia sekejab jadi berbeda
Perasaan dan segenap cinta yang kau
Dan yang aku punya

Kan tetap sama . . .

Masa depan yang aku inginkan
Adalah membahagiakanmu
Mulai hari ini…

Bagai bulan dan bintang kita takkan terpisahkan
Kita trus bersama warna kita selalu terang itu jadi pegangan
Janganlah pikirkan masa depan yang jauh
Tujuan masih jauh nikmatilah saat ini
Toh bah kita bersatu kan kupegang tanganmu serta pelukkanku
Cerita nanti biar nanti syukuri ini dulu

Kita sedang bahagia
Jangan buang waktu menerka nerka akhir nya
Tenang aku disini , selama kau disisi
Aku bejanji mulai hari ini hingga tua nanti

Tak kemana mana
Tak kemana mana

Kamis, 04 September 2014

Rumah Bahasa Surabaya

Yep! It's kinda little too late to write about Rumah Bahasa Surabaya. Pardon me, because it just personal reason. Well, let me begin this page to inform you about the background of Rumah Bahasa. Rumah Bahasa is the program from Surabaya City Government (lead by Mayor Tri Rismaharini) to face ASEAN Economic Community 2015. Here we provide self improvement in terms of language skills, computer, and also more knowledge about Labor, investment, trade and cooperation. Because next year we believe that more free flow labor, products, and service will come to Surabaya and other area in Indonesia and ASEAN countries. This is GREAT idea by Surabaya City Government to prepare the people to be ready and steady about next year condition. Plus, this program is totally FREE!

Rumah Bahasa held on 4th February 2014. After seven month from it opened we already have more than ten thousands participants. 250 volunteer and we have 8 different languages. As one of the staff of Surabaya City Government and also one of the person in charge at Rumah Bahasa, I feel blessed and fortunate because of everyday I meet new person, new friends, and also new problems (in term of bureaucracy). Well, I think that if we work in Government especially in Indonesia you will underestimate with what I called "Glembosi". And that was 100 % TRUE. But not for me, because I always manage my time to more useful and avoid that "glembosi". So I can mention that my Boss always said myself that I'm the manager of Rumah Bahasa. But for me, as new comer in this area of work I try to keep humble and don't want to mention this manager position. I prefer as "staff" in Rumah Bahasa. Though my duty in here is almost in all round area (looking for volunteer, participants, manage the operating stuffs). So I am always moving from one side to another side of job. But that problems make me so skillful and I fortunate that all problems finally finish.

Rumah Bahasa not only focus on language training or language mastering. But we also provide another information such as information about ASEAN, about trading and investments and also about cultural differences. Another positive side from Rumah Bahasa and we sholud proud with it is The Volunteer is not paid even only one sen. They dedicate their time to share about knowledge and also skill. We also have Teacher from native speaker. They usually foreign students who came in Indonesia to follow exchange program. We open from Monday till Sunday. Start from 9 am till 9 pm. So, if you really interest with this program and also want to give another contribution to elevate our knowledge I challenge you to joint this program. Let's share if you care.

Rumah Bahasa Address (Komplek Balai Pemuda, Jl Gubernur Suryo)
Find us on Facebook: Rumah Bahasa Surabaya

Kamis, 28 Agustus 2014

Fate (Inyeon) 인연

Like my usual post in this blog, I always share what I feel and what I going through about life. For this time I dedicate this writing for my beloved new friends from Dong Eui University. They are 27 students plus 2 lecturers who came to Surabaya for their Global Service program. As the officer of Surabaya City Government in the Cooperation Division so I have to accompanied them. To travel in Surabaya and also taking care them during their program. It was two week ago. And I never expect to fall too deep with this "short relationship". Because I already became LO for several time. So I think it's gonna be the same and easier for me to handle about everything. And actually I only meet them on weekend. So I truly never imagine that It was so hard to say goodbye with them. Yes I know I'm a melancholy person. Yes, I also understand that I always too easy to impressed by somebody. What I learn from them are they are hard worker, focus, intense, and all out to doing something. So it actually good opportunity for me also to meet them in this life.

The title of this page is similar with the original soundtrack of famous movie in Korea, King and Clown. I never knew it before. But after the performance of Dong Eui delegation at the farewell party and they also did the hand language, it was so blew me away. And now that song always repeated on my phone. Seems that I can't move on. Yes I still can't move on. One more thing, after I know the meaning of this song it's actually the same with my relation to Dong Eui University delegation. So here is the lyrics;

yaksok heyo i sungan i dajinago
dashi bogeh dwenoon kunal
modoon gol boligu kudeh gyoteh soso
namoon gilil gali lango

inyon ilago hajo gobuhal suga obcho
ne sangeh icholom aloom daun nal
toh dashi ool su isool kayo
godal poon salmeh kileh dangshinoon sonmulin gol
i salangi nogsulji anhdolog nul daka bichulkeyo

chwihan doo man nameun jalbatchiman
bijang yolo jali hejo
maji motandeto huhohaji ancho
yongwonhan gon obsunika

munyong ilago hajo kobuhal sugah obcho
ne sengeh ilcholom alumda unal
to dashi ool su isulkayo

hagopun mal man jiman dashinun ashil tejo
mon gil dola man nagedwenun nal
dashin notji malayo

i sengeh motan salang
i sengeh motan inyon
mon gil dola dashi mananun nal
nalul notji malayo

~~~~~~~Translation~~~~~~

Promise me that when this moment’s over and we meet again
That we can put everything in the past and stand by each other
This is what we call fate, it’s something we can’t deny

Will I ever experience another day as glorious as today?
You’re a gift upon this exhausting path of life

I’ll continuously wash and shine our love so it won’t rust away
Our meeting was short like a drunken affair, but it was real
Even though this cannot last, I won’t resent it because nothing is foever

This is what we call fate, it’s something we can’t deny
Will I ever experience another day as glorious as today?
There’s so much i want to say, but you probably already know
When we meet again some time in the future
Please don’t let go again

The love we couldn’t have in this life
The fate we couldn’t live in this life
When we meet again some time in the future
Please don’t let go of me

~~~~~~

So once again I just wanna say that this is the FATE that take me in the short relationship with new friends from Dong Eui University. This also remind me of My other friends also said that joining the exchange program or scholarship program is like the sweet dream. Sweet as we together during all of the program. But after the program is over, we have to face reality and then back to normal life. Just like we wake up and then the life must go on. So, my friends in Dong Eui University I hope that we could meet again one day. In this life or another life. But I am very fortune to meet you and having fun during all of the time that we spent together. Saranghae Dong Eui Dae. Anyeong~~

Rabu, 20 Agustus 2014

Enam Sembilan Indonesia Merdeka

Jadi memang ada niat khusus mengapa pada judul bab ini saya menuliskan angka enam sembilan dengan huruf bukan angka. Agar terkesan lebih sopan daripada dituliskan 69 (if you know what I means). 6 dan 9 menjadi simbol angka yang katanya kalo enam dibalik jadi sembilan, begitu juga sebaliknya. Sehingga banyak undian atau lotre yang menggunakan tanda garis bawah pada angka enam agar tidak tertukar dengan angka sembilan. Nah disini saya cerita sedikit bagaimana pengalaman tujuh belasan agustus saya tahun ini dan kenapa saya memilih simbol enam sembilan.

Jadi ceritanya tujuh belasan saya tahun ini, saya tidak ikut upacara bendera, pun tidak melihat pemuda-pemudi paskibraka di media, dan tidak pula berlomba makan kerupuk atau panjat pinang dengan hadiah utama sepeda. Tujuh belas agustus tahun ini saya sedang menemani delegasi Dong Eui University Korea yang sedang ada study banding di Surabaya. Pada hari minggu 17 Agustus 2014, agendanya ialah mengunjungi Surabaya International School. Jadi disana ceritanya ada perayaan sendiri dari seluruh warga Korea yang ada di Surabaya. Mereka berasal dari berbagai macam usia. Ada yang sekeluarga bawa asisten rumah tangganya pula. Ada nuna-nuna Korea yang pamer paha, ada pula oppa-oppa yang mahir bermain basket dan bermain bola. Nah, suasana yang sangat kontras, saya merasa terasing di sana. Benar-benar baru pertama kali merasa bahwa saya "terjajah" di negeri sendiri. Ternyata meskipun saya masih di Surabaya ternyata ada perasaan tersesat, tak ada kawan, terasing, dan menjadi yang paling hitam diantara segerombolan yang putih. Saya merasa menjadi pusat perhatian tiap geser tempat duduk. Menjadi alien ketika harus bercakap-cakap dengan orang yang merasa bukan bahasa ibunya. Miris dan rasanya teriris. Sungguh tidak pernah membayangkan bagaimana sakitnya menjadi asing di negeri sendiri. (Pun memang ini karena tempatnya di International School)

Jadi saya artikan bahwa ini pengalaman pahit sekaligus pembelajaran bagi saya. Bagaimana kalau dengan cara ini ternyata malah menimbulkan rasa kangen akan celotehan anak kecil, pisuhan bujang bujang, dan nyinyiran ibu-ibu di gang belakang. 69 saya artikan sebagai simbol jungkir balik. Jungkir balik untuk tetap bekerja keras. Kerja, kerja, kerja! Dan semakin kesini saya semakin sibuk (sombong dikit). Saya merasa lingkungan kerja yang sekarang memang menuntut saya untuk produktif. Apalagi Bos Abah, yang sepertinya mendidik saya untuk tidak terjebak ke dalam sistem atau lingkungan yang glembosi. Amin lah, saya juga ingin terus berkarya dan berlatih agar skilfull. Saya yakin bahwa semuanya sudah ada yang mengatur. Pun dengan ikhlas, imbalan yang diraih dalam pekerjaan bukan tebalnya isi kantong. Tapi bidadari cantik di surga layaknya yang dikatakan para pengebom. So, I'm very grateful for all of the events that happen to me. And I still believe that maybe one day, I will be in the right time, place, and also position.

Cheers!

Senin, 04 Agustus 2014

Yang Udik Yang Mudik

Sebelumnya saya ucapkan Minal Aidin Wal Faizin pada semua pembaca. Masih menyambut suasana Idul Fitri, postingan ini hadir untuk lagi-lagi bercerita tentang pengalaman pribadi saya dan dari sudut saya. Tanpa bermaksud untuk menyudutkan atau meremehkan pihak lain (Merasa terlalu provokatif dengan judul).

Jadi tahun ini saya mudik. Ke Rembang tentunya. Ini merupakan kedua kali saya merasakan menjadi salah seorang pemudik, dalam hal bukan sebagai mahasiswa. Jadi dalam pandangan saya, mudik itu harus ada membawa sesuatu untuk orang yang dirumah. Kalau mahasiswa kan statusnya pulang kampung dan belum bisa membawa apa-apa. Lumayan bangga juga sih, karena tahun kedua mampu memberikan sedikit kepada orangtua, adik, keponakan dan handai tolan. Bahkan lebih kerasa lagi mudiknya dengan memakai motor dan menempuh tiga jam perjalanan plus printilan yang harus dibawa. Mudik yang "udik" banget memang. Dengan membonceng Ibu, mengarungi jalanan Pantura dengan segenap buah tangan yang tak layak aslinya bila diabaikan. Sehingga mudik tahun ini memang lebih kerasa karena akhirnya saya sama seperti pemudik khususnya yang beroda dua yang membawa barang berbusa-busa dan menempuh jarak yang melunglaikan raga.

Yang unik menurut saya, pun dijaman kemajuan teknologi informasi sekarang ini ritual mudik masih dan bahkan harus tetap dijalankan oleh setiap perantauan. Kalau alasannya untuk menjalin silaturahmi, HP sudah cukup mewakili dengan setiap layanannya. Namun yang mejadi khas dari mudik ialah, menurut saya hal ini juga dilambangkan dengan kesuksesan. Sukses karir dan dari segala jerih payah yang mampu dibanggakan di kam pung halaman. Pun hal ini dimaksudkan positif bahwa dengan setahun bekerja keras setidaknya pencapaian yang telah diraih laik untuk dikabarkan kepada handai taulan di kampung. Pun menurut data statistik yang saya baca bahwa setiap tahun jumlah pemudik semakin bertambah. Ya, menunjukkan bahwa penduduk Indonesia yang terus bertambah, ya memang arus pertumbuhan urbanisasi semakin membara, ya bahkan bisa dikatakan kondisi ekonomi di Indonesia semakin memungkinkan masyarakatnya untuk bisa kembali ke rumah dengan segenap rejeki yang diraihnya. Sehingga semakin sedikit Bang Toyib yang tak pulang tiga kali puasa tiga kali lebaran. Karena Bang Toyib bisa pulang setahun sekali.

Selain mudik untuk menemui handai taulan, yang tidak kalah menarik ialah Reuni di setiap perayaan idul fitri. Memang mungkin ini bukan satu-satunya waktu yang bisa dijadikan alasan untuk berkumpul, namun memang kembali lagi momen lebaran merupakan yang paling ramai untuk berkumpul sejumlah kawan lawas. Bagi saya yang anaknya hiperaktif di segala bidang, idul fitri yang libur tujuh hari rasanya masih kurang untuk menemui setiap kawan. Hari pertama kedua saya manfaatkan untuk keluarga. Hari ketiga untuk teman sekelas saat SMA, hari keempat kembali untuk keluarga yang berkunjung ke rumah, hari kelima masih untuk teman SMA yang sisanya, hari keenam untuk sahabat terdekat, bahkan sampai hari ketujuh masih ada untuk teman-teman pramuka (disempetin karena bertemu mantan terindah). Pun saya masih belum bisa mengunjungi atau bertemu dengan teman SMP atau teman kos semasa SMA. Well, memang rasanya kurang terus. Saya sih bangga dengan pencapaian saya menjadi anak yang punya banyak teman, bersosialisasi disana-sini. Bahkan Ibu dan Ayah juga tak jarang geleng kepala anaknya malah jarang di rumah. Namun sekali lagi ini memang momen untuk kembali ke fitri, selain itu juga momen untuk memperkuat tali silaturahmi. Saya tipikal orang yang menjunjung tinggi nilai silaturahmi tersebut, namun pabila ada yang saya blacklist dari lingkaran kehidupan saya ya berarti orang tersebut memang sudah keterlaluan, saya sih masih berusaha menjadi manusia pemaaf. Ya mereka yang saya blacklist saya maafkan. Tapi untuk kembali dekat dengan saya rasanya masih mikir-mikir lagi.

Sekali lagi selamat hari raya, meskipun  libur sudah tiada mari kembali bekerja. Semangat untuk kesempatan-kesempatan berikutnya. Demi mudik yang lebih terdidik.

Senin, 21 Juli 2014

Sewindu VS Seminggu

Masih galau... iya
Masih nyesek... emang
Masih tertohok... he'eh
Masih sakiiiit... pastinya

Diiringi dengan lagu dari Tulus yang berjudul Sewindu, terus aku ngitung kalo ternyata ini juga jalan seminggu lebih keadaanku seperti prolog yang diatas. Berasa nge-blank aja sih dengan yang ada di sekitar. Pun rasanya hambar dan kasihan teman serta pekerjaan sekitar yang rasanya cuma numpang lalu lalang. Am I too desperate? yes maybe!

Pun dengan kegirangan perayaan usia dua tiga, rasanya masih hampa. Ada lubang di hati yang tak mampu menutupi. Bayangin orang yang selama ini selalu ada selama delapan tahun terakhir, selalu ada di tiap sms, wa, bbm, dan apapun jenis chat pasti dia yang teratas. Ataupun orang yang selalu ada nomer hp-nya di setiap HP saya yang berbeda setelah ibuk dan ayah.

Tetiba kapan hari dia yang bbm terlebih dahulu dan menanyakan kabar dan basa  basi babibu. Setelah membesarkan hati dan jiwa serta segenap perasaan yang ada akhirnya ku balas juga (Sebelumnya bbm dan sms dia tak ku balas, pun ucapan terimakasih atas ucapan selamat ultah). Masih agak stres melihat setiap kata yang ada di layar HP, masih miris kalo ternyata di PHP. Terus berakhir dengan perdebatan seperti sebelum-sebelumnya. Lagi, ku balas saja bahwa memang aku yang salah ataupun kalah.

Pengen move on, tapi idup masih gini-gini aja. Pengen hilang akal, tapi ditakut gila dan dan gak inget sama keluarga. Pengennya amnesia parsial cuma lupa sama doi yang selama ini ada di delapan tahun kehidupanku yang nyata. Pengen nge-del semua kontak dan social media dengan dia tapi gak boleh memutus silaturahmi kata Agama.

Terus aku kudu piye? Kudu piye?
Karena ini idup, bukan instagram yang cuma klik dua kali bisa ngasih hati.

asdfghjkl
qwertyuiop

Kalo cuma diem aja gak bakal menghapus masa lalu, yaudah aku pengennya lari. Lari mengejar cita-cita, demi ambisi dan mimpi. Demi menikmati idup yang lebih berseri!